Panitera Pengadilan Agama Kota Depok, Entoh Abdul Fatah
Panitera Pengadilan Agama Kota Depok, Entoh Abdul Fatah

DEPOK–Menjalin bahligai rumah tangga hingga tutup usia, merupakan impian setiap pasangan suami istri. Namun, tak sedikit pula pasangan yang mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungan rumah tangga dengan kata cerai, salah satunya di Kota Depok.

Tak tanggung-tanggung, angka perceraian di Kota Belimbing ini menembus angka 3.704 dalam kurun waktu Januari hingga Desember 2017.

Panitera Pengadilan Agama Kota Depok, Entoh Abdul Fatah mengatakan, angka tersebut menunjukkan peningkatan, jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya 3.438 kasus.

“Memang kenaikannya cukup drastis, ini saja belum selesai di rekap semua, jika ditotal kemungkinan bisa mencapai 3.800-an di tahun ini,” kata Entoh saat ditemui Radar Depok diruangannya, Rabu (27/12).

Tingginya angka perceraian tersebut, membuat Kota Depok menduduki urutan kedua jumlah kasus cerai terbanyak se-Jabodetabek setelah Kabupaten Bogor. Sedangkan se-Jawa Barat Kota Depok menduduki posisi kesembilan.

“Paling banyak kasus perempuan yang mengajukan cerai atau cerai gugat, presentasenya mencapai 70 persen dari kasus yang ada,” lanjutnya.

Jika dihitung perbulannya, lanjut Entoh, dapat dirata-ratakan ada 25 hingga 30 orang yang bercerai di Kota Depok. Usia terbanyak yang melakukan perceraian mulai dari usia 30 hingga 35 tahun. Menurutnya usia tersebut memang sangat rentan mengalami keretakan rumah tangga.

“Secara biologis usia segitu sedang fasenya akan masuk ke masa puber kedua, jadi biasanya emosi meningkat,” lanjutnya.

Entoh menyebutkan, dari 11 kecamatan di Kota Depok, data Pengadilan Agama pertahun 2017 yang banyak melakukan perceraian adalah Kecamatan Tapos, Kecamatan Cimanggis, dan Kecamatan Pancoranmas.

“Paling tinggi didominasi karna perselisihan, kedua faktor ekonomi, ketiga ditinggal kabur dan terakhir KDRT,” katanya.

Sementara itu, tingginya angka perceraian di Kota Depok membuat Kementerian Agama (Kemenag) Kota Depok, menggencarkan program Bimbingan Perkawinan (Binwin). Dengan target keseluruhan merupakan pasangan yang hendak melangsungkan pernihakan.

Kepala Seksi Binmas Kemenag Kota Depok, Umar Nasir Assubhi mengatakan, tingginya angka perceraian yang masuk Pengadilan Agama Kota Depok dalam kurun waktu Januari hingga Desember 2017 membuatnya khawatir.

“Kami mengupayakan agar dapat mengantisipasi perceraian tidak terus meningkat di Kota Depok,” kata Umar saat ditemui Radar Depok diruangannya.

Umar menambahkan, pihaknya menargetkan dalam satu tahun ini ada 1500/750 pasang calon pengantin yang dibagi dalam 25 gelombang dan dilaksanakan di masing-masing Kecamatan dan Kantor Kemenag Kota Depok.

“Pasangan tersebut diambil dari pasangan yang baru mendaftar di KUA dan belum melaksanakan pernikahan,” lanjut Umar.

Selain angka perceraian tinggi, lanjut Umar, landasan pelaksanaan binwin tersebut sebagai modal awal calon suami istri untuk menjalankan bahligai rumah tangga. Adapun pelaksanaan Binwin ini dilaksanakan selama dua hari yang diisi dengan berbagai materi.

Materinya antara lain Pondasi kokoh keluarga sakinah yang difasilitasi oleh Kemenag Kota Depok, cara Menangani konflik dari Badan Penasehat, Pelestarian, Pembinaan Perkawinan (BP4), Alat Reproduksi dari dinkes Kota Depok, menceetak generasi penerus berkualitas dari Disdik Kota Depok, Keluarga berencana (PLKB). (ade)