AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK BERSEJARAH : Warga sedang berada di dekat Tugu Cornelis, Rumah Sakit Harapan, Jalan Pemuda, Kecamatan Pancoranmas.
AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
BERSEJARAH : Warga sedang berada di dekat Tugu Cornelis, Rumah Sakit Harapan, Jalan Pemuda, Kecamatan Pancoranmas.

DEPOK – Belakangan polemik bangunan tua peninggalan Belanda yang terletak di komplek rencana proyek pembangunan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), turut menyita perhatian publik Kota Depok maupun khalayak umum.

Pasalnya, akibat akan diadakannya proyek pembangunan yang terletak di lahan milik RRI di Kelurahan Cisalak, Sukmajaya tersebut, akan menggusur bangunan tua yang diketahui bernama Rumah Cimanggis dan sarat akan sejarah tersebut.

Namun, rupanya tak hanya Rumah Cimanggis peninggalan Belanda yang masih kokoh berdiri di Kota Depok. Masih banyak lagi bangunan yang berdiri sejak abad 18 dan bahkan lebih tua usianya dibandingkan dengan Rumah Cimanggis.

Sejarahwan dari Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC) Kota Depok, Ferdy Jonathans mengatakan, ada sedikitnya enam bangunan bersejarah yang terletak di Kota Depok dan beberapa terpusat di Jalan Pemuda, Pancoranmas.

“Semua bangunan itu merupakan peniggalan Cornelis Chastelein warga belanda yang merupakan Presiden pertama Depok sebelum kemerdekaan,” kata Ferdy.

Adapun bangunan tua tersebut antara lain, Rumah tua di jalan Pemuda yang kini dijadikan Kantor YLCC, Gedung Eben Haezer yang merupakan gedung pertemuan pada zamannya, Gereja GPIB Imanuel, Sekolah pribumi zaman belanda yang kini ditempati SDN Pancoranmas 2, Istana Presiden Depok yang kini ditempati RS Harapan, Rumah Presiden terakhir Depok, kuburan tua kamboja, lapangan bola, Jembatan Panus dan Rumah Tua Pondok Cina.

“Namun, selama 16 tahun berjalan Pemerintah Kota Depok, belum pernah merangkul kami (red; YLCC) untuk membahas perawatan dan pemanfaatan bangunan bersejarah ini,” lanjut pria yang menjabat sebagai Koordinator Bidang Aset pada YLCC tersebut.

Padahal, Ferdy mengklaim, pihaknya sering menyodorkan proposal kepada Pemerintah Kota Depok untuk merevitalisasi bangunan bersejarah di Kota Depok untuk kemudian dijadikan cagar budaya. “Tapi ya begitu lah, mereka kurang peduli. Tahun 2014 aja saya mau bangun tugu di RS Harapan yang sempat dihancurkan,” katanya.

Permasalahan tersebut, kata Ferdy karena monumen tersebut berbau sara dan berbau Belanda yang notabene merupakan penjajah pada zaman dulu. “Tapi akhirnya berhasil dibangun, dimulai dari jembatan panus,” bebernya.

Ferdy mengatakan, selama perjalanan waktu hanya pihaknya yang mengupayakan agar bangunan tersebut tetap terpelihara dan menjadi catatan sejarah di Kota Depok. “Salah satu upayanya dengan menyewakan bangunan tersebut,” jelasnya.

Setelah adanya kasus Rumah Cimanggis, lanjut Ferdy, baru Pemerintah Kota Depok sering mengajak bicara pihaknya.

“Minggu lalu, Disporyata Kota Depok mengajak kami untuk mencoba tahun depan merapihkan situs-situs sejarah di Depok, dimulai dari bangunan yang terletak di Kelurahan Depok, Pancoranmas,” bebernya.

Ferdy mengatakan, kawasan Jalan Pemuda saat ini telah terdaftarkan pada Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kemendikbud RI. “Dan segera akan masuk dalam kajian oleh tim ahli cagar budaya nasional,” ujar dia.

Anggota Komisi D DPRD Kota Depok, Lahmudin Abdullah mengatakan, hal tersebut merupakan bentuk keteledoran Pemerintah Kota Depok dalam menjaga aset bersejarah Kota Depok. Padahal, itu merupakan kewajiban pemerintah kota.

“Pemerintah harus menginventarisir semua aset budaya yang ada di sekitar Depok, terlepas itu bangunan Belanda, itukan punya nilai historis,” kata Lahmudin kepada Radar Depok.

Lahmudin mengatakan, secara regulasi memang belum diperkuat terkait pelestarian cagar budaya yang ada di Kota Depok, namun, hal tersebut bisa disampaikan dari masyarakat sekitar kepada DPRD Kota Depok untuk dibuatkan raperdanya.

“Belum ada (perda), tapi raperda itu bisa dari inisiatif masyarakat yang di sampaikan ke legislatif atau usulan pemerintah,” pungkasnya. (ade)