AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK             KREATIF : Sejumlah siswa Madrasah Internasional Technonatura sedang mengoperasikan robot saat berada di sekolahnya di Jalan Komplek Griya Tugu Asri Blok E, Kelurahan Tugu, Cimanggis.
AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
            KREATIF : Sejumlah siswa Madrasah Internasional Technonatura sedang mengoperasikan robot saat berada di sekolahnya di Jalan Komplek Griya Tugu Asri Blok E, Kelurahan Tugu, Cimanggis.

 Madrasah Internasional TechnoNatura menjadi salah satu varian layanan madrasah kepada masyarakat. Sudah banyak madrasah yang dinilai unggul, berkualitas dan sekaligus unik. Seperti Madrasah Amanatul Ummah di Surabaya dan Pacet asuhan Dr. KH. Asep saefuddin Halim, serta MAN Insan Cendekia di Serpong, Gorontalo dan Jambi. Hal ini turut mengikis anggapan bahwa madrasah adalah pendidikan nomor dua dan kurang bergengsi.

 

LAPORAN : ADE RIDWAN YANDWIPUTRA

 Madrasah Internasional TechnoNatura dapat menjadi kebanggan disaat ketidakberdayaan bangsa ini mengelola pendidikan yang berkualitas dan terjangkau oleh masyarakat. Madrasah ini berdiri di bawah Yayasan Centre for Research on Education, Arts, Technology and Entrepreneurship, (CREATE) Foundation yang berdiri pada tanggal 22 Juli 2004.

CREATE Foundation, bergerak di bidang pendidikan dan kesejahteraan masyarakat. Pendiri Create Foundation adalah para insan sains dan teknologi yang menyadari pentingnya pendidikan yang progresif bagi anak bangsa untuk kemajuan bangsa di masa depan.

“Mereka adalah Ketua Pembina Yayasan, DR-Ing Ilham Habibie, dengan Ir. Veni Zano sebagai anggota, DR. A.Riza Wahono BEng MSc, Executive Director, DR. Ir. Adhi Sudadi Sumbaghiyo, Vice President, DR. Ir. Ismail Syarif, MSc, Sekretaris, DR. Fetri Miftach BEng, Bendahara dan DR. Ir. Agus Hasan Reksoprodjo sebagai Pengawas,” kata Kepala MA Technonatura, Rustam Ibrahim saat berbincang dengan Radar Depok di kantornya, Senin (8/1).

CREATE Foundation memiliki cita-cita mulia dan strategis, yaitu: Pertama, mewujudkan sistem dan iklim pendidikan yang demokratis dan berkualitas guna mewujudkan bangsa yang berakhlak mulia, kreatif, inovatif, berwawasan kebangsaan, cerdas, sehat, disiplin bertanggung jawab, terampil, serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kedua, mewujudkan kehidupan sosial budaya yang berkepribadian, kreatif, ekspresif, dinamis dan berdaya tahan terhadap pengaruh globalisasi; Ketiga, meningkatkan pengamalan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari untuk mewujudkan kualitas keimanan dan ketakwaan pada Tuhan Yang Maha Esa dalam kehidupan dan mantabnya persaudaraan antara umat beragama yang berakhlak mulia, toleran, rukun dan damai.

“Keempat, meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang produktif, mandiri, maju, berdaya saing, berwawasan lingkungan dan berkelanjutan dalam rangka memberdayakan masyarakat dan seluruh kekuatan ekonomi nasional terutama pengusaha kecil, menengah dan koperasi,” lanjut alumni IPTN (yang kini bernama PT. Dirgantara Indonesia) tersebut.

Rustam menyebutkan, saat ini Madrasah Internasional TechnoNatura terdaftar sebagai salah satu institusi pendidikan Madrasah formal dibawah Kementerian Agama sejak tahun 2012. Saat awal didirikan yakni tahun 2004, Madrasah ini menggunakan metode Home Schooling dengan segala keterbatasan.

“Secara resmi kami beridiri tahun 2004, tapi tahun sebelumnya yaitu 2003 kita lakukan research karena ada permintaan dari Ilham Habiebie, selaku pembina yayasan,” lanjut Rustam.

Saat itu, ia bersama kawannya, Riza Wahono yang kini menjabat sebagai Executive Director Create Foundation, melakukan research tentang sekolah yang cocok pada abad ke-21. Hingga menemukan salah satu sekolah alam dengan metode kurikulum berbasis kompetensi di Alaska, Negara Bagian Amerika Serikat.

“Menurut kami ini sangat cocok untuk diterapkan di Indonesia. Karena pada tahun itu, Indonesia sedang menggodok tahap awal kurikulum berbasis kompetensi, sedangkan sekolah ini telah menggunakan kurikulum tersebut,” lanjut Rustam.

Sekolah tersebut bernama Chougach School. Rustam mengatakan, alasan dirinya menjadikan sekolah tersebut sebagai referensi, karena sekolah tersebut dirasa menarik. Sekolah tersebut berada di lokasi yang antah berantah (in the middle of nowhere). Selain itu, dalam menuju sekolah tersebut, tak sedikit halangan siswa karena kondisi cuaca entah karena badai, salju dan sebagainya.

“Pokoknya sekolah ini sangat remote sekali. Dan banyak siswanya yang hendak kesana sering terhalang, nah karena kondisi itu, sekolah akhirnya memaksa untuk membuat sistem jika anak terpaksa tidak hadir ke sekolah namun tetap bisa belajar,” beber Rustam.

Lebih jauh Rustam mengatakan, terlebih sekolah tersebut merupakan sekolah yang mendapatkan award tertinggi di bidang kualitas di Amerika Serikat. Pihaknya kemudian mempelajari, dan menyesuaikan metode tersebut dengan kondisi di Indonesia.

“Tapi ketika kita mau mengadopsi ke Indonesia tahun 2003, mereka menyuruh bayar cukup mahal. Tapi beruntungnya, tahun 2004 tiba-tiba dia ngirim surat ke kita dan menyatakan silahkan ambil, karena kami mendapatkan dana dari bill gates foundation,” lanjut Rustam.

Rustam dan kawan kawan seperti mendapatkan angin segar, dan langsung mengurus segala keperluan agar sekolah tersebut dapat berdiri. Hingga pada tahun ajaran baru di tahun 2004 sekolah tersebut resmi berdiri dibawah naungan Kementerian Pendidikan.

“Awalnya sekolah kami home schooling, kita belajar di masjid darussalam dan rumah pak rizal, Awal siswa hanya 18 anak dari para pendiri dan anak lingkungan komplek,” kata Rustam.

Dengan metode yang hampir sama dengan sekolah di Amerika tersebut, yakni konsep penggabungan technology dan alam. Rustam mulai meniti perlahan demi perlahan sekolah terbarukan tersebut.

Namun, karena metode home schooling yang digunakan pada saat itu, jika siswa madrasah ini ingin melanjutkan studi ke PT maka harus mengikuti ujian Paket C.

“Kejadian ini bertahan hingga tahun 2012 dan diambil menjadi dibawah naungan Kemenag RI,” kata Rustam.

Perjalanan tersebut tak semudah itu, karena kegigihan dalam pembelajaran dan latihan, pada tahun 2008 TechnoNatura mengikuti sebuah lomba robotik tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Kemenkominfo bekerjasama dengan Kemendikbud, hingga memperoleh juara umum.

“Pas kita ambil hadiah, ada salah satu pejabat yang kaget nama madrasah tapi tidak terdaftar di kemenag RI,” lanjut Rustam.

Sampai akhirnya, kata Rustam, Kemenag RI mendatangi pertama kali TechnoNatura pada tahun 2010. Singkat cerita pada tahun 2012 TechnoNatura dibawah Kemenag RI, hingga saat ini. (bersambung)