AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK MEMBERIKAN KETERANGAN : Sejumlah perwakilan dari RSIA Bunda Auliyah memberikan keterangan pers terhadap wartawan mengenai informasi yang beredar di media sosial mengenai penahan bayi yang baru dilahirkan, kemarin.
AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
MEMBERIKAN KETERANGAN : Sejumlah perwakilan dari RSIA Bunda Auliyah memberikan keterangan pers terhadap wartawan mengenai informasi yang beredar di media sosial mengenai penahan bayi yang baru dilahirkan, kemarin.

DEPOK-Seorang ibu bernama Leni Marlina dikabarkan meninggal dunia usai melahirkan anaknya ke delapan di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Aliyah, Kelurahan Depok, Pancoranmas, belum lama ini.

Nyawanya ibu tidak tertolong lantaran mengalami kejang-kejang selepas di caesar. Tapi beruntung, bayinya bisa diselamatkan dengan diberikan perawatan intensif.

Berdasarkan keterangan pihak rumah sakit, biaya persalinan dengan cara caesar mencapai Rp18 juta. Namun, keluarga almarhumah tidak mampu membayarnya uang persalinan. Dari kejadian ini, beredar ramai pesan berantai bahwa pihak RS menahan bayi almarhum lantaran tidak membayar biaya persalinan.

Menyikapi hal tersebut, RSIA Aliyah menepis jika informasi yang beredar bayi ditahan, tidak benar. “Tidak benar kalau ditahan. Yang benar adalah kondisi sang anak belum bisa dipulangkan, karena masih dalam perawatan NICU,” kata Direktur RSIA Aliyah, Siti Khodijah, kepada Harian Radar Depok, kemarin.

Ia menjelaskan, selama pemeriksaan hamil, pasien tidak pernah melakukan pengecekan kehamilan di rumah sakit yang bersangkutan. “Pasien mengalami pendarahan,” katanya.

Pihaknya tidak pernah mempersoalkan biaya persalinan secara caesar. Rumah sakit melakukan penanganan secara prosedural. “Kami membantah kalau ada penagihan masalah biaya. Untuk biaya pasti semua rumah sakit diawal akan meminta biaya, namun karena pasien warga Depok maka semua dapat ditanggung oleh pemerintah,” bebernya.

Sementara, Dokter Spesialis Kebidanan dan Penyakit Kandungan RSIA Aliyah, Irwan mengungkapkan, pasien datang dalam kondisi kandungan keadaan gawat darurat. Pasien keracunan kehamilan. Untuk kondisi bayi saat ini sudah baik. Oksigen juga sudah dilepas. Bayi saat ini berada di ruang NICU, sedangkan ibunya meninggal di ruang ICU. Saat operasi caesar stok darah tidak ada. “Operasi ketika itu butuh waktu satu jam,” jelasnya.

Atas kejadian ini Pemerintah Kota Depok pun memberikan bantuan pada keluarga Leni melalui dana bantuan sosial (Bansos) atas biaya perawatan dan kelahiran almarhum.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok, Noerzamanti Lies Karmawati menambahkan, saat ini bayi almarhum hingga kini masih berada di ruang NICU. Bayi tersebut harus menjalani perawatan intensif. “Bayinya harus mendapatkan perawatan jadi masih di RS,” tuturnya.

Menurut Lies, sebelum menghembuskan nafas, almarhum melahirkan anak kedelapan. Leni ditangani dengan baik di RS Bunda Aliyah. Namun karena dia termasuk dalam kategori beresiko tinggi, akhirnya Leni menghembuskan nafas terakhir.

“Pelayanan yang diberikan RS sudah baik dan prosedural. Dia termasuk ibu dengan resiko tinggi melahirkan. Seharusnya dilakukan AMC saat hamil, namun itu tidak dilakukan oleh almarhumah,”tutur Lies.

Almarhumah kata dia, warga Depok ber-KTP dibantu oleh Pemkot Depok. ”Iya almarhum dapat bantuan dari Pemkot untuk meringankan beban biaya RS,” kata dia.

Masih di lokasi, suami Zaini (42) warga RT01/15 Kecamatan Pabuaran, Citayam, Kabupaten Bogor menegaskan, tidak ada penahanan bayinya di RS tersebut. Melainkan ditangani secara intensif guna menyelamatkan kondisi bayinya usai dilahirkan dengan cara dicaesar.

Tidak hanya itu, kata dia, almarhumah memang dalam keadaan lemah usai melahirkan dan mengalami kejang-kejang sehingga meninggal dunia.

“Istri saya sudah delapan kali melahirkan. Ini anak saya yang kedelapan lahirnya pada 2 Januari lalu,” kata dia. (irw)