AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK             BERISTIRAHAT : Pengemudi ojek online sedang beristirahat sambil menunggu order penumpang di kawasan Jalan Lingkar Akses Universitas Indonesia, kemarin.
AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
            BERISTIRAHAT : Pengemudi ojek online sedang beristirahat sambil menunggu order penumpang di kawasan Jalan Lingkar Akses Universitas Indonesia, kemarin.

DEPOK – Maraknya transportasi online dewasa ini, turut menambah deretan pilihan transportasi publik di masyarakat. Terlebih perkembangan zaman yang membuat masyarakat membutuhkan kecepatan dan kenyamana dalam aktifitasnya.

Namun, tak sedikit persoalan yang ditimbulkan dari datangnya transportasi model baru tersebut, terlebih soal ketertiban lalu lintas, salah satunya di Kota Depok. Tak sedikit kesemerawutan yang ditimbulkan akibat belum didukungnya sarana dan prasarana dari transportasi kekinian tersebut.

Sekretaris Dinas Perhubungan Kota Depok, Yusmanto mengatakan, belum adanya peraturan daerah di Kota Depok yang mengatur soal transportasi online tersebut merupakan salah satu kendala dalam menata trasportasi publik berbasis internet tersebut.

“Di Depok belum ada, tapi kalau terkait ketertiban lalu lintas dan sebagainya dapat digunakan perda yang sudah ada,” kata Yusmanto saat dikonfirmasi Radar Depok, Minggu (7/1).

Jika pelanggaran Lalu lintas dapat digunakan UU Lalulintas dengan petugas kepolisian sebagai penegak hukumnya. Sedangkan untuk ketertiban umum dengan parkir sembarangan dan sebagainya, dapat digunakan Perda Kemanan dan Ketertiban Umum Kota Depok, dengan Satpol PP sebagai pelaksananya.

“Bisa menggunakan perda lain, sembari menunggu aturan yang mengatur itu,” katanya.

Pantauan Radar Depok, banyak tempat-tempat yang dijadikan tempat mangkal  dadakan para pengemudi Ojek online ini. Salah satunya di Fly Over Universitas Indonesia. Tak sedikit para pengemudi online mulai dari pengojek motor hingga mobil yang mangkal disana.

Menanggapi hal tersebut, Pengamat Kebijakan Transportasi Publik Universitas Indonesia, Lisman Manurung mengatakan, layanan online itu sudah merupakan keniscayaan. Dengan adanya teknologi yang menyatukan komunikasi dan informasi, maka seluruh proses komunikasi serasa cuma berjarak 1/2 meter padahal terpisah oleh macam-macam pemisah.

“Dan sekarang masuknya ke ranah bisnis salah satunya ojek online, ini merupakan kemajuan zaman,” kata Lisman.

Lisman mengatakan, dengan kemajuan zaman tersebut, secara tidak langsung berdampak pada pola pikir masyarakat yang lebih cerdas. Mereka menggunakan ojek online karena bisa pastikan waktu ketibaan di tujuan, dapat lebih leluasa dibanding transportasi lain, dapat dipanggil dari mana saja, dan ada garansi tentang pengemudinya.

“Jadi pemerintah harus melihat manfaatnya baik pada pengguna maupun ke pihak pengojek. Karena sejatinya ojek ini jadi pilihan karena angkutan umum belum eksis,” lanjutnya.

Apabila pemerintah hendak mengeluarkan kebijakan terkait transportasi publik terbarukan ini, Lisman mengatakan, pemerintah perlu menata dahulu sistem angkutan publik yang lebih dahulu namun terbatas terhadap pengguna transportasi publik yang mencapai 28 juta perjalanan manusia di jabodetabek.

“Transportasi yang ada sekarang yang dapat memenuhi sebagian dari perjalanan manusia di jabodetabedek. KRL hanya dapat memenuhi 6 %, Trans Jakarta 2 %, sehingga masyarakat lebih memilih angkutan pribadi baik mobil maupun motor plus sepeda dan jalan kaki,” beber Lisman.

Lebih jauh Lisman mengatakan, salah satu upaya yang dapat dilakukan pemerintah untuk memperbaiki sektor transportasi publik guna menutupi kekurangan perjalanan manusia dengan transportasi adalah dengan membuka kran investasi swasta.

Dengan begitu, menurutnya, dapat meningkatkan kualitas dari transportasi publik konvensional. Sedangkan untuk transportasi online, ini dapat menambah armada transportasi publik guna menambahkan kekurangan perjalanan manusia dengan menggunakan transportasi.

“Coba lihat trasportasi sekarang yang hadir dijalan, bisa tidak menjamin keselamatan penumpang, harusnya pemerintah juga dapat berbenah untuk menata transportasi konvensional baru kemudian sinkronkan dengan transportasi online yang hadir saat ini,” pungkas Lisman. (ade)