IST DIEKSPOS: Wajah Acep Mulyadi baju tahanan orange saat diperlihatkan ke awak media.
IST DIEKSPOS: Wajah Acep Mulyadi baju tahanan orange saat diperlihatkan ke awak media.

DEPOK-Polisi masih merasa janggal dengan motif Acep Mulyadi (AM), pelaku pembunuhan terhadap Feri Firman Hadi seorang arsitek di Perumahan Poin Mas Blok A2 Nomor 5 RT 01/11, Rangkapanjaya, Pancoranmas Rabu (3/1). Dalam aksinya, penyidik sempat mengira Acep membunuh Feri karena masalah asmara. Namun hal itu langsung dibantah pelaku.

“Enggak, belum pernah pacaran (sesama lelaki). Ya suka (perempuan),” kata Acep di Polda Metro Jaya, Minggu (7/1).

Kepada penyidik, Acep yang telah mengenal korban itu mengaku kalap hingga akhirnya membunuh korban.

Acep juga mengaku, pusing karena belum membayar uang kontrakan sebesar Rp700 ribu selama dua bulan di Cinere. Sehingga dia terancam diusir oleh sang pemilik rumah. “Ya belum bayar kontrakan, Rp 700 ribu untuk dua bulan,” imbuhnya.

Menurut dia, saat datang ke rumah korban dia bisa diberikan pinjaman uang. Bahkan, selama dua bulan ini dirinya sudah 15 kali mondar-mandir untuk memijat korban yang merupakan arsitek.

Sayangnya, harapan Acep kandas setelah Feri tak mau meminjamkan uangnya. Akhirnya, dia nekat menusuk leher korban dengan gunting.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan, AM telah diinterogasi.

Namun, AM belum mau mengungkapkan motif pembunuhan secara keseluruhan kepada penyidik. “Kemarin tersangka sempat kami wawancara, yang bersangkutan belum membuka semua,” ujar Argo di Mapolda Metro Jaya, Semanggi, Jakarta Selatan, Senin (8/1/2018).

AM mengaku membunuh Feri karena tersinggung. Padahal, Feri telah menawarkan agar AM beserta keluarga agar tinggal di rumahnya. Polisi menengarai ada motif lain di balik pembunuhan terhadap Feri. “Tentunya itu tak hanya seperti itu, kami gali apakah ada penyebab lain atau tidak,” ujar Argo.

AM telah dua bulan mengenal Feri. “Kemarin saya tanya, memijit sudah 15 kali selama dua bulan itu dan ada beberapa bagian apakah ada tempat-tempat sensitif yang dipijit? Ini masih kami dalami, apakah ada motif lain,” ujar Argo.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Nico Afinta, mengatakan pembunuhan tersebut disinyalir karena AM merasa tersinggung atas ucapan korban.

Setelah lama berbincang, AM pun diminta untuk memijat Feri yang merasa badannya pegal-pegal.

Karena sudah larut malam, AM lebih dulu mengantar adiknya pulang ke kontrakan mengendarai sepeda motor yang dipinjami korban.

“Sekitar 23.00 pelaku kembali ke rumah korban untuk memijat korban,” ujar Nico.

Sekitar pukul 03.00, AM kembali berusaha meminjam uang kepada Feri.

Namun, Feri tetap menganjurkan agar keluarga AM untuk sementara tinggal di kediamannya.

“Selesai memijat, korban tidur di rumah pelaku. Sekitar jam 05.00, korban dan pelaku bangun tidur, bersama-sama salat subuh,” ujar Nico.

Di ruangan salat itu, AM dan Feri kembali berbincang masalah uang kontrakan.

AM meminta bantuan dalam bentuk uang, “Korban mengatakan, ‘Ah kamu hanya bisanya meminta-minta uang saja’,” ujar Nico.

AM merasa tersinggung.

Saat Feri dalam posisi tiduran, AM ke luar kamar dan mengambil gunting.

AM menusukkannya ke leher korban, “Karena masih ada perlawanan, korban memukulkan kursi ke kepala korban,” ujar Nico.

AM yang panik langsung meninggalkan korban dalam posisi bersimbah darah.

AM sempat pulang ke kontrakan dan bilang ke keluarga, dia baru berkelahi dengan rekannya.

Lantas, ia mengaku, membutuhkan waktu merenung. Dan melarikan diri ke Bogor, “Pelaku kami tangkap di Bogor,” ujar Nico.
Atas perbuatannya, AM dijerat Pasal 338 KUHP karena dengan sengaja merampas nyawa orang lain, “Dengan ancaman maksimal 20 tahun,” ujar Nico.(ade/irw)