Dampak Dibalik Fenomena LGBT

In Politika
RICKY/RADAR DEPOK
PENDAMPINGAN: Salah seorang ODHA saat konseling dengan pendampingnya di wilayah Depok.

Dibalik maraknya fenomena Lesbi, Biseks, Gay dan Transgender (LBGT) yang menjadi pembahasan di berbagai media. Ada berbagai macam penyakit yang timbul dari penyimpangan seksual, seperti kanker, penyakit kelamin, HIV AIDS dan infeksi di daerah alat vital.

LAPORAN : Ricky Juliansyah

 

Fenomena LGBT memang menjadi bahasan utama hingga saat ini. Mereka yang memiliki disorientasi seksual ini tidak hanya menyimpang dari kaidah-kaidah agama, tetapi memiliki dampak buruk untuk kesehatan mereka.

Untuk efek yang demikian buruk, memang orang awam tidak akan dipercaya, kecuali mereka yang berucap dengan latarbelakang pendidikan kesehatan. Tentunya, apa yang diucap berdasarkan ilmu pengetahuan medis yang dienyam di bangku kuliah.

Seperti yang dituturkan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok, Noerzamanti Lies Karmawati. untuk kasus seksual dengan sesama jenis, yang paling sering ditemukan lelaki seks dengan lelaki.

Lelaki seks dengan lelaki lebih vulgar dan lebih beresiko karena berhubungan seks melalui anus atau secara anal. Daerah tersebut sangat beresiko terkena penyakit macam-macam mulai dari kanker rectum, pengakit kelamin hingga HIV AIDS.

“Untuk perempuan, kasusnya jarang ditemukan. Mungkin fenomena gunung es sehingga tidak bisa terdeteksi dengan jelas,” kata Lies.

Hubungan seksual anal beresiko bermacam-macam penyakit seksual yang menular termasuk HIV/AIDS. Penggunaan kondom salah satu cara mencegah penularan HIV.

Namun, untuk trauma di daerah anus tetap ada risiko kanker atau penyakit infeksi lain karena daerah tersebut rentan dan bukan daerah yang dapat dimanipulasi dan tidak sesuai fungsinya

Bahkan hal tersebut bisa memicu terjadi nya kanker rectum atau dapat terjadinya infeksi seksual, kelamin dan yang lain. Dirinya menegaskan menggunakan kondom bukan berarti seolah-seolah permisi atau memperbolehkan terhadap seks bebas, melainkan sebagai upaya pencegahan penyakit menular. “Yang paling mudah menggunakan kondom, tapi bukan berarti setuju dengan seks bebas ya, ini dilakukan sebagai upaya mencegah penularan penyakit,” ucap Lies.

Beralih ke Anggota Komisi D DPRD Depok, Rezky M Noor mengatakan tidak bisa dipungkiri LGBT ada dan tidak hanya terjadi di Depok. Apalagi banyak pendatang yang datang ke Depok.

Bentuk antisipasi yang paling nyata adalah pengawasan sejak dini oleh keluarga. Jika gejala tersebut terlihat sejak kecil, orangtua harus memerankan fungsinya sebagi pelindung dan mengarahkan anak untuk sesuai kodratnya.

“Peran keluarga itu cara jitu menangkal LGBT. Di Depok sendiri sudah ada Perda Ketahanan Keluarga, dan tinggal bagaimana mengaplikasikan ke kehidupan sehari-hari,” terang Rezky.

Sedangkan Ketua Forum Pembela Islam (FPI) Kota Depok, Agus Rahmat menuturkan sebagaimana Islam sendiri sangat mengecam keras, karena berbahaya secara moral maupun sosial.

Saat ini pihaknya beberapa kali berkomunikasi dengan Pemkot Depok dan anggota dewan DPRD Depok untuk bersikap tegas secara hukum. Juga menyosialisasikan penyakit berbahaya dari LGBT.

“Kami meminta peraturan tegas dari pemerintah, selain FPI sendiri juga terus menyosialisasikan melalui dakwah soal LGBT,” tutup Agus. (*)

You may also read!

walikota depok bermasker putih

Mohammad Idris Ajukan Cuti Mulai 26 September

Mohammad Idris   RADARDEPOK.COM, DEPOK – Mohammad Idris yang kini menjadi Walikota Depok, akan bertarung pada Pemilihan

Read More...
PN pedagang pasar kemirimuka

Banyak Bansos di Depok, Bikin Harga Sembako di Pasar Turun

MELAYANI PEMBELI : Pedagang ikan melayani pembeli saat berada di Pasar Kemirimuka, Kecamatan Beji. FOTO

Read More...
XL untuk pembelajaran

Belajar Online Tambah Seru? #KenapaNggak

  RADARDEPOK.COM - Masa pandemi membuat kita beradaptasi dengan banyak hal baru. Selain kita harus selalu menggunakan masker, mencuci tangan

Read More...

Mobile Sliding Menu