ADE/RADARDEPOK INI LAHANNYA : Inilah lahan yang dipermasalahkan Bambang yang hanya di bayar 22 meter, di RT1/4 Kelurahan Grogol, Limo kemarin.
ADE/RADARDEPOK
INI LAHANNYA : Inilah lahan yang dipermasalahkan Bambang yang hanya di bayar 22 meter, di RT1/4 Kelurahan Grogol, Limo kemarin.

DEPOK – Mudah-mudahan ini salah tulis angka, 1. Tapi, kalau tidak ada angka tersebut sesuatu yang patut dicurigai. Gara-garanya, Endang Kusumaningsiwi salah satu pemilik lahan terkena Tol Depok-Antasari (Desari), di RT1/4 Kelurahan Grogol, Limo merasa aneh Uang Ganti Kerugian (UGK) yang dibayarkan hanya 22 meter. Padahal, jika hitung dari patok yang dibuat Panitia Pembebasan Tanah (P2T) Tol Desari, luasnya yang tergerus tol seluas 122 meter.

Bambang selaku suami Endang Kusumaningsiwi mengaku, baru mengetahui lahan milik istrinya terkena Tol Desari seluas 122 meter. Ketika  mau membangun lahan tersebut, kemudian ditegur H Parman salah satu aparatur Kelurahan Grogol. Aparatur itu, kata dia menyebutkan, jangan melanjutkan pembangunan lantaran lahan tersebut masuk pada areal terkena tol. Menurut dia, luas lahan miliknya seluas 290 meter persegi. Secara logika, jika dikurangi 22 meter maka sisinya masih ada 268 meter lagi. Tapi anehnya waktu mau membangun sisa lahan itu ditegur.

“Bapak Haji Parman mengatakan lahan itu sudah masuk peta pembebasan lahan untuk tol. Ini jadi masalah, jika sebagian sisa lahan kami itu ternyata masuk dalam peta pembebasan tol mengapa kami hanya menerima penggantian sebanyak 22 meter,” tanya Bambang kepada Harian Radar Depok, kemarin.

Dia meminta kepada P2T Desari untuk segera memperjelas berapa jumlah lahannya yang terkena tol. Jika ternyata luas lahan yang tergerus tol lebih dari 22 meter, maka dia meminta ada penjelasan dan pemeberkasan ulang untuk pembayaran lahan yang masuk peta pembebasan. “Kami enggak mau tau yang jelas kami baru menerima penggantian untuk 22 meter. Tanah kami dan sisanya itu masih milik kami,” tegasnya.

Saat dikonfirmasi, H. Suparman aparatur Kelurahan Grogol mengatakan, akan mengurus permasalahan ini ke P2T. Waktu itu memang dia menegur saat Bambang akan membangun, karena lahan yang akan dibangun pada peta masuk dalam kawasan terkena Tol Desari. Jika, benar lahan Bambang baru terbayar 22 meter, maka dia akan mengurus dan pertanyakan di panitia pembebasan tanah tingkat Kota. “Sementara ini saya berharap lahan itu jangan dibangun dulu, khawatir ada kesalahan pencatatan luas lahab saat pengukuran P2T ,” tandas dia.(ade)