AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK MEMBACA BUKU : Para siswa dan siswi SMA Negeri 1 Depok sedang membaca buku dan belajar bersama di perpustakaan.
AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
MEMBACA BUKU : Para siswa dan siswi SMA Negeri 1 Depok sedang membaca buku dan belajar bersama di perpustakaan.

DEPOK–Menanggapi rendahnya minat baca pada masyarakat Indonesia umumnya dan masyarakat Kota Depok khususnya. Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Diskarpus) Depok akan terus melakukan berbagai upaya untuk mendukung program gemar membaca di tengah masyarakat.

Kepala Diskarpus Depok, Siti Chaerijah mengatakan, gerakan literasi di sekolah untuk 2018 ini akan lebih dimasif disosialisasikan. Selain itu, guna menumbuhkan budaya literasi, pihaknya juga akan terus menyediakan buku-buku bacaan berkualitas, mulai dari literasi sastra hingga ilmu pengetahuan populer lainnya.

“Kami akan gencar lakukan gerakan literasi, terutama ke sekolah-sekolah. Diharapkan akan tumbuh budaya membaca di kalangan masyarakat sejak usia dini,” ujar Siti kepada Harian Radar Depok, kemarin.

Siti berharap dengan gerakan literasi ini dapat memotivasi masyarakat Depok, untuk turut mengambil bagian dalam semangat gerakan membaca. Serta melalui gerakan literasi nantinya, diharapkan semakin menumbuh budaya membaca sejak usia kanak-kanak.

“Kami juga akan gencarkan aktivitas perpustakaan keliling dengan mengunjungi sekolah, pesantren, dan tempat-tempat kegiatan masyarakat lainnya,” jelasnya.

Dengan begitu, lanjut Siti, akan memberikan motivasi anak-anak untuk gemar membaca dengan merangsangnya melalui buku bacaan ringan yang disukainya.

Terpisah, Pegiat Literasi di Kota Depok, Wahidah mengatakan, dukungan Pemkot Depok pada gerakan literasi belum komprehensif, pasalnya tidak memperhatikan kemajuan atau gagasan-gagasan baru yang berkembang pada gerakan literasi.

“Misalnya saja gerakan literasi di taman. Sebetulnya kalau pemkot ngeh, ini perpaduan yang sangat bagus dengan program pembangunan taman. Sayangnya pemkot melihat gerakan literasi satu hal, dan pembangunan taman adalah hal yang lain,” kata Wahidah saat dikonfirmasi Radar Depok, Senin (8/1).

Lebih jauh Dosen Sosiologi UPN ini mengatakan, ia juga belum paham mengenai arah gerakan literasi Pemkot Depok. Ia mengkhawatirkan, gerakan tersebut hanya sebatas gerakan normatif prosedural.

“Hanya mengikuti arahan dari atas, kebijakan dari atas, tidak mencoba melakukan inovasi, mendorong munculnya kebaruan gagasan dan kegiatan-kegiatan literasi tersebut,” lanjut penggagas komunitas Relawan Baca Buku di Taman (RBBT) tersebut.

Analisis Wahidah tersebut didasarkan atas pengalaman yang ia rasakan selama menjadi pegiat literasi di Kota Depok. Menurutnya, Pemkot Depok lumayan gencar mendukung gerakan literasi sekolah. Namun, gerakan literasi bukan hanya di sekolah. Ada di taman, ada di posyandu, ada di rumah baca yang di kelola di rumah-rumah warga dan sebagainya.

“Seluruh kegiatan literasi yang sudah berlangsung harusnya dilihat sebagai potensi. Nggak memadai kalau hanya lewat sekolah. Kegiatan literasi di luar sekolah penting karena bisa saling mendukung,” bebernya.

Wahidah mencontohkan, Taman Baca Masyarakat (TBM) misalnya, di Kota Depok sedikitnya ada 50 lebih TBM. Mereka mencoba terus bertahan dalam keterbatasan. “Harusnya pemkot juga melihat ini sebagai upaya yang bisa diperhitungkan,” katanya.

Untuk itu, Wahidah berharap, Pemkot Depok tidak hanya menjadikan gerakan literasi hanya sebatas seremonial belaka atau kepentingan bisnis, namun harus disikapi secara serius. Jangan sekedar untuk melaksanakan kebijakan pemerintah pusat. Apalagi dilaksanakan hanya dengan cara-cara bussines as usual. Pemerintah pusat memang sedang gencar mendorong Gerakan Literasi Sekolah (GSL). “Tapi bagaimana kebiajakan itu dilaksanakan di daerah dengan inovasi atau trobosan-trobosan baru, melihat dan mengkalkulasi potensi yang ada, komprehensiflah pokoknya,” pungkas Wahidah. (ade)