ADE/RADAR DEPOK SAMBUTAN : Kepala Kantor Kemenag Kota Depok, Ismatullah Syarif saat memberikan sambutan dalam peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-72 Kementerian Agama RI, Jumat (5/1).
ADE/RADAR DEPOK
SAMBUTAN : Kepala Kantor Kemenag Kota Depok, Ismatullah Syarif saat memberikan sambutan dalam peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-72 Kementerian Agama RI, Jumat (5/1).

DEPOK – 3 Januari merupakan hari yang sangat bersejarah bagi Kementerian agama. Pasalnya, tepat pada 3 Januari 1946 Kementerian Agama RI berdiri. Sejak saat itu, 3 Januari diperingati sebagai Hari Amal Bakti (HAB).

Kepala Kemenag Kota Depok, Ismatullah Syarif mengatakan, Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang memiliki Kementerian (Departemen kala itu) di bidang Agama. Hal ini patut dibanggakan karena memberikan contoh kalau Indonesia merupakan negara berbasis agama.

“Tentu saja berbasis pada Sila Pertama dalam Pancasila yakni Ketuhanan Yang Maha Esa, diharapkan keberagamaan agama dalam negeri ini bisa bersatu, sehingga negeri ini negeri yang berbasis kegamaan yang sangat kuat, moralnya moral keagamaan yang sangat kuat,” tutur  Ismatullah usai memperingati Hari Amal Bakti (HAB) ke 72, di halaman Kantor Kemenag Kota Depok, Jumat (5/1).

Peringatan HAB, Kemenag Kota Depok mengisi dengan kegiatan donor darah dan lomba tumpeng yang diikuti oleh unsur Kementerian Agama Kota Depok yakni unsur KUA, para kepala seksi, pengawas, Kelompok Kerja Madrasah (KKM) dan seluruh pegawai kemenag

Syarif dalam kesempatan tersebut, mengatakan, di usianya yang ke-72, Kemenag tentunya sudah banyak memberikan kontribusi, serta sumbangsihnya kepada masyarakat, bangsa dan negara, serta ikut mengisi kemerdekaan melalui pembangunan di bidang agama.

“Membentuk masyarakat yang cerdas, bermoral serta beretika dan religius, tentunya seluruh ASN khususnya di kota depok wajib bersyukur dan bangga telah menjadi bagian dari Kemenag,” kata Syarif.

Untuk itu, lanjut Syarif, sesuai dengan amanat Menteri Agama (Menag RI), sebagai bagian dari kelembagaan negara, Kemenag Kota Depok akan terus berinovasi terutama terkait dengan pelayanan publik.

Pada masa kekinian, Menurut Menag, tantangan bekerja semakin berat karena dunia menghadapi zaman yang cepat berubah. Lingkup masyarakat lebih luas, meliputi warga global hingga generasi digital. Tuntutan publik pun semakin tinggi, terbuka, dan spontan. Untuk itu, diperlukan sikap yang tepat dan cerdas dalam merespons tuntutan masyarakat terhadap Kementerian Agama.

“Kita semua bekerja untuk melayani rakyat dengan menggunakan sarana dan anggaran yang merupakan hak rakyat. Oleh karena itu, fokus perhatian kita jangan hanya sekadar menyerap anggaran secara maksimal setiap tahun. Penyerapan anggaran harus diselaraskan dengan kepentingan dan kebutuhan masyarakat, sehingga manfaatnya terasa optimal,”  kata Syarif.

Selain itu, Syarif juga mengatakan, di sisi lain, pihaknya juga akan berinovasi agar lembaga kita terasa kekinian, jangan sampai dianggap seperti mesin tua yang usang,” lanjutnya. (ade)