Nitip di Toko CD Sampai Tulis Merek Pakai Spidol

In Metropolis
RICKY/RADAR DEPOK
MERAKIT : Owner AMTECH Ali Martopo saat merakit efek gitar di salah satu workshopnya di Jalan Guru Daiyah No.2A Kelurahan Tanah Baru, Beji.

Setelah disarankan rekannya untuk menjual efek hasil karya sendiri, lantas Ali Martopo memulai bisnis barunya. Tetapi dalam merintis usahanya tidak langsung berjalan mulus, banyak rintangan dan hambatan yang dilalui hingga bisa dikenal seperti saat ini.

LAPORAN : Ricky Juliansyah

Di worshop Ali Martopo yang terdapat di Kelurahan Tanah Baru, Beji ini memang tidak begitu luas. Tetapi di tempat itu, ia masih bisa memajang beberapa jenis gitar, baik akustik maupun elektrik di stand gantung yang menempel di tiap sudut dinding.

Sementara, dua buah etalase yang dibuat membentuk huruf L, diisi dengan berbagai peralatan elektronika untuk membuat efek atau alat elektronik dari gitar itu sendiri. Di lantai yang berkramik putih ditaruh beberapa jenis amplifier yang dijual.

“Waktu itu teman saya bilang, kalau dijual laku ini barang. Saya coba membuat beberapa untuk dijual,” kata Ali.

Saat itu, Ali menitipkan hasil karyanya di counter Compact Dist (CD) di mall yang berada di wilayah Cijantung, Jakarta Timur. Namun, lantaran masih seadanya, produknya malah banyak ditertawakan orang karena mereknya masih menggunakan spidol dan boksnya masih pakai fiber pada 2010.

Memang orang sekarang banyak yang selalu menilai diawal tanpa mencoba atau mendengarkan dulu kualitas dari produk tersebut. Makanya, sampai ada istilah ‘Don’t Jugde Book by its Cover’ bahasa yang mudah dicerna, jangan menilai dari luarnya saja.

Padahal, menurut Ali, ketika ia pakai di panggung sudah ketahuan kualitas suaranya dan tidak akan ditertawakan. Berkaca dari pengalaman tersebut, bapak dua orang anak ini pun mengubah tampilan dari hasil karyanya dan menggunakan branding AMTECH yang merupakan kepanjangan dari Ali Martopo Technologi.

“lama-lama mereknya pakai sablon,” kata Ali.

Nama efek yang ia ciptakan itu bisa dibilang unik, penamaannya sendiri diambil dari nama neneknya yaitu Sarinten. Setelah mengubah tampilan efeknya, Ali pun membuat web untuk memasarkan efek dengan merek Sarinten.

Tetapi, webnya sendiri malah tidak bisa digunakan lantaran di serang oleh hacker luar negeri yang tidak ingin produknya diketahui di dunia maya.

“Website dirusak dari USA. Sering rusak, disuruh pindah dan difasilitasi ke luar negeri, jika tidak mau ya tetap tidak bisa diakses. Itu tiga tahun, sampai kenalan saya di Cyber Crime saja tidak bisa menolong. Domain AMTECH rusak beli lagi, tapi tidak bisa,” papar Ali.

Jadi sementara web tidak bisa digunakan ia memasarkan produk AMTECH dengan mengupload video di Youtube.

“Sekarang sudah buat banyak jenis efek. Tergantung permintaan konsumen. Saya buat juga pick up dan amply. Video pertama saya di youtube membuat sustainer. Karena ada yang meminta saya bocorkan spek alat-alatnya,” ucap penyuka Steve Vai ini.

Di 2011 ia membuka workshopnya dengan nama AMTECH Guitar Service di Jalan Sirsak Gang H. Usman No 84, Ciganjur Jakarta Selatan. Di workshop ini, ia tidak hanya melayani pesanan efek, ia pun menciptakan amply yang diberi nama Kliwon.

“Kalau Sarinten nama nenek, Kliwon hari kelahiran saya,” ucap Ali sambil tertawa. (Bersambung)

You may also read!

doa bersama SMP yappa

SMP Yappa Doa Bersama agar Covid-19 Segera Berakhir

KEAGAMAAN : SMP Yappa mengadakan kegiatan doa bersama dengan cara live streaming, agar pandemi virus

Read More...
IBH minta saran dari satgas

Imam Kepoin Satgas Covid-19 Pusat

SILATURAHMI : Bakal calon wakil walikota dari Koalisi TAS, Imam Budi Hartono menyambangi Sekretariat Tim

Read More...
bawaslu lulik ngomong

24 September Spanduk Paslon Pilkada Depok Dibredel

DISKUSI : Ketua Bawaslu Kota Depok, Luli Barlini dalam agenda Wartawan DMC Bincang Siang Bersama

Read More...

Mobile Sliding Menu