AHCHMADFAHRY/RADAR DEPOK TAK TERAWAT : Bangunan yang dibangun abad ke-18 bernama Rumah Cimanggis di kawasan lahan RII di kawasan Kecamatan Sukmajaya yang teracam dihancurkan karena adanya pembangunan UIII di tahun ini.
AHCHMADFAHRY/RADAR DEPOK
TAK TERAWAT : Bangunan yang dibangun abad ke-18 bernama Rumah Cimanggis di kawasan lahan RII di kawasan Kecamatan Sukmajaya yang teracam dihancurkan karena adanya pembangunan UIII di tahun ini.

DEPOK-Kota Depok galau dalam menyikapi pembongkaran rumah tua di Cimanggis, yang bakal dibangun Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII). Depok pasrah, lantaran tidak memiliki kewenangan dan intervensi melarang rumah yang dibangun abad 18 tersebut.

Walikota Depok, Mohammad Idris menegaskan, tidak memiliki kewenangan intervensi untuk Rumah Cimanggis tidak dibongkar. Karena situ tersebut berada di atas lahan RRI. ”Itu otoritas negara. Pemkot Depok tidak punya otoritas,” kata Idris kepada Harian Radar Depok, kemarin.

Rumah Cimanggis itu kata Idris, belum ada legalitasnya sebagai cagar budaya dan tidak ada dokumen resmi bahwa itu cagar budaya. Namun, Rumah Cimanggis ini sudah menjadi situs yang sudah terdaftar di Disporyata Depok pada 2013.

”Kami tidak memiliki otoritas mengintervensi bangunan tua itu tidak boleh dibongkar. Tapi, bila komunitas mengusulkan keberatan agar tidak dibongkar, kami mendukung,” tutur dia.

Pembangunan UIII yang akan dibangun 2018 ini, tambah Idris, Pemkot Depok mendukung. Tapi, pembangunan UIII Ini terikat pada perundangan lingkungan hidup. Untuk itu diselesaikan terlebih dahulu.

“Sejak awal kita komunikasi dengan pusat rencana pembangunan UIII di lahan  RII. Sekarang ini lahan aset RII sudah dilimpahkan ke Kementrian Agama melalui Peraturan Presiden (Pepres) untuk pendirian UIII,” kata dia.

Idris mengatakan, berkenaan dengan perizinan akan diproses sesuai aturan, semisal proses IMB yang masih terikat dengan Perda Ruang Terbuka Hijau (RTH). Nantinya bisa diberikan payung hukum, agar dapat diselesaikan tanpa melanggar perda. Walaupun semua berasal dari pusat, namun sejogjanya sebelum dibangun harus bersih dulu semuanya.

Untuk pembersihan lahan, banyak penghuni yang memang sudah lama tinggal di sana, jadi ada proses adamistrasi yang harus diselesaikan seperti payung hukum ketika ada warga yang minta uang kerohiman. Itu payung hukumnya seperti apa, dikomunikasikan ke Kementerian Keuangan, ada atau boleh tidak itu dilakukan. “Itu urusan mereka bukan urusan Pemkot Depok,” tegasnya.

Idris pun merespons positif rencana pemerintah pusat membangun UIII di wilayah Depok. Jika ada pembangunan yang berdampak pada kesejahteraan masyarakat pasti didukungnya. Namun, terkait dengan dampak-dampak sosial dari dunia pendidikan, Idris minta diantisipasi. Pendirian UI, Gunadarma dan lainnya itu kan ada dampak sosial yang sangat luas dan besar. “Apalagi ini kan tingkat internasional tentu ada dampaknya, kami ingin antisipasi agar bisa selesai semuanya. Mudah-mudahan (perizinan) akan beres semua,” ucapnya.

Terpisah, Koordinator Bidang Edukasi Publik Forum Komunitas Hijau (FKH) Kota Depok, Didit mengatakan, rencana pembangunan UIII tidak sejalan dengan amanat UU No. 10/2011 tentang Cagar Budaya yang melindungi dan ingin melestarikan bangunan bersejarah. “Di tengah upaya warga Depok memperjuangkan penyelamatan situs-situs sejarah, Pemerintah Pusat malah merencanakan akan membangun Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII),” terang Didit.

Didit mengkhawatirkan, UIII akan berimbas pada desakan terhadap ke keberlanjutan kota hijau. FKH menyayangkan rencana pemerintah pusat yang terkesan terburu-buru dalam membangun UIII, tanpa mengindahkan aspek keberlanjutan kota.

“Kami mendorong kepada Pemkot Depok agar mempertimbangkan izin pendirian bangunan tersebut. Apalagi secara peruntukannya, belum ada perubahan mengenai RTRW untuk kawasan yang sedianya akan dibangun UIII tersebut,” ujarnya.

Menurutnya, Rumah Cimanggis dibangun pada abad ke-18, yaitu masa pemerintahan Gubernur Jenderal Petrus Albertus van der Parra  (1761-1775).

Bangunan Rumah Cimanggis bergaya arsitektur khas Batavia abad ke-18, terutama Indische Woonhuis pada kusen yang bergaya renaissance dengan ukiran Rokoko atau Louis Quinze. Rumah Cimanggis adalah satu-satunya bangunan yang tersisa, yang dapat memperlihatkan kaitan antara sejarah Batavia dengan Depok.  Umurnya yang tua dan sejarahnya yang kaya,  membuat rumah Cimanggis suatu artefak sejarah yang sangat bernilai. “Bukan hanya masa VOC, tetapi juga masa Sukarno yang menjadikannya rumah transit kala menuju istana Bogor atau Cipanas,” paparnya.

Sebagai bentuk dukungan penyelamatan situs bersejarah dan pemeliharaan lingkungan, pihaknya akan membuat petisi untuk RTH dan penyelamatan situs bersejarah. “Kami berharap, pemerintah dan juga masyarakat mau menjaga situs bersejarah yang jumlahnya saat ini sudah langka,” tuturnya.(irw)