IRWAN/RADAR DEPOK GERAKAN : Para pencita sejarah memperlihatkan lukisan bangunan gedung bersejarah di Kota Depok yaki Rumah Cimanggis, di kawasan lahan RII Kecamatan Sukmajaya, kemarin.
IRWAN/RADAR DEPOK
GERAKAN : Para pencita sejarah memperlihatkan lukisan bangunan gedung bersejarah di Kota Depok yaki Rumah Cimanggis, di kawasan lahan RII Kecamatan Sukmajaya, kemarin.

DEPOK-Selamatkan Rumah Cimanggis, itulah kata yang digemborkan para komunitas pencinta sejarah, peduli ruang terbuka hijau, dan berbagai komunitas di Kota Depok. Aksi ini dilakoni demi menyelamatkan situs sejarah yang nantinya akan hilang, akibat bakal dibangun Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII).

Koordinator Forum Komunitas Hijau Heri Syaefudin,  selama 10 tahun terakhir adalah masa paling mengenaskan bagi nasib bangunan-bangunan bersejarah di Depok.

Situs-situs sejarah yang mayoritas heritage dari abad 18 dan 19, secara berturut-turut dihancurkan dan tidak dipedulikan.

“Depok gencar membangun, tetapi diarahkan oleh pemerintahnya sebagai kota tanpa ingatan, tanpa masa lalu,” kata Heri kepada Radar Depok, kemarin usai mengadakan kegiatan jalan santai dan gowes di kawasan RRI.

Dia mencontohkan,  2007 ada Rumah Pondok Cina yang dibangun tahun 1690 dihancurkan, sebagian besar ruangnya ini tidak ada respon dari Pemkot kala itu. Lalu disisakan bagian depannya saja, dan  interiornya telah dimutilasi disesuaikan untuk keperluan komersil mall dan hotel.

Tidak hanya itu, selang enam tahun kemudian, pada akhir 2013  giliran Rumah Pembakaran Kapur di Kelurahan Curug, Kecamatan Cimanggis. “Situs sejarah yang khas arsitekturalnya dan sudah langka di Indonesia dihancurkan untuk gudang pabrik obat,” kata dia.

Itu semua sambung dia,  belum termasuk hilangnya dan beralih fungsinya tujuh rumah tua di kawasan Depok Lama selama empat tahun belakangan.

Kini, giliran  Rumah Cimanggis dari abad 18 yang terancam dihancurkan, karena ada proyek pembangunan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) oleh Yayasan UIII yang diketuai Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Rumah Cimanggis sebut dia, situs sejarah yang berada percis di kilometer 34 jalan arah Bogor sebelum kawasan Cibinong di dalam komplek Radio Republik Indonesia (RRI) Depok, itu dibangun pada  1775 oleh Gubernur Jenderal van der Parra

“Kami memita agar situs-situs sejarah di Depok diselamatkan. Kalau bisa diperbaiki dan digungsikan sebagai museum pertama di Depok,” kata dia.

Lalu tambah dia, mewakili para komunitas pencita alam, pengiat sejarah, dan pencinta ruang terbuka hijau membuat empat petisi   kepada Presiden Indonesia Joko Widodo Jokowi, Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri Agama Lukman Saifuddin, dan Walikota Mohammad Idris agar situs sejarah jangan dihilangkan.

Petisi pertama kata dia, menjalankan UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya yang mengamanahkan agar melindungi dan melestarikan bangunan bersejarah. Kedua  perbaiki dan fungsikan sebagai museum pertama bagi sejarah Kota Depok.  Lalu  jadikan Rumah Cimanggis sebagai ruang publik yang mudah diakses oleh masyarakat.

“Keempat mohon pelaksana pembangunan UIII membuka kepada publik master plan pembangunan kampusnya, sehingga masyarakat mendapat informasi yang jelas,” kata dia.

Sementara, Pakar sejarah bangunan tua Adolf Heuken menyebu, Rumah Cimanggis sebagai contoh terbaik dan satu-satunya yang tersisa di Depok, sebagai peristirahatan atau land huizen pejabat VOC di pinggiran Batavia

Bahkan, arsitektur paling artistik gaya pertemuan unsur kebudayaan tropis Jawa dengan unsur gaya klasisisme kebudayaan Eropa dari masa Louis XV.

Rumah Cimanggis juga menjadi penanda betapa dahulu kawasan itu dari hutan dibuka sehingga menjadi sebuah kota tempat transit. Melalui  utama dari jalan besar yang menghubungkan antara Batavia dengan Buitenzorg atau Kota  Bogor sekarang ini.

Bahkan, jalan itu yang kemudian menjadi dasar ide Gubernur Jenderal Daendels untuk membuat Jalan Raya Post (Grote Postweg). Dimana suatu jalan yang kelak menjadi asal usul lahirnya kota-kota modern di Jawa.

Tetapi, sejarah tinggal sejarah, kata dia, Rumah Cimanggis itu tidak dipelihara sebaik-baiknya, meskipun menyimpan sejarah awal perkotaan modern di Jawa.” Dari segi arsitektural suatu pencapaian serta sudah langka karena banyak sejenisnya sudah dirobohkan,” kata dia.

Menurut dia, Pemerintah Kota Depok dan RRI lepas tangan serta kurang bersemangat untuk menyelamatkan situs sejarah itu. Bahkan, kata dia,  Pemerintah Kota Depok malas menindaklanjuti Rumah Cimanggis yang sudah terdaftar di BPCB (Badan Pelestari Cagar Budaya) di Serang, Banten sejak 2011 dengan No. 009.02.24.04.11. “Tidak ada tindaklanjut agar  resmi sebagai cagar budaya,” tegas dia.(irw)