RUBIAKTO/RADAR DEPOK INI PENYEBABNYA: Pipa saluran air buatan PT. Uno Tanoh Seuramo hanya berukuran 6 inci. Tidak dapat menampung debit air.
RUBIAKTO/RADAR DEPOK
INI PENYEBABNYA: Pipa saluran air buatan PT. Uno Tanoh Seuramo hanya berukuran 6 inci. Tidak dapat menampung debit air.

DEPOK –  Warga RW02, Kelurahan Abadijaya, Kecamatan Sukmajaya, mulai merasakan dampak negatif dari mega proyek pembangunan Pasar Musi. Sejumlah rumah warga yang tidak pernah merasakan banjir, kini mulai terdampak. Terutama di RT05.

Kondisi ini lantaran kontraktor pasar tidak memperhitungkan saluran air. Kontrakan milik Tabronih sebanyak enam pintu di RT05/02, harus kemasukan air. Sebelum adanya pembangunan Pasar Musi, air lancar mengalir di saluran.

“Ini akibat saluran Pasar Musi ditutup. Tolong pemerintah maupun proyek pasar memperhatikan masyarakat,” kata Tabronih.

Selain Tabronih, rumah Saman pun ikut tergenang air. Padahal hujan yang turun tiga hari kemarin intensitasnya tidak terlalu lebat.

“RT05 memang yang paling deket sama pembangunan pasar. Harusnya kontraktornya buat saluran dulu. Kalau gini kan yang dirugikan warga,” umpat Saman.

Genangan air juga singgah ke rumah kontrakan milik Sarto. Dia bahkan kerap terganggu dari mulai awal pembangunan Pasar Musi yang dikerjakan tanpa henti.

“Sudah saya sampaikan ke pak RW, tapi kata pak RW kontraktornya nggak izin ke lingkungan. Ini pasar kan proyek pemerintah, ya harusnya lebih peduli kepada lingkungan sekitarnya,” kata Sarto.

Sejak awal dimulainya pembangunan Pasar Musi pada 3 November 2017, proyek yang dimenangi PT. Uno Tanoh Seuramo dengan nilai anggaran pengerjaan Rp5,6 miliar, sudah ada tanda-tanda akan berdampak negatif. Terutama pada lingkungan sekitar pasar.

Selain itu, di dalam perjanjian kontrak, pembangunan pasar seharusnya rampung pada akhir Desember 2017. Tetapi hingga kemarin, pembangunan fisik pasar masih berjalan. (cr3)