AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK KREATIF : Sejumlah siswa Madrasah Internasional Technonatura sedang mengoperasikan robot saat berada di sekolahnya di Jalan Komplek Griya Tugu Asri Blok E, Kelurahan Tugu, Cimanggis.
AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
KREATIF : Sejumlah siswa Madrasah Internasional Technonatura sedang mengoperasikan robot saat berada di sekolahnya di Jalan Komplek Griya Tugu Asri Blok E, Kelurahan Tugu, Cimanggis.

Juli 2017 lalu, Madrasah Internasional TechnoNatura mendapatkan juara kedua pada ajang internasional First Global Challenge Robotic Olympic, di Washington DC, Amerika Serikat. Hal tersebut membuktikan kalau kualitas robotik Madrasah Internasional TechnoNatura tidak tertandingi lagi baik tingkat Nasional maupun Internasional.

LAPORAN : ADE RIDWAN YANDWIPUTRA

 

Kepala MA Internasional TechnoNatura, Rustam Ibrahim mengaku sejak awal pendirian, madrasah TechnoNatura memiliki konsentrasi pada pembuatanu robot. Bukan tanpa alasan, proses pembuatan robot diyakini sebagai media yang dapat meningkatkan kreativitas.

Hal tersebut tentu berdasar pada teknologi serta teknik dalam merakit robot yang mengharuskan pembuatnya teliti dan inovatif guna menghasilkan robot yang berguna dalam membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Sekarang zamannya IoT (Internet of Things) atau revolusi industri 4.0, jadi bagaimana kita dapat menciptakan SDM yang mampu bertahan di era yang serba teknologi ini,” kata Rustam.

Selain sebagai sarana kreativitas juga belajar teknologi, lanjut Rustam, dengan robot siswa juga dapat belajar sains.

Lebih jauh Rustam mengatakan, perbedaan lain TechnoNatura dengan sekolah/madrasah konvensional adalah sistem kelas tematik per satu minggu. Dalam satu minggu tersebut terbagi atas enam hari dengan masing masing pelaksanaannya.

“Kita tentuin dalam rapat tahunan, seperti minggu ini sedang minggu engeneering. Nanti si siswa tinggal kita arahkan, hari Senin kita berikan pengantar, Selasa mereka (red; siswa)  buat planning, Rabu laksanakan planning tersebut, kamis analisa, jumat mereka presentasi,” beber Rustam.

Pelaksanaan tersebut dilakukan mulai dari tingkat SD kelas I hingga tingkat SMA kelas XII. Seluruh siswa dibiasakan untuk mengerjakan sesuatu dengan terstruktur hari perhari hingga minggu per minggunya.

Pertama kali berdiri, yakni tahun 2004, Madrasah Internasional TechnoNatura mendirikan MI dari kelas 1 hingga 4, kemudian ditahun 2007 mendirikan MTs, dan tahun 2010 mendirikan MA. Kesemuanya dilaksanakan dengan metode home schooling.

Meski dalam perjalanan pendirian Madrasah menggunakan teknik home schooling, tak sedikit juga siswa tamatan tersebut yang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi antara lain, ada yang berkuliah sebagai fashion design, UMN Serpong, berkuliah dengan dual degree yakni Indonesia dan Australia, hingga berkuliah di London, Inggris.

“Tapi kita berharap semua anak bisa kuliah tapi dia bisa survive, ada juga yang mereka bisnis,” kata Rustam.

Untuk menjaga keberlanjutan pendidikan, sejak awal berdiri hingga tahun 2014, TechnoNatura tidak menerima siswa di luar, dengan kata lain pendidikan yang dilakukan di jenjang MA harus melewati MI dan MTs di Madrasah tersebut. Ini dilakukan, karena sistem pembelajaran yang dilakukan TechnoNatura berbasis proyek (project base).

Keberlanjutan jenjang tersebut dipisahkan sesuai dengan tingkat. Pada tingkat SD/MI para siswa diajarkan membuat robot dengan fischertechnik (pembuatan robot bongkar pasang seperti memasang lego), tingkat SMP/MTs menggunakan teknik Arduino (robot yang dapat berjalan menggunakan sensor), dan tingkat SMA/MA sudah membuat reff robotic.

“Tingkat SD kita mulai dengan pengenalan, SMP mulai tahap middle, dan SMA sudah mulai membuat robot yang rumit. Disitu dituntun siswa yang inisiatif, disiplin dan kreatif. Mereka belajar, guru yang menonton,” katanya.

Rustam mengatakan, TechnoNatura mengutamakan kualitas di bidang kompetensi, yakni pengetahuan, keterampilan dan perilaku. Karena ia percaya pada abad ini yang survive adalah anak-anak yang kreatif.

“Tantangannya nggak sederhana, ketika kita menciptakan anak yang kreatif, maka paradigma pelajarannya harus berubah. Kreativitas itu tidak bisa diajarin, tapi buatkan sistem agar kreativitasnya keluar, jadi kami tidak membatasi siswa dengan nilai, namun ada rapor deskriptif yang menilai kreativitas,” beber Rustam.

Dalam proses seleksi pun, ada empat aspek yang dicari yakni akademis, kreatif, pinter berbicara, dan keempat terampil. “Satu tim ini (red; satu angkatan) harus punya kesemuanya untuk bekerja sama, karena saling berkesinambungan,” terangnya.

Namun, karena kebutuhan, kini TechnoNatura telah menerima siswa dari pihak luar baik ditingkat MTs maupun ditingkat MA. “ini dibarengi dengan proses penerimaan yang ketat. Pada proses penerimaan, seluruh siswa harus mengikuti training selama seminggu, dan nantinya hanya akan diambil 12 siswa yang lulus,” ujar dia.

Terakhir Rustam berharap, pendidikan di Indonesia umumnya dan Kota Depok khususnya dapat menerapkan kurikulum yang ia terapkan. Sekarang sudah nggak zamannya menilai kepintaran orang melalui nilai akademis, tapi bagaimana sekolah dapat menilai siswa dari kompetensi secara keseluruhan. (*)