RS Puri Cinere Dukung Upaya Stop Difteri

In Satelit Depok, Wilayah Depok
DICKY/Radar Depok
PEMBAHASAN: Kadinkes Depok, Direktur RS Puri Cinere, perwakilan IDI, dan para narasumber foto bersama di sela seminar Stop Difteri, kemarin.

DEPOK – Menyikapi adanya kejadian luar biasa (KLB) difteri di Jawa Barat, RS Puri Cinere menggelar seminar kesehatan bertajuk Stop Difteri yang diikuti para tenaga medis, kemarin.

Tampil sebagai narasumber dalam seminar ini adalah spesialis penyakit dalam Adityo Susilo, spesialis anak Kiki MK Samsi, dan spesialis THT Niken Lestari. Peserta seminar adalah para dokter atau tenaga medis dari puskesmas se-Kota Depok.

Direktur Rumah Sakit Puri Cinere, Judiwan Delias Maswar, menyampaikan bahwa Puri Cinere bukan hanya menjalankan tugas pelayanan kesehatan, namun secara periodik melakukan edukasi kesehatan terkait profesi dan masyarakat umum.

“Awal tahun lalu, Jawa Barat dinyatakan KLB difteri oleh pemerintah. Penatalaksanaan luar biasa beberapa waktu lalu. Dalam KLB, kadang mengalami kesulitan dalam skrining, penegakan diagnose, dan lain-lain. Kesempatan ini lebih share kepada profesi. Harapan dari narasumber pembicara bisa menambah pengetahuan dan pemahaman apabila menemukan kasus. Terlebih, puskesmas adalah lini atau garda terdepoan dalam melakukan skrining apabila ada kasus,” ujarnya.

Perwakilan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Depok, Suleman Iskandar, menyampaikan harapannya agar seminar ini semakin meningkatkan keyakinan para dokter untuk bisa memberikan pemahaman kepada masyarakat agar kegiatan pemberantasan difteri bisa berjalan dengan sukses.

“Terkait KLB, yang harus dikuatkan adalah imunisasi. Puskesmas menjadi lini terdepan dalam melaksanakan imunisasi. Namun, IDI juga meminta tenaga di luar instansi pemerintah untuk membantu. Dalam hal ini, kita berhadapan dengan orang yang anti vaksin. Ada orang yang beranggapan bahwa vaksin bukan hal yang perlu. Di sinilah pean dokter yang mengharuskan para dokter bisa memberikan informasi yang valid dan meyakinkan kepada masyarakat agar bisa menyukseskan pelaksanaan imunisasi dan memberantas difteri,” paparnya.

Sementara, Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok, Noerzamanti Lies Karmawanti, mengatakan upaya imunisasi dilakukan sejak 1956. Ini adalah upaya kesehatan masyarakat yang terbukti paling efektif. Buktinya, Indonesia telah terbebas dari penyakit cacar dan polio berkat imunisasi.

Gambaran epidemiologis kasus difteri di Kota Depok sejak 2015-2017. Pada 2015 ada 1 orang suspect difteri dengan hasil laboratorium negatif. 2016 ada 8 orang suspect difteri, dengan 1 orang difteri confirm, hasil laboratoriumnya positif, dan meninggal. Pada 2017 ada 20 kasus. 16 kasus suspect difteri dengan hasil laboratorium negatif, 4 kasus dengan confirm, 1 meninggal.

“Dari kejadian ini, kita merupakan salah satu kota yang dinyatakan ada kejadian luar biasa (KLB). Maka kita harus melakukan ORI. Yang kita lakukan dalam menanggulangi KLB adalah dengan strategi ORI dengan sasaran 1-19 tahun. Jadi, masing-masing anak mendapatkan tiga kali imunisasi,” jelasnya. (dic)

You may also read!

walikota depok pakai masker CFD

Ini Penjelasan Walikota Depok Bisa Negatif, Meski Istrinya Positif Covid-19

Walikota Depok, Mohammad Idris.   RADARDEPOK.COM, DEPOK - Berkaitan dengan Elly Farida yang terpapar virus Korona (Covid-19),

Read More...
alfamidi SMK Putra Bangsa

SMK Putra Bangsa Gulirkan Alfamidi Class

LULUSAN TERBAIK : Siswa-siswa SMK Putra Bangsa yang menjadi calon peserta Program Alfamidi Class berfoto

Read More...
kantor bawaslu depok ditutup

Ada yang Terkena Covid-19, Sekretariat Bawaslu Depok Tutup

TUTUP : Penampakan Kantor Sekretariat Bawaslu Kota Depok di Jalan Nusantara Raya, Nomor 1 RT03/13

Read More...

Mobile Sliding Menu