SANI/RADAR DEPOK TEROBOSAN: Kepala SDN Mekarjaya 29, Mriyatin menunjukkan sertifikat penghargaan Sekolah Adiwiyata mewakili sekolah dasar.
SANI/RADAR DEPOK
TEROBOSAN: Kepala SDN Mekarjaya 29, Mriyatin menunjukkan sertifikat penghargaan Sekolah Adiwiyata mewakili sekolah dasar.

DEPOK –  SDN Mekarjaya 29 Depok yang terletak di Jalan Rebab Raya, Kelurahan Mekarjaya, Kecamatan Sukmajaya, menutup tahun 2017 dengan meraih penghargaan Sekolah Adiwiyata.

SDN Mekarjaya 29 mewakili tingkat sekolah dasar (SD) dan juara dua lomba Sekolah Bersih dan Sehat tingkat Kelurahan Mekarjaya. Sekolah Adiwiyata sudah mulai diterapkan di 26 sekolah mulai dari tingkat SD, SMP, hingga SMA.

Kepala SDN Mekarjaya 29, Mriyatin mengaku tidak menyangka mendapat penghargaan se-tingkat Kota Depok. Mengingat masih banyak kekurangan yang harus ditambah untuk menjadikan Sekolah Adiwiyata dan Sekolah Menyenangkan Ramah Anak (Semarak) seperti tanaman.

“Untuk mencapai seperti ini tidak mudah. Bulan Februari 2017 dimulai dari membenahi sampah yang menggunung, dengan cara membeli lebih banyak tempat sampah untuk di depan ruangan kelas,” cerita Mriyatin kepada Radar Depok.

Sejak awal tahun 2017, SDN Mekarjaya 29 juga telah menerapkan kepada siswa agar setiap hari membawa tempat makan dan minum ke sekolah.

Kebijakan tersebut dilakukan guna mengurangi jumlah sampah di halaman sekolah. Kebijakan itu ternyata berhasil mengurangi jumlah sampah sebesar 50 persen.

“Kalau tidak membawa tempat makan, ya makan di  warungnya. Masih ada siswa yang kurang disiplin, tetapi semakin ke sini sudah berubah. Berkat dukungan dari wali murid juga,” sambungnya.

2018, Mriyatin merencanakan membuat rumah komposter melalui kerja sama dengan wali murid. Agar setiap seminggu sekali siswa bisa mendaur ulang sampah yang ada di halaman sekolah.

“Di antara program lain, paling berat adalah penanggulangan sampah. Kalau penataan tanaman sudah dilaksanakan,” katanya.

SDN Mekarjaya 29 sudah memiliki dua taman sebagai fasilitas penghijauan. Di taman belakang sekolah berisi tanaman apotik hidup, sedangkan taman depan merupakan tempat bermain anak.

“Saya ingin membuat anak betah di sekolah, dengan menata penghijauannya. Walau pun lahan yang kecil, sebisa mungkin dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk taman. Saya juga berharap semoga dapat menang di tingkat provinsi dan nasional,” tutup Mriyatin. (cr3)