AHMAD FACHEY/RADAR DEPOK MENUNGGU KEBERANGKATAN KERETA : Sejumlah penumpang menunggu keberangkatan kereta saat berada di Stasiun Depok Baru.
AHMAD FACHEY/RADAR DEPOK
MENUNGGU KEBERANGKATAN KERETA : Sejumlah penumpang menunggu keberangkatan kereta saat berada di Stasiun Depok Baru.

DEPOK–Memasuki awal 2018. PT. Kereta Commuter Indonesia (KCI) melakukan trobosan guna memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat khususnya pengguna moda transportasi KRL Commuter Line. Trobosan tersebut berupa modernisasi sistem tiket elektronik.

Jika sebelumnya penumpang KRL yang menggunakan Tiket Harian Berjaminan (THB) khawatir dengan penalti, yang dikenakan apabila turun di stasiun yang yang lebih jauh dari tujuan, kini hal tersebut tidak akan terjadi.

Direktur Utama PT. KCI, Muhammad Nurul Fadhila mengatakan, ini merupakan salah satu inovasi yang dilakukan oleh pihaknya, sebagai penyedia layanan publik khususnya di bidang jasa transportasi.

“Mulai Senin (8/1) mendatang, kami akan berlakukan mekanisme penyelarasan tarif atau Fare Adjusment. Artinya tarif yang dikenakan pada pengguna, sesuai dengan jarak tempuh yang ia lalui, bukan berdasarkan tujuan seperti sebelumnya,” kata Fadhila di Hotel Borobudur, Lapangan Tembak, Jakarta Pusat, Kamis (4/1).

Fadhila menjelaskan, selama ini jika pengguna KRL dengan THB turun di stasiun selain tujuannya, atau menempuh jarak yang lebih jauh dari stasiun tujuannya, akan dikenai biaya penalti (denda) sebesar Rp10.000 yang diambil dari biaya jaminan kartu.

Akan tetapi, mulai Senin (8/1) mendatang, mekanisme tersebut tidak berlaku lagi. Pengguna THB yang turun di stasiun dengan jarak lebih jauh dari tarif yang tertera pada tiket, hanya perlu membayar selisih antara tarif yang dibayarkan pada transaksi awal dan tarif seharusnya.

“Kalau salah turun di stasiun, misalnya dari Jakarta beli tiket ke Depok tapi turun di Bogor, sebelum fare adjustment diterapkan, penumpang tersebut akan kena penalti. Tapi dengan fare adjustment tidak ada kasus seperti itu, tidak kena penalti, tapi membayar kekurangan atas perjalanannya melalui mesin fare adjustment,” beber Fadhila.

Proses penyesuaian tarif ini akan dilakukan melalui mesin penyelaras tarif (vending machine fare adjustment) maupun di loket dua arah yang terletak di dekat gerbang elektronik keluar stasiun. Saat ini telah ada 26 mesin penyelaras tarif di 25 stasiun. Sementara itu, jika mesin penyesuaian tarif tersebut di beberapa stasiun belum tersedia, bisa dilakukan di loket dua arah atau petugas yang akan membantu penumpang.

“Stasiun yang belum dilengkapi vending machine fare ini kami sudah siapkan seluruh loket untuk fasilitas itu,” ungkapnya. Ia juga mengingatkan penumpang yang akan membayar selisih tarif THB pun harus menyiapkan uang pas, karena tidak disediakan uang kembalian. Selain Fare Adjustement pada THB, mulai 8 Januari, PT KCI menurunkan saldo minimal pada pengguna Kartu Multi Trip (KMT).

“Sebelumnya saldo minimal di KMT sebanyak Rp 13.000, kedepan berbarengan dengan pemberlakuan Fare Adjustment ini juga akan diturunkan menjadi Rp 5.000,” beber Fadhila.

Sementara itu, lanjut Fadhila, jika pengguna KMT yang kurang saldo atau jika perjalanan tersebut melebihi tarif minimum Rp 5.000, maka dapat melakukan top up di mesin penyelaras tarif atau vending machine fare adjustment dan atau di loket dua arah.

“Jika pengguna pengguna KMT tidak terdata di gate in dan gate out, maka kini tidak lagi dikenakan penalti sesuai tarif terjauh Rp 13.000. Mulai Senin, 8 Januari, cukup melakukan penyesuaian tarif yang prosesnya dilakukan melalui petugas staf stasiun,” sambungnya.

Adapun stasiun yang dilengkapi Fare Adjusment Vending Machine  antara lain : Bojonggede, Citayam, Depok Lama, Depok Baru, Lenteng Agung, Pasar Minggu, Tebet, Cilejit, Daru, Sudimara, Serpong, Karet, Sudirman, Jurangmangu, Duri, Bojong Indah, Rawa Buaya, Batuceper, Tanah Tinggi, Jatinegara, Pasar Senen, Tanjung Priok, Kranji, Klender Baru, dan Buaran.

Sementara itu, sepanjang tahun 2017, PT KCI telah mampu melayani 315 juta pengguna KRL, jumlah tersebut melesat jauh dari target yakni 292 juta atau meningkat 12,5% dibanding realisasi volume pengguna tahun 2016.

“Ini merupakan hasil kerja keras kami dalam terus melakukan pembenahan dalam membangun moda transportasi ini,” lanjut Fadhila.

Kedepan, PT KCI menargetkan dapat melayani 320 juta pengguna jasa atauy meningkat 9,5% dibandingkan program tahun 2017, “tentu ini kami imbangi dengan terus menambah formasi rangkaian 12 kereta dan 10 kereta. Dan mengurangi formasi delapan kereta,” pungkasnya. (ade)