ADE/RADAR DEPOK MEMBANGGAKAN: Siswa Technonatura yang berfoto bersama robot yang berhasil membawa mereka menduduki juara kedua untuk kategori design inovatif dalam event robotik Internasional.
ADE/RADAR DEPOK
MEMBANGGAKAN: Siswa Technonatura yang berfoto bersama robot yang berhasil membawa mereka menduduki juara kedua untuk kategori design inovatif dalam event robotik Internasional.

Pendidikan merupakan bekal manusia dalam menjalani kehidupan di dunia. Tanpa pendidikan, bisa diibaratkan seorang manusia yang berjalan di sebuah hutan tanpa membawa kompas, bisa diyakini manusia tersebut dapat tersesat. Saat ini sarana pendidikan ibarat kacang goreng, sudah tersedia dimanapun terlebih di kota kota besar, sehingga butuh strategi dalam menarik minat masyarakat dengan inovasi dan tentu tidak menghilangkan kualitas pendidikan tersebut.

LAPORAN : ADE RIDWAN YANDWIPUTRA

 

Sekolah konvensional yang menerapkan mekanisme kegiatan belajar mengajar dikelas mungkin sudah tidak dapat terhitung lagi dengan hitungan jari. Hampir seluruh sekolah-sekolah di Indonesia menerapkan sistem konvensional tersebut, tak terkecuali di Kota Depok.

Masyarakat seolah ter-mindset bahwa pendidikan formal adalah sekolah yang menerapkan kegiatan belajar mengajar didalam kelas dengan seorang guru yang mengajar di depan berbekal papan tulis dan spidol.

Namun tidak dengan Madrasah Internasional Technonatura. Madrasah yang berlokasi di Jalan Komplek Griya Tugu Asri Blok E, Kelurahan Tugu, Cimanggis ini, merupakan madrasah unik, langka dari 70.414 madrasah se-Indonesia versi Kementerian Agama RI.

Keunikan madrasah tersebut, terletak pada mekanisme kegiatan belajar mengajarnya. Selain berbasis teknologi dan alam, ruang kelas Madrasah ini didesain model Gasebo dengan bahan bangunan kayu yang unik dan menarik, di kanan kirinya terdapat pohon besar yang rindang sehingga memberikan keleluasaan udara segar penuh oksigen yang nyaman dengan suasana madrasah sehat.

“Boleh dikatakan bahwa Madrasah Internasional TechnoNatura merupakan model sistem pendidikan teknologi dengan sistem sekolah alam,” kata Kepala MA Tehcnonatura, Rustam Ibrahim saat ditemui di Kantornya Jalan RTM No.16 Kelurahan Tugu, Cimanggis.

Model bangunan terkesan sederhana dan jauh dari mewah layaknya sekolah unggulan atau internasional lainnya, sebagaimana yang kerap kita lihat. Satu ruang kelas MI misalnya hanya berukuran 4×4 meter dengan komposisi jumlah murid per kelas 12-14 orang. Sungguh merupakan jumlah yang ideal yang memungkinkan terjadi hubungan saling dialogis antar komunitas kelas.

“Tenaga pengajarnya (guru) disini juga didominasi anak-anak muda yang progresif dan kompeten di bidang teknologi dan ahli dalam teknologi pendidikan,” lanjtu Rustam.

Madrasah Internasional TechnoNatura belajar dengan sistem tematik-integratif jauh sebelum pemerintah menerapkan Kurikulum 2013. dengan spirit tersebut, anak-anak dilatih membuat disain rumah dengan software tiga dimensi, pembelajaran animasi, membuat game, CD tutorial interaktif dan lain sebagainya.

“Kami juga mengajarkan Interaksi guru murid dibangun dengan egaliter, yakni mengganti sebutan guru dengan kakak, sehingga memungkinkan hubungan saling asah, asih dan asuh atas dasar kekeluargaan, relasi adik-kakak yang interaktif,” lanjut Rustam.

Walau tidak terkesan mewah, namun madrasah ini mampu menanamkan anak didiknya dengan kemandirian, kuat mental, menemukan sendiri (riset) dan mereka mampu menggunakan teknologi informasi sebagai prasarana belajarnya.

Dari sisi pembiayaan, sekolah ini juga cukup unik. Biaya masuk hanya Rp4 juta dengan SPP perbulan peranak diambil dari 5% dari gaji orang tuanya. “Terjadi subsidi silang antara yang kaya dan miskin,” lanjut Rustam.

Karena belum menggunakan sistem pendidikan berasrama, maka sekolah ini mempersyaratkan tempat tinggal siswa berasal dari jarak yang cukup dekat dari madrasah. Hal ini juga bertujuan untuk memperketat persaingan antar siswa, pasalnya keinginan masyarakat untuk masuk kesekolah ini cukup padat.

“Kedepan ini juga yang perlu ditinjau ulang agar kesempatan masyarakat lain dapat mengakses pendidikan di madrasah ini cukup banyak,” katanya.

Selain menerapkan kegiatan belajar mengajar yang cukup unik, sekolah ini juga rajin megikuti lomba robotik tingkat nasional dan internasional. Hal ini juga turut membuat Kedutaan Besar Amerika di Indonesia melirik dan menjadikan sekolah ini menjadi perwakilan Indonesiadi ajang lomba robotic tingkat Internasional di Washington DC, Amerika Serikat.

Salah satunya, sekolah ini berhasil memenangkan juara kedua kategori Ustad Ahmad Lahori atau design robot paling inovatif di ajang First Global Challenge Robotic Olympic yang diselenggarakan di Washington DC, Amerika Serikat pada 16-18 Juli 2017 lalu. Kompetisi ini diikuti oleh 163 tim dari 157 negara diseluruh dunia.

Kerjasama antara pihak sekolah dengan kedubes Amerika di Indonesia, memudahkan jalan sekolah ini untuk berkarya di tingkat Internasional. Meski sudah bekerjasama, namun kedubes Amerika tetap mengecek dan memastikan bahwa MA Technonatura merupakan sekolah yang pantas untuk dikirim ke Amerika mewakili Indonesia.

“Awalnya kita memang sering lomba, dari kedubes Amerika sudah melihat kita dibidang robotic. Kedubes Amerika di Jakarta merekomendasikan kita dan mengundang kita. Mereka telpon dan melakukan pengecekan untuk memastikan kita orang yang tepat untuk dikirim ke sana,” lanjut Rustam.

Total terdapat 13 orang yang berangkat menuju Amerika. Diantaranya, tiga mentor, dan 10 peserta lainnya yang berada satu tim. Peserta yang dipilih merupakan siswa kelas X dan XI.

“Yang utamanya kelas X dan XI, yang sekarang jadi kelas XI dan XII. Total disana tujuh hari. Berangkat Jumat pulang juga Jumat. Kemarin lombanya selama tiga hari, tanggal 16-18 Juli. Persiapannya selama dua hari, plus dua hari ekstra jalan-jalan dan tanggal 23 Juli baru pulang,” ujar Rustam. (bersambung)