ADE/RADAR DEPOK PASRAH : Suhartanto (29) (kedua kiri) terduga pelaku pembunuhan istri tertunduk pasrah usai keluar dari ruang sidang, Rabu (3/1).
ADE/RADAR DEPOK PASRAH : Suhartanto (29) (kedua kiri) terduga pelaku pembunuhan istri tertunduk pasrah usai keluar dari ruang sidang, Rabu (3/1).

DEPOK–Suhartanto (29), terduga pelaku pembunuhan Yeni Maharani (26) yang diketahui merupakan istri sahnya, bersiap untuk mendengarkan ganjaran akibat perbuatannya pada persidangan yang mengagendakan tuntutan di Pengadilan Negeri Kelas 1B Kota Depok, Rabu (3/1).

Namun, karena Jaksa Penuntut Umum (JPU) berhalangan hadir, maka sidang tuntutan harus ditunda dan Suhartanto harus kembali menunggu dibalik jeruji besi hingga masa penahanannya dapat dipastikan oleh Jaksa dan Majelis Hakim.

Kuasa Hukum Suhartanto, Abdul Hamim mengatakan, menyayangkan sikap JPU yang menunda agenda persidangan. Pasalnya, persidangan telah diundur selama tiga minggu.

“Penundaan itu bisa dipahami, karena hal biasa dalam proses persidangan, tapi ini sudah lama, kurang lebih 3 minggu yang lalu, tapi hari ini belum siap, kami menyayangkan itu,” kata Abdul kepada Radar Depok, Rabu (3/1).

Sementara, pada persidangan terakhir, Abdul mengatakan, persidangan mengagendakan mendengarkan keterangan saksi ahli dan saksi verbalisan. “Banyak kejanggalan dari keterangan saksi verbalisan dengan fakta fakta dilapangan,” kata Abdul.

Pertama, lanjut Abdul, dalam persidangan tersebut juga diputar viedo rekaman rekonstruksi. Dalam video tersebut tidak diperagakan kejadian Suhartanto memukul mulut korban sedangkan dari hasil visum ada luka memar dibibir korban.

“Dari situ sudah ada kejanggalan, dan ada lagi kejanggalan lainnya yakni tidak didampinginya Suhartanto dengan penasehat hukum saat proses pemeriksaan berjalan,” lanjut Abdul.

Padahal, Abdul mengatakan, dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) rekonstruksi, kliennya didampingi oleh kuasa hukum. “Proses pemeriksaan Suhar tanggal 21 Juli,  dan saksi verbalisan mengaku sebelumnya sudah mengajukan surat penunjukkan pengacara, tapi ternyata tanggal 29 Juli baru keluar suratnya, artinya selama proses pemeriksaan Suhar tidak didampingi pengacara,” beber Abdul.

Abdul mengatakan, hal tersebut merupakan pelanggaran hak kliennya sebagai tersangka, dan pihaknya akan melaporkan kejadian tersebut ke sie. Propam. “Kita pertimbangkan juga untuk dipidanakan karena ini pemalsuan,” lanjut Abdul.

Sementara terkait dakwaan, Abdul tetep keukeuh kalau kliennya tidak melakukan perbuatan yang sangat tidak terpuji tersebut. “Apapun hasilnya, kami akan banding nanti,” kata Abdul.

Meskipun begitu, Abdul mengatakan, dirinya percaya kalau korban mati karena terbunuh. Namun, bukan kliennya. “Saya yakin korban ada yang membunuh tapi bukan Suhar. Saya juga tanyakan kepada verbalisan apakah penyidik melakukan tracking hp selama korban hilang kemana saja, tapi ini tidak dilakukan. Padahal ada potensi lain selain klien kami, terlebih tidak ada saksi satupun yang melihat bahwa Suhar yang membunuh,” pungkasnya.

Diketahui, Yeni Maharani (26), ditemukan tewas mengenaskan di bawah Jembatan Grand Depok City (GDC), Kecamatan Pancoranmas, pada Juli 2017 silam. Setelah pihak kepolisian melakukan penyelidikan, diungkapkan suaminya sendiri yakni Suhartanto (29) yang membunuhnya.

Suhartanto ditangkap Aparat Kepolisian Sektor Pancoranmas pada 21 Juli 2017 dan langsung dilakukan penyelidikan, diketahui motif pembunuhan karena ketahuan selingkuh.

Sementara itu, Kakak ipar Suhartanto, Suyanto mengatakan, pertengkaran antara adik iparnya dengan korban sudah diketahuinya sejak Lebaran tahun ini. Dugaan pertengkaran karena korban menyatakan sang suami selingkuh.

Namun, ia berani menjamin adik iparnya tersebut tidak melakukan pembunuhan. Pasalnya ia tidak pernah melihat adik iparnya memukul terhadap istri hingga pihak keluarga lainnya.

“Sampai kami datangkan orangtua kandungnya untuk menanyai. Nggak mungkin dong anak membohongi orang tuanya,” kata Suyanto.

Suyanto mengatakan, adik iparnya mendapati sang istri telah tewas dari kakak kandung korban yang berada di kampung.

Dalam pesan singkat, kakak kandung korban menyuruh pelaku mendatangi jembatan GDC untuk mencari sang istri. “Setelah sampai di sana, sang istri sudah tewas,” kata Suyanto.

Jaksa Penuntut Umum (JPU), Kozar Kertyasa mendakwakan pelaku dengan Pasal 44 UU No.23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga atau Pasal 340 KUHP atau Pasal 338 KUHP atau Pasal 351 KUHP. (ade)