SANI/RADAR DEPOK Pemiliki Bengkel 99 Motor Vespa, Mistari sedang mereparasi motor pelanggan di halaman bengkelnya, Minggu (11/2).
SANI/RADAR DEPOK
Pemiliki Bengkel 99 Motor Vespa, Mistari sedang mereparasi motor pelanggan di halaman bengkelnya, Minggu (11/2).

Kecanggihan teknologi tidak membuat motor vespa tenggelam di jalan raya. Malahan, motor berbodi semok ini malah menjadi primadona, bagi para pecinta motor lawas. Di Kota Depok sendiri, terdapat bengkel khusus motor pabrikan Italy ini, yakni 99 Motor Vespa di Jalan Raya Pitara Kelurahan/kecamatan Pancoranmas.

LAPORAN : NUR APRIDA SANI

Demam vespa di tanah air sangat di pengaruhi oleh Vespa Congo. Vespa diberikan sebagai penghargaan Pemerintah Indonesia, terhadap pasukan penjaga perdamaian Indonesia yang bertugas di Congo saat itu.

Setelah banyak Vespa Congo berkeliaraan di jalanan, mulailah Vespa Congo menjadi salah satu pilihan kendaraan roda dua di Indonesia. Importir lokal turut mendukung perkembangan vespa di tanah air.

Sampai saat ini sudah puluhan varian vespa yang mampir di Indonesia. Dari yang paling tua hingga yang paling baru ada di Indonesia. Sampai saat ini, Indonesia mungkin masih bisa disebut sebagai surganya vespa.

Jangan heran, jika berkendara di jalan kerap melihat motor berbodi semok. Bahkan, muncul komunitas-komunitas vespa yang anggotanya dari orangtua hingga kaula muda.

Namanya motor lawas, sudah pasti tidak semua mesinnya sehat dan sang pemilik pun tidak terlalu paham dengan kondisi mesin tunggangannya. Mereka terkadang memiliki bengkel-bengkel vespa langganan, untuk mengoprek kuda besi mereka, agar layak jalan dan bisa kongkow dengan teman-teman komunitas.

Kali ini, awak Radar Depok menyambangi bengkel motor khusus pabrikan Italy tersebut. Adalah Mistari owner Rumah Sakit Vespa di Jalan Raya Pitara. Sang empunya menamakan bengkel tersebut dengan nama 99 Motor Vespa.

Sedikit mengulik, Mistari menjelaskan awal mula terjun menjadi mekanik vespa. Pria berusia 42 tahun itu boleh dibilang jauh dari bidang yang digeluti saat ini. Malahan, sebelumnya ia bekerja sebagai karyawan di salah satu pabrik elektronik di Pulo Gadung, Jakarta Timur tahun 1997.

Lantaran bosan bekerja sebagai karyawan, di tahun 2003 berhenti dari pabrik tersebut dan banting stir membuka warung sembako di Pondok Labu, Jakarta Selatan dari pesangon yang di dapat.

“Saya bosan sudah 6 tahun kerja begitu-begitu aja, makanya saya berhenti dan mencoba hal yang baru,” kata Mistari.

Pria yang akrab disapa Bang Kumis ini menjelaskan, di samping toko sembako miliknya terdapat bengkel vespa, dan sang pemilik berbaik hati untuk mengajarkan serta menurunkan keahliannya di bidang vespa.

“Awalnya saya cuma disuruh ngamplas dan ngecat bodi vespa punya langganannya, lama-lama diajarkan mengenai mesin untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan yang sering muncul di vespa,” jelas bapak satu anak tersebut.

Tahun 2006, toko sembako miliknya digusur, tidak patah arang untuk tetap menghidupi keluarganya, dengan keahlian baru di bidang vespa. Bang Kumis memberanikan diri untuk membuka bengkel vespa di lokasi yang saat ini ditempati.

“Saat itu teman saya mengajak untuk buka bengkel, tadinya dia mekanik di salah satu bengkel vespa di Kota Depok. Tetapi dia ingin membuka bengkel vespa sendiri,” ujar pria berkumis tebal tersebut.

Usaha bengkelnya hingga saat ini masih eksis. “Alhamdulillah masih panjang usahanya sampai sekarang, semoga makin banyak juga yang reparasi motornya disini,” harapnya.(bersambung)