FACHRI/RADARDEPOK JUAL NISAN: Kurniawan, Pengrajin Nisan dan Prasasti di Jalan Raya Parung Serab (KSU), Kelurahan Tirtajaya, Sukmajaya sedang memperlihatkan karyanya untuk dijual.
FACHRI/RADARDEPOK
JUAL NISAN: Kurniawan, Pengrajin Nisan dan Prasasti di Jalan Raya Parung Serab (KSU), Kelurahan Tirtajaya, Sukmajaya sedang memperlihatkan karyanya untuk dijual.

Rejeki memang tak bisa disangka, manusia hanya bisa merencanakan namun rejeki tetap pilihan tuhan. Meski bukan menjadi cita-cita sejak kecil menjadi tukang pahat nisan dan prasasti, namun masih menjadi satu-satunya penghasilan Kurniawan sejak 1982 hingga sekarang.

Laporan: Rubiakto

Sebelumnya tak pernah terbayangkan pria kelahiran Jakarta ini untuk menjadi pembuat prasasti dan batu nisan sebuah makam. Cita-citanya, menjadi sebagai seorang pelukis tentunya harus diikhlaskan diganti sebagai seorang pemahat batu nisan. “Saya cukup bersyukur dengan apa yang saya dapat sekarang,” kata Kurniawan saat ditemui di Kiosnya di Jalan Raya Parung Serab (KSU), Kelurahan Tirtajaya, Sukmajaya.

Kurniawan mengaku, sejak kecil dia sangat tertarik dengan dunia seni, khususnya seni lukis. Berkaca dari Basuki Abdulah pelukis di era 70-80an tentu menjadi inspirasi anak muda pada saat itu, dengan membuat hasil karya lukis yang original dapat diganjar dengan pendapatan yang fantastis. “Lihat saja Basuki Abdulah lukisannya laku sampai miliaran rupiah, sehingga saya ingin seperti dia,” kata Ame -sapaan akrab Kurniawan-.

Sempat menjadi penjaga makam tentu menjadi jalan dirinya menjadi pemahat, yang menjadi tumpuan hidup keluarganya. “Saya diajak mahat, coba-coba ikut bos, ternyata saya bisa, dan tertarik, hingga saya ikut bos sampai tahun 2005,” ujar Ame.

Sejak 2006, dia memutuskan untuk mmembuka usahanya sendiri, dengan kemampuan dan keahlian dibidang seni, dan keterampilan memahat tentu bisa menjadi modal utama membuka kios pembuatan prasasti dan batu nisan.

Ame mengaku, masih membuat ukiran di prasasti secara manual, dan beberapa kaligrafi yang ada di prasasti merupakan hasil karyanya. “Kaligrafi masih saya buat sendiri, meski ada beberapa karya yang menggunakan mesin ukir,” terang Ame.

Menurutnya, kecintaanya terhadap kesenian tentu masih bisa disalurkan untuk membuat kaligrafi dan ornamen dalam prasasti atau batu nisan yang dibuatnya. Banyak pengalaman yang didapat untuk membuat prasasti dan batu nisan mulai dari perasaan takut, hingga membanggakan pernah membuat prasasti perdamaian.

Selain itu, tanggung jawab dan kejujuran juga harus menjadi prioritas utama bagi pedagang. Sehingga usahanya masih bisa berjalan hingga sekarang. “Intinya saya ini juga menawarkan jasa pembuatan batu nisan, jadi saya tetap menggunakan hukum dagang yang jujur, dan tanggung jawab pada pekerjaan,” ujar Ame. (bersambung)