FOTO: Muhammad Fahmi Penulis adalah “Penulis Buku Cita-Citaku Jadi Presiden”

 

FOTO: Muhammad Fahmi
“Penulis Buku Cita-Citaku Jadi Presiden”

Oleh: Muhammad Fahmi *)

Lelaki  Ilham dari Surga

Batu-batu seperti menyingkir
sebelum ia datang, sebelum ia lewat
Semak-semak seperti menguak
sebelum dia injak, sebelum dia menyeberang
Ia berjalan dengan matanya,
Ia berjalan dengan perutnya,
Ia berjalan dengan punggungnya
tetapi ternyata ia lebih banyak berjalan dengan fikirannya

Gadis-gadis selalu menyapa
karena dia tampan meskipun penuh luka
Kata-katanya tak bias dimengerti
Tetapi selalu saja akhirnya terbukti
Ia lelaki gagah perkasa,
Ia lelaki ilham dari sorga,
Ia lelaki yang selalu berkata,
“bahwa kita pasti akan kembali lagi kepadaNya.”
du dududududududududududu

Itulah penggalan dua alinea terakhir syair lagu dari Ebiet G Ade dengan judul Lelaki Ilham dari surga yang dibacakan oleh Wali Kota Depok KH Mohammad Idris saat membuka secara resmi acara Festival Budaya Islami Kota Depok beberapa waktu lalu. Puisi yang dibacakan dengan musikalisasi puisi tersebut rupanya memukau para pengunjung pada acara yang juga digelar dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Seketika itu juga penulis mencoba lebih dalam mendengarkan lagu musikus legendaris Abid Ghoffar Aboe Dja’far atau lebih dikenal dengan Ebiet G Ade tersebut. Walau sebenarnya penulis sangat mengetahui bahwa Ebiet G Ade yang lahir di Banjarnegara, Jawa Tengah, pada 21 April 1954 adalah sosok penyanyi dan penyair dengan ragam syair lagu penuh makna filosofis. Ebiet lebih senang dikenal sebagai penyair. Berkat kepawaiannya melagukan puisi, syair pada musiknya dapat dinikmati berbagai kalangan, baik muda maupun tua dan mashyur sepanjang masa. Karya-karyanya sukses membaurkan antara harmonisasi lirik dengan nada. Pria yang punya ciri khas dengan tampil membawakan lagu sambil memainkan gitar akustik menghasilkan karya-karya yang dapat memberikan inspirasi kaum muda dalam melakukan terobosan terutama di bidang seni.

Bila direnungkan kalimat demi kalimat, menjadi sangat dalam maknanya dan timbul suatu pertanyaan “Siapakah Dia Lelaki Ilham dari Surga” itu? Lelaki yang dimaksudkan tentu bukan manusia biasa karena “Dia jelajahi jagat raya ini” dan “Batu-batu seperti menyingkir sebelum ia datang, sebelum ia lewat Semak-semak seperti menguak sebelum dia injak, sebelum dia menyeberang” .Dia adalah Manusia dari Surga yang datang ke dalam dunia: berjalan, berpikir, berkata-kata, bukan sebagai manusia yang gagah perkasa, pahlawan perang atau sebagai pemimpin perang. Dia adalah Lelaki Ilham dari Surga yang datang dan mengalami luka (“karena dia tampan meskipun penuh luka”).Lagu ini menceritakan seorang lelaki luar biasa. Setiap telinga manusia yang mendengarkan boleh menduga siapa saja sesuai dengan perspektif argumentatif masing-masing.

Bait-bait lagu Ebiet ini rupanya begitu menginspirasi jiwa Kiai Idris untuk sebuah perjuangan dan pengorbanan untuk kebahagiaan dan kesejahteraan manusia. lagu-lagu balada legendaris Ebiet G Ade, seolah sedang mendengarkan beragam petuah bijak tentang hidup dan bagaimana menjaga kehidupan.Lagu-lagu Ebiet, menentramkan serta mampu membuka mata hati yang mendengarnya.

Lirik lagu ini sangat dalam penuh makna. Dalam perspektif Kiai Idris, dalam lagu ini betapa rasul digambarkan sosok pekerja keras, tanpa batas, mengutamakan kepentingan orang lain daripada dirinya, dicintai dan disayangi oleh siapapun. Karena akhlak dan karakter kepeduliannya serta keteladanannya.

Liriknya jelas merangkum sebuah perjalanan. Demikian liriknya.    “Dia yang berjalan melintasi malam, adalah dia yang kemarin dan hari ini. Akan selalu menjadi ribuan cerita, karena telah menempuh semua perjalanan. Dia berjalan dengan kakinya. Dia berjalan dengan punggungnya. Dia berjalandengan perutnya. Dia berjalan dengan kepalanya, tetapi ternyata dia lebih banyak berjalan dengan fikirannya”.

Sekilas sudah nampak, tokoh yang dimaksud seorang hamba Allah SWT yang sedang melakukan perjalanan. Perjalanan malam bisa jadi Isra’ Miraj yang menembus langit ruang dan waktu. Perjalanan hijrah Rasulullah dari Mekah ke Madinah. Perjalanan Nabi dalam ibadah puasa. Perjalanan Nabi bekerja keras menegakkan agama dan perjalanan Rasul menerima Wahyu dan menyampaikan dengan akal fikirannya.

Di bait berikutnya, lagu itu menguak kalimat tentang keanggunan mukjizat Rasul. Seperti : ” Batu-batu seperti menyingkir ketika dia datang, ketika dia lewat. Semak-semak seperti menguak ketika ia singgah ketika ia menyeberang.

Gambaran seperti itu kerap diceritakan para ulama saat mengaji tarikh Nabi. Ebiet menyajikannya dalam kilas puisi yang apik.

Satu lagi baitnya, menyajikan kekhasan. “Gadis-gadis selalu menyapa, karena dia tampan, meski pun penuh luka”. Sebagian penyair mengira ini kiasan untuk Nabi Yusuf As atau pun juga Nabi Isa As. Tetapi tetap saja Ebiet menggugah penuh rahasia.

Sebuah zuhud mulia dari syairnya tertulis ” meskipun dia lebih lapar dari siapa pun. Meski dia pun lebih sakit dari siapa pun. Meski pun dia lebih nista dari siapa pun”.

Dan akhirnya Ebiet memuncak pada kesimpulan, pada bait akhir.     “Kata-katanya tak bisa dimengerti, namun selalu saja akhirnya terbukti”. Kata ini Nyaris seperti kekuatan kisah Nabi Khidir AS atas pertanyaan Nabi Musa AS.

Namun di ujung puisi ini, nampak terang dan jelas. Bait yang berbunyi ” Dia lelaki gagah perkasa, dia lelaki ilham dari surga. Dia lelaki yang selalu berkata, bahwa kita pasti akan kembali lagi Kepada-Nya “.

Kita bisa menyimak dan bisa menduga atas lagu spiritual ini. Namun Kiai Idris merasakan, figur Nabi Muhammad SAW, paling kuat menjadi inspirasi lagu puitis ini. Ebiet menekankan makna perjalanan, perjuangan, pengorbanan tiada henti. Sesuatu yang membekas dalam sejarah hijrah yang merubah sebuah peradaban masa depan manusia. Juga perjalanan malam sekejap mata menembus langit, menjemput waktu shalat. Hingga perjalanan kita hari ini di setiap pertambahan waktu tahun Hijriyah, menuntaskan peradaban hingga hari kiamat. Dengan ibadah terus tanpa henti. Seperti sebuah perjalanan. Perjalanan dunia hingga akhirat. Perjalanan hijrah yang terus berubah jadi kebaikan. Terimakasih Mas Ebiet, kali ini telah memberikan inspirasi tentang makna perjuangan dan pengorbanan. Teruslah berkarya melalui seni dan menginspirasi Warga jagat ini…. (*)

*)Penulis adalah Penulis Buku Cita-Citaku Jadi Presiden