AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK EVAKUASI: Petugas Damkar dibantu warga sedang mengevakuasi sejumlah barang milik warga yang rumahnya terkena luapan air banjir.
AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
EVAKUASI: Petugas Damkar dibantu warga sedang mengevakuasi sejumlah barang milik warga yang rumahnya terkena luapan air banjir.

DEPOK – Hingga Selasa (6/2) masih ada korban terdampak banjir luapan sungai Ciliwung yang berada di pengungsian. Seperti terjadi di RW12 Pasir Gunung Selatan (PGS), ada 210 santri berasal dari Pondok Pesantren (ponpes) Darul Quran memilih mengungsi. Sebagian diungsikan ke ponpes pusat, dan ada pula yang dijemput orang tua. Hal tersebut disampaikan Ketua LPM Kelurahan PGS, Anggoro.

Selain itu lanjut Anggoro, sekitar 30 santri memilih bertahan tinggal di lantai 2 ponpes. Dan di RT05/RW07 Kelurahan PGS sekitar 21 Kepala Keluarga (KK) yang mengungsi ke balai warga dan musala di wilayah RW07 yang tidak terdampak banjir.

“Dua orang sakit, ada yang meriang, ada yang terluka kena material banjir berupa paku kena kaki,” terang Anggoro.

Sementara itu, berdasarkan data Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Depok, ada 83 rumah atau KK yang terendam sungai Ciliwung.

Kepala Dinas Damkar Kota Depok, Raden Gandara Budiana menyebutkan, data tersebut sesuai laporan petugas di lapangan. Anggotanya bersama tim lain menyebar di titik-titik banjir dan longsor.

Rumah yang terendam di bantaran sungai Ciliwung, ada di  wilayah Kelurahan Pondok Cina, yakni di Gang Kapuk RT04/RW01 ada 23 KK, RT02/RW02 ada 31 KK, Gang Kober di RT03/5 ada enam KK, dan di RT04/RW06 Kelurahan Pondok Cina, Beji ada tiga KK.

Sedangkan di Kelurahan Kemirimuka, Beji di RT05/RW15 ada 20 KK dan Kelurahan Tirtajaya, Kecamatan Sukmajaya di RT08/02. Sedangkan untuk wilayah Kelurahan Tugu, Cimanggis Taman Duta dan Bukit Cengkeh terkena banjir, tapi aman. Dan ada  wilayah Kelurahan Ratu Jaya, Cipayung Kampung Rawa Geni RT03/01 bencana tanah longsor.

”Wilayah Bojongsari dan Sawangan Perum BSI dan Bukit Pamulang Permai Kelurahan Pondok Petir dengan situasi aman,” kata dia.

Sementara itu, Kabid Sumber Daya Air (SDA) DPUPR Kota Depok, Citra Indah Yulianti menuturkan, pasca banjir di bantaran sungai Ciliwung dan titik longsor menurunkan empat regu. Masing-masing satu regu 10 personel.

“Empat regu kami sebar di titik banjir dan longsor,” kata Citra.

Tak hanya itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Depok pun menurunkan personelnya dan standbya saat kejadian banjir, Senin (5/2) dari Puskesmas Sukmajaya dan UPS Kemirimuka. Personil yang diturunkan terdiri dari dokter, perawat, dan mobil ambulan.

“Kesiapan pencegahan penyakit saat banjir kami telah  meninjauan ke lokasi rawan banjir oleh petugas puskesmas setempat, penanganan dan pengobatan langsung apabila ditemukan warga menderita penyakit akibat banjir. Dan  Rujukan ke Rumah Sakit apabila diperlukan berkoordinasi dengan SPGDT 119 Depok,” ungkap Sekretaris Dinas Kesehatan Depok, Ernawati.

Sementara Gadis (28) warga RT05/RW14 Kelurahan Kemirimuka, Beji terpaksa tinggal sementara di rumah orangtuanya yang tidak jauh dari kediamanya yang terkena banjir. Sebab, kondisnya percis berada di bantaran Sungai Ciliwung.

”Masih numpang ke rumah orang tua. Karena masih ada genangan air dan lumpur,” ujar Gadis.

Ia juga mengucapkan banyak terima kasih bantuan dari pemerintah Depok, Polresta dan Kodim 0508 Depok.

Kena Longsor, Ngungsi di Kontrakan

Setelah longsornya turap perumahan Barazaki Residen 2, di RT 03/02, Kelurahan Ratujaya, Kecamatan Cipayung, korban Miftahudin akhirnya mengungsi di rumah kontrakan yang tidak jauh dari rumahnya. Kondisi bangunan akibat tertimbun longsor di sangat memprihatinkan, tembok di sisi selatan rumah nyaris tidak tersisa, hingga dua ruang kamar, dan dapur rumah tersebut menganga diterjang longsor.

Petugas Pemadam kebakaranpun langsung membersihkan puing sisa longsoran yang menimpa rumah Miftahudin. “Kami membersihkan sisa puing dengan dibantu petugas pemadam kebakaran,” kata Miftahudin.

Menurutnya, saat kejadian hujan begitu lebat, dirinya pun sengaja keluar untuk melihat keadaan sekeliling rumahnya, karena berada menempel di turap Perumahan Barazaki Residen 2 setinggi tujuh meter dirinya khawatir akan terjadi longsor. “Awalnya hujan deras, saya sengaja keluar, di lubang turap airpun mengalir begitu deras. tak lama turap retak,” kata Miftahudin.

Melihat turap retak, Miftahudin langsung membangunkan ketiga anak dan istrinya untuk keluar rumah. “Benar saja, ketika tak lama saya mengajak anak keluar langsung turap setinggi tujuh meter disebelah rumah rubuh menimpa rumah saya,” kata Miftahudin.

Sementara itu menurutnya saat ini pihaknya mengungsi di rumah kontrakan yang tidak jauh dari rumahnya saat ini. “Kami mengungsi di rumah kontrakan yang tidak jauh dari sini (rumahnya yang tertimpa longsor, red) dan biayanya dibebankan kepada managemen Perumahan Barazaki Residen 2,” ujar Miftahudin.

Dia juga mengatakan pihak perumahan juga berjanji akan bertanggung jawab untuk membenahi kembali rumahnya, hingga seperti semula. “Semua perbaikan akan dibebankan kepada managemen perumahan, dan saya tingga di tempat yang disediakan hingga rumah saya selesai dibangun,” pungkas Miftahudin. (dra/irw/cr2)