AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK MEMPRIHATINKAN : Komariah, warga RT001/RW003, Kelurahan Sukamaju, Kecamatan Cilodong, menunjukaan atap rumahnya yang sudah rusak dan selalu bocor dikala hujan, kemarin.
AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
MEMPRIHATINKAN : Komariah, warga RT001/RW003, Kelurahan Sukamaju, Kecamatan Cilodong, menunjukaan atap rumahnya yang sudah rusak dan selalu bocor dikala hujan, kemarin.

DEPOK – Hujan deras yang tiga hari ini mengguyur Kota Depok membuat nenek Komariah tidak bisa tidur dengan nyenyak. Warga RT1/3 Kelurahan Sukamaju, Cilodong ini tiap kali mesti berjaga-jaga takut atap rumahnya ambruk menimpa anak dan satu cucunya.

Atap yang bocor di berbagai sisinya semakin membuat nenek Kokom -sapaan Komariah- melek terus. Di bagian belakang rumah, dapur sangat memprihatinkan, beberapa plafon pun ditunjang dengan bambu, agar tidak ambruk. “Kalau hujan pasti bocor, jadi nggak akan bisa tidur, setiap hari saya pasti mengepel lantai. Plafon juga ditunjang biar tidak ambruk,” ujar Kokom kepada Radar Depok saat ditemui dirumahnya.

Rentanya rumah Kokom, akibat tidak maksimalnya perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di 2016. Janda berusia 63 tahun ini menyebutkan,  hasil pembangunan yang dilakukan tidak maksimal, bahkan cenderung semakin buruk. “Dulu pernah dibenerin, tapi malah tambah bocor, kondisinya malah semakin parah. Yang kerja asal tempel-tempel saja,” terang Kokom.

Dia mengatakan, bantuan RTLH hanya untuk memperbaiki bagian atap rumah. Namun, beberapa bagian yang harus diganti tetap dibiarkan. Dia berharap pemerintah masih mau memperbaiki rumahnya.

Terkait adanya dugaan penyelewengan anggaran RTLH di Kecamatan Cilodong, dia juga mengaku pernah dipanggil Kejaksaan Negeri (Kejari) Depok untuk mempertanyakan aliran dana yang diterimanya. “Saya dipanggil dua kali, tapi didampingi anak saya, karena saya tidak bisa menjawab dengan jelas,” kata Kokom.

Ketimbang nenek Kokom, nasib warga RT2/1, Kelurahan Sukamaju, Cilodong, Tumin lebih beruntung. Tumin bisa membangun rumah lebih dari yang dimiliki nenek Kokom. “Saya juga dapat bantuan, tapi saya juga nambahkan anggaran pembangunan dari kantong pribadi,” kata Tumin.

Menurutnya, anggaran yang diterimanya sebesar Rp15 juta hanya cukup untuk membuat atap rumahnya saja, namun untuk memperbaiki bangunan rumah dirinya harus mengeluarkan anggaran yang lebih besar. “Total untuk membenahi rumah saya habis sekitar Rp40 juta, jadi lebih besar nambahinnya daripada bantuannya,” ujar Tumin.

Sementara, terkait dugaan penyelewengan dana bantuan RTLH di Kecamatan Cilodong dirinya menceritakan, anggaran yang turun dari pemerintah Kota Depok sebenarnya sebesar Rp18 juta. Namun, katanya ada kesepakatan untuk memotong anggaran tersebut sebesar Rp3 juta. “Dulu pernah ada yang rapat dipotong Rp 3 juta per rumah. Tapi saya ngga tahu uangnya itu untuk apa,” tegas Tumin.

Begitu pula yang dialami warga RT2/3, Kelurahan Sukamaju, Cilodong, Marzuki penerima bantuan RTLH. Dari anggaran yang didapat dirinya mengaku hanya menerima Rp12 juta. Itu hanya untuk membeli asbes, dan kayu penyangga. “Kalau bisa mengerjakan sendiri, dapat uang tukangnya Rp3 juta, tapi kalau tidak bisa pasang sendiri, tukangnya dari pengelola,” kata Marzuki kepada Radar Depok.

Sebelumnya, puluhan warga Kecamatan Cilodong berbondong-bondong menyambangi Korps Adhyaksa Kota Depok. Secara bergantian sejak pukul 09:00 WIB Selasa (7/1), warga berdatangan memberikan keterangan sebagai saksi di Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Depok.

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Kota Depok, Sufari juga membenarkan telah melakukan pemeriksaan terhadap warga yang mendapat bantuan RTLH di Kecamatan Cilodong. “Iya ada pemeriksaan saksi, tapi belum bisa kami publis, karena pemeriksaan tinggal sedikit lagi,” singkat Sufari.(cr2)