INDRA SIREGAR/RADAR DEPOK AWAS SUSULAN: Kondisi turap yang jebol akibat timbunan tanah mengalami longsor.
INDRA SIREGAR/RADAR DEPOK
AWAS SUSULAN: Kondisi turap yang jebol akibat timbunan tanah mengalami longsor.

DEPOK– Lingkungan Masjid Baiturahman di Perumahan Jatijajar Blok C, RT02/01, Kelurahan Jatijajar, Tapos, tiba–tiba kebanjiran.

Banjir tersebut diakibatkan longsornya sebuah gundukan tanah setinggi 8 meter milik warga perumahan bernama Ali yang berada di belakang lingkungan masjid. Material bekas longsor menutupi arus outlet Situ Jatijajar yang berada di bawahnya.

Aliran air kemudian terhambat dan berbelok arah masuk komplek masjid dan merendam seluruh bangunan.

Nandang, pengurus Masjid Baiturahman mengatakan, saat kejadian dirinya sedang berada di masjid bersama jamaah lain untuk melaksanakan Salat Zuhur. Setelah selesai salat, tiba–tiba terdengar suara reruntuhan bangunan yang cukup keras.

“Kita langsung buru–buru lihat ke belakang. Ternyata tanah yang di belakang longsor dan mematahkan turap penahannya,” kata Nandang kepada Radar Depok.

Akibat dari banjir dan longsor tersebut, pembangunan masjid yang sedang berlangsung menjadi terhambat karena bedeng tempat tinggal tukang terendam banjir dan material. Material bangunan seperti pasir dan batu seplit hanyut terbawa arus.

“Kami khawatir nanti malam ada longsor susulan. Karena tumpukan tanahnya masih tinggi dan posisinya dekat dengan tempat tinggal kami,” sambungnya.

Di tempat yang sama, Juru Air Kecamatan Tapos Dinas PUPR Kota Depok, Juhardi mengatakan, longsor terjadi akibat turap penahan timbunan tanah tidak kuat menahan tanah yang terlalu tinggi dibandingkan turap.

Juhardi mengaku belum mengetahui siapa pemilik tanah dan kapan turap itu dibangun di sana. Karena menurutnya, pemilik tanah tidak memiliki izin untuk menimbun tanah dan membuat turap di lokasi tersebut.

“Saya baru tahu ada penurapan dan penimbunan tanah setelah ada kejadian ini. Semestinya sebelum membuat turap, pemilik lahan harus meminta izin dan rekomendasi terlebih dahulu dari Dinas PUPR agar kami berikan rekomendasi. Tapi faktanya nggak ada permohonan izin yang mereka ajukan hingga longsor ini terjadi,” ungkap Juhardi.

Melihat kondisi tanah yang ditimbun sangat tinggi, pihak PUPR tidak akan memberikan rekomendasi untuk izin pembuatan turap penahan tanah karena ukuran tanah yang ditimbun sangat membahayakan.

Saat ini delapan orang anggota Satgas Banjir SDA diturunkan untuk memperlancar saluran air guna menanggulangi banjir.

“Rencananya akan didatangkan satu unit alat berat untuk mengeruk material longsor dari saluran outlet situ, supaya banjir di masjid bisa berhenti,” kata Juhardi. (dra)