INDRA SIREGAR/RADAR DEPOK SOSIALISASI: Spanduk pemberitahuan penutupan jalan sudah terpasang di sisi Jalan H. Nail.
INDRA SIREGAR/RADAR DEPOK
SOSIALISASI: Spanduk pemberitahuan penutupan jalan sudah terpasang di sisi Jalan H. Nail.

DEPOK– Warga RW22 dan 25, Kelurahan Baktijaya, Sukmajaya, resah dengan pemasangan spanduk pemberitahuan rencana penutupan Jalan H. Nail di RW22 dan anjuran untuk menggunakan akses Jalan Adi Karya di RW25, yang rencananya akan dilakukan pada hari Selasa (13/2).

Warga keberatan dengan rencana penutupan jalan tersebut karena jalan merupakan akses warga sekitar dan juga luar wilayah RW22 dan 25 menuju ke Jalan Raya Juanda dan Margonda.

Mereka juga menolak disuruh menggunakan Jalan Adi Karya, lantaran akan menimbulkan kemacetan parah. Sebab beban Jalan Adi Karya menjadi semakin banyak.

Edi Sahril, Ketua RT04/22, Kelurahan Baktijaya mengatakan, seluruh warga di dua RW tersebut keberatan dengan rencana penutupan sepihak yang dilakukan kontraktor Tol Cijago.

“Kalau Jalan H. Nail ditutup, di Jalan Adi Karya pasti terjadi kemacetan yang luar biasa, karena harus menanggung peralihan arus kendaraan yang biasa melewati Jalan H. Nail,” kata Edi kepada Radar Depok.

Selain menimbulkan macet, kata Edi, penutupan Jalan H. Nail juga akan mengisolir sebagian besar warga RT04/22 yang dipisahkan jalan tersebut. Sehingga akan mempersulit urusan administrasi warga yang akan mengurus berkas di kantor RT maupun RW.

“Kami menolak penutupan jalan tersebut karena jembatan pengganti dan jalan pendamping belum dibangun oleh pihak kontraktor. Penutupan ini terkesan dipaksakan oleh pihak kontraktor,” katanya.

Edi melanjutkan, Jalan Adi Karya sudah menjadi langganan macet, terutama di pagi dan sore hari. Itu pun padahal Jalan H. Nail masih dibuka.

“Kontraktor jangan hanya memikirkan proyek saja, pikirkan juga nasib masyarakat sekitar,” ucapnya geram.

Sementara itu, seorang tokoh masyarakat RT04/22, M. Zaini mengatakan, dia dan warga sangat tidak setuju dengan rencana penutupan Jalan H. Nail, karena khawatir tempatnya akan terisolir jika jalan tersebut ditutup sebelum jembatan pengganti dan jalan pendamping dibangun.

“Sekarang ini saya bisa menuju rumah pak RT dalam waktu tiga menit dengan berjalan kaki. Kalau nanti benar ditutup bisa lebih dari 20 menit pakai motor karena harus melewati jalan Juanda dan kena macet di Adi karya,” kat Zini. (dra)