Beranda Ruang Publik Afiliasi Sekolah Sepakbola, Jalankan dengan Cerdas!

Afiliasi Sekolah Sepakbola, Jalankan dengan Cerdas!

0
Afiliasi Sekolah Sepakbola, Jalankan dengan Cerdas!
FOTO: Drs. Supartono, MPd Pengamat sepakbola nasional, Pengamat pendidikan nasional.
FOTO: Drs. Supartono, MPd
Pengamat sepakbola nasional, Pengamat pendidikan nasional.

Oleh Drs. Supartono, M.Pd*) 

PSSI terbangun. Setelah puluhan tahun tertidur dari pola pembinaan, pelatihan, hingga kompetisi sepakbola akar rumput, Surat Afiliasi Sekolah Sepakbola (SSB) diluncurkan PSSI.

Surat Resmi bernomor 665/PGD/130/II-2018, dengan lampiran 1 lembar, perihal Sekolah Sepakbola Terafiliasi, yang ditandatangani Sekretaris Jenderal (Sekjen) PSSI Ratu Tisha, diterbitkan pada tanggal 20 Februari 2018. Surat ditujukan kepada seluruh Ketua Asosiasi Porvinsi (Asprov) se-Indonesia, dengan lampiran 1 lembar, yaitu form formulir afiliasi SSB.

Implementasi statuta

Dalam surat dijelaskan bahwa, afiliasi SSB menjadi bagian dari implementasi ketentuan Pasal 19A Statuta PSSI (Edisi 2018) perihal “Lembaga Terafiliasi” dan bagian dari Program PSSI Turbo (yakni perapihan adminitrasi data pemain serta pelaku sepakbola tanah air). SSB yang nantinya terafiliasi ke PSSI, pun wajib memenuhi beberapa syarat.

Sesuai Pasal 19A Statuta PSSI, ketentuan afiliasi akan diatur dalam regulasi teknis yang akan disetujui oleh Komisi Eksekutif PSSI. Artinya, bila SSB mendaftarpun, tidak lantas semua SSB dengan serta merta dapat terafiliasi ke PSSI. Tergantung apakah prasyaratnya terpenuhi atau tidak. Bila prasyarat terpenuhi, barulah Komisi Eksekutif PSSI mengetuk palu bahwa SSB terafiliasi PSSI/terdaftar sebagai anggota PSSI.

Seluruh SSB di Indonesia, wajib melakukan afiliasi sesuai syarat yang telah ditentukan. Syaratnya antara lain: pertama, memiliki pelatih yang berlisensi minimal D PSSI; kedua, memiliki pengurus aktif; ketiga, memiliki minimal 2 tim kelompok umur berbeda (semisal kelompok U-13 dan U-15); keempat, memiliki jadwal latihan rutin; dan kelima, memiliki lapangan/home ground berlatih tetap.

Proses afiliasi, seluruh SSB wajib mendaftarkan diri kepada Asosiasi PSSI Kota (Askot) atau Asosiasi PSSI Kabupaten (Askab), di setiap kota atau kabupaten seluruh Indonesia. Tindak lanjut dari formulir isian pendaftaran afiliasi SSB, akan difungsikan sebagai bahan akreditasi berjenjang bagi setiap SSB. Afiliasi juga akan dijadikan kontrol kualitas pembinaan usia muda yang akan ditentukan dalam regulasi teknis Komisi Eksekutif PSSI.

Bukan program baru

Menyoal afliasi SSB, sejatinya ini bukan program baru. Karena afiliasi SSB atau registrasi SSB di Askot/Askab di beberapa Asprov, telah dilakukan di sekitar tahun 2012. Saat itu, pembinaan SSB sudah diakui dan terafiliasi ke PSSI. Bahkan, setiap event kompetisi SSB swasta yang ternama di tanah air, selalu mewajibkan pesertanya melampirkan surat rekomendasi dari Askot/Askabnya, minimal telah terdaftar 3 tahun.

Namun, tidak semua Askot/Askab melakukan program afiliasi. Kemudian, pola registrasi di setiap Askot/Askab juga tidak seragam sesuai statuta PSSI. Struktur organisasi kepengurusan SSB juga tidak ada panduan yang baku. Maka, program afiliasi yang telah dijalankan oleh Askot dan Askab terkesan sebagai program tempelan. Lalu macet dan mati suri.

Askot dan Askab tidak melakukan pembinaan, pelatihan, hingga kompetisi SSB. Askot dan Askab hanya menjadi Lembaga kepanjangan PSSI Pusat, sebagai tukang pembuat Surat Rekomendasi SSB.

Tidak seragamnya program afiliasi SSB saat itu, serta sebab mati surinya pogram Askot dan Askab untuk SSB, ada beberapa faktor yang menjadi sebab. Di antaranya, pertama, banyaknya pengurus Askot/Askab yang hanya tertempel nama sebagai pengurus, namun tidak memiliki kemampuan menjalankan program dan manajemen organisasi.

Kedua, Askot dan Askab tidak memiliki anggaran untuk program pembinaan, pelatihan, hingga kompetisi SSB. Padahal SSB hingga kini terus menjamur, lahir dan lahir, lalu ada kompetisi yang selalu konsiten. Semua karena didukung oleh orangtua siswa sebagai penopang utama anggaran SSB. Orangtua siswa adalah sponsor utama anggaran SSB.

Ketidakmampuan pengurus Askot dan Askab dalam hal keorganisasian dan manajemen menjadi sebab pembinaan dan kompetisi SSB mati, terhenti. Padahal di tangan swasta, SSB maju dan berkembang. Artinya, banyak pengurus Askot/Askab yang harus dicoret atas ketidakmampuannya selama ini.

Semua bernama SSB

Kendati program afiliasi SSB yang diterbitakan Ratu Tisha di tahun 2018, bukan barang baru, namun ada beberapa hal yang dapat dijadikan pijakan agar program pembinaan dan kompetisi SSB yang terafiliasi tidak terhenti dan mati suri lagi.

Pertama, bagi setiap Askot dan Askab, tetap wajib melakukan afiliasi ulang/registrasi ulang terhadap SSB di kota/di kabupatennya, meski pernah melakukan program ini. Anggap afiliasi tahun ini sebagai pemutihan, sekaligus sebagai verifikasi, apakah SSB bersangkutan masih layak dianggap sebagai anggota Askot/Askab sesuai dengan prasaratnya.

 Kedua, jadikan formulir afiliasi SSB yang diterbitkan pada tanggal 20 Februari 2018, yaitu sesuai FORM MD-C02 AFILIASI PSSI, menjadi acuan struktur organisasi SSB yang hingga kini belum seragam.

Bila kini PSSI telah siap menampung SSB sebagai bagian dari PSSI, sebagai anggota PSSI, maka seluruh pembinaan usia dini dan muda wajib seragam dalam memberikan wadahnya. Tidak ada lagi SSB yang menjelma menjadi Akademi/Soccer School dan lain sebagainya. Semua harus bernama SSB.

Dalam isian formulir, PSSI juga masih mencantumkan jabatan pengisi formulir yang sudah tinggal dipilih yaitu, Pemilik/Direktur Utama/Ketua Umum. Ini sangat lucu. Masa nama lembaga/instansinya Sekolah, bukan PT, jabatan pemimpinnya bukan Kepala Sekolah.

Jadi bila PSSI mau program afiliasi ini berjalan dengan benar sesuai dengan tata aturan yang benar, maka pemimpin SSB harus seorang Kepala Sekolah. Lalu diikuti oleh struktur organiasi yang benar. (Pola struktur kepengurusan SSB yang benar, pernah saya tawarkan ke PSSI di tahun 1999).

Bahkan prasyarat untuk afiliasi SSB pun perlu ditambah, setiap SSB wajib menggunakan kurikulum pembinaan SSB model kurikulum yang diterbitkan PSSI. Pola pembinaan dan pelatihan menggunakan Kurikulum Indonesian Way. Bukan kurikulum dari Eropa atau Amerika!

Pelatihan pengurus

Untuk menggaransi program afiliasi berjalan, lalu program pembinaan dan pelatihan juga berjalan, kemudian kompetisi berputar kontinue-konsisten-berjenjang-berkesinambungan. Di dalam ranah Askot/Askab. Kemudian meningkat atar Askot/Askab se Asprov. Berikutnya putaran nasional wakil Asprov, maka pengurus Askot/Askab yang membawahi SSB wajib tergaransi mumpuni dalam hal keorganisasian dan manajemen SSB dan ruang lingkupnya.

Bila kini gembar-gembor edukasi suporter sedang saya apungkan, termasuk edukasi untuk panitia penyelenggara dan pihak keamanan di level klub Liga 1, 2, dan 3, maka menyoal SSB, pengurus Askot/Askabnya wajib diisi oleh personal yang profesional.

Harus ada pelatihan khusus kepada pengurus Askot dan Askab yang membawahi SSB. Harus ada keseragaman visi, misi, dan tujuan pembinaan dan kompetisi. Ini wilayah pondasi. Akar dari asal muasal lahirnya pemain timnas handal. Ini wilayah kawah candradimuka. Wajib digarap dengan  serius. Tidak main-main, bukan program tempelan.

Sebelum jebolan SSB menjadi pemain sepakbola nasional yang cerdas dan berkarakter, pembina, pelatih, pengurus, dan semua yang stakeholder terkait, wajib cerdas dan berkarakter dulu.

Maka, program afiliasi SSB, di tahun 2018 ini, menjadi program yang wajib sukses. PSSI pusat mengontrol Asprov, Asprov mengontrol Askab dan Askot, dan Askab/Askot mengontrol SSB.

Ayo jalankan afiliasi SSB dengan benar. Dengan cerdas! Sesuai tatanan dan statuta. Semua SSB kembali kepada induknya. Terafiliasi, teregistrasi, hingga diberikan pogram pembinaan hingga kompetisi oleh PSSI.

Tidak perlu program grassroot PSSI-Kemenpora. Tidak ada Piala Menpora melibatkan SSB. Kembalikan tatanan pembinaan dan kompetisi sepakbola kepada lembaga resmi sepakbola Indonesia yang diakui FIFA, PSSI. Askot dan Askab hidup kembali. Amin. (*)

*)Pengamat Sepakbola Nasional, Pengamat Pendidikan Nasional