Bahasa Sunda di Kota Depok, Belum Prioritas Tapi Tetap Menggeliat

In Utama
AHMAD FACHRY /RADAR DEPOK
BELAJAR BERSAMA: Siswi SMPN 1 Depok sedang membaca buku Bahasa Sunda di perpustakaan sekolah tersebut, beberapa waktu lalu.

DEPOK – Bahasa Sunda adalah bahasa yang menjadi ciri khas dari Provinsi Jawa Barat, Kota Depok yang berada di dalam teritorial Tanah Pasundan (Sebutan Jawa Barat), ternyata lebih dikenal dengan Betawi Depok-nya, ketimbang Sunda Depok-nya, seperti daerah lainnya di Jawa Barat.

Hal itu dilihat dari penduduk aslinya yang lebih kental dengan penggunaaan Bahasa Depok yang kosakatanya didominasi dari Bahasa Betawi. Sedangkan, orang yang menggunakan Bahasa Sunda lebih didominasi oleh pendatang dari berbagai daerah di Jawa Barat lainnya.

Ternyata bukan hanya sekedar komunikasinya saja, tetapi Bahasa Sunda berpengaruh pada dunia pendidikan, di sekolah pada mata pelajaran Bahasa Sunda yang termasuk dalam kategori Muatan Lokal (Mulok).

Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Sunda, Anita Rohani menyebutkan, Kota Depok sebagai penyangga DKI Jakarta, tentunya berpengaruh pada penduduknya, yang berasal dari berbagai macam daerah di Indonesia. Hal ini berdampak pula pada siswa-siswa yang bersekolah di Kota Depok, dan mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

“Banyak orang dari berbagai daerah di Indonesia, yang bekerja di Jakarta, tetapi tinggalnya di Kota Depok, dan anaknya bersekolah di Kota Depok,” ucapnya kepada Radar Depok.

Anita menerangkan, karena latar belakang siswa tersebut dari berbagai daerah di Indonesia, tentunya berdampak pada jarangnya penggunaan Bahasa Sunda yang memang menjadi ciri khas dari Jawa Barat. Selain itu, ada efeknya juga ke pembelajaran di sekolah, yakni dalam hal mata pelajaran Bahasa Sunda.  “Pelajaran mulok Bahasa Sunda, menjadi mata pelajaran wajib yang masuk dalam Mulok,” kata Anita.

Anita mengatakan, Kota Depok yang berada di Jawa Barat, tentunya juga memiliki tugas melestarikan Bahasa Sunda, salah satunya adalah mengajarkan bahasa tersebut kepada generasi bangsa, yakni siswa. Tetapi, Anita beranggapan, kalau sekarang ini Bahasa Sunda belum menjadi prioritas di Kota Depok.

Anita beranggapan, kondisi penduduk di Kota Depok tersebut yang menjadi kesulitan tersendiri ketimbang dari daerah lainnya di Jawa Barat dalam mata pelajaran Bahasa Sunda di sekolah. Perlu cara khusus dalam penyampaian materi pembelajaran Bahasa Sunda di sekolah, yakni dengan menyenangkan. Guru harus bisa kreatif dan tidak mengesankan Bahasa Sunda sulit dipelajari.

“Kalau guru bersahabat dan menyenangkan, siswa mau belajar dengan semangat, kalau tidak, jangan harap pelajaran dapat dicerna dan dipahami oleh siswa,” katanya.

Tetapi, sekarang ini geliat Bahasa Sunda sudah mulai terasa euforianya, yakni semenjak adanya Lomba Pasanggiri, untuk siswa dari jenjang pendidikan SD sampai SMA/SMK. Kegiatan untuk memberi apresiasi kepada siswa yang memiliki kemampuan seni dan budaya Sunda tersebut, berpengaruh pada minat siswa untuk mempelajari Bahasa Sunda.

“Bahkan di SMPN 1 Depok, ada satu siswa yang berhasil menjadi juara kedua Presenter Bahasa Sunda di tingkat Provinsi, padahal siswa tersebut latar belakangnya bukan orang Jawa Barat, tetapi dari Islandia dan Jawa Tengah,” terangnya.

Sementara itu, Ketua Ikatan Budaya Sunda (IBS), Usep Kusnadi menuturkan, secara geografis Kota Depok berada di Jawa Barat, tetapi karena mayoritas penduduknya dari Betawi, maka bahasa yang kerap digunakan adalah Bahasa Betawi. Tetapi meskipun dalam kondisi seperti itu, Bahasa Sunda tetap harus dilestarikan, jangan sampai generasi bangsa tidak mengenal lagi tentang seni dan budaya Sunda yang didalamnya juga termasuk bahasa.

“Sementara ini untuk melestarikannya dengan cara muatan lokal yang ada di sekolah, dan juga upaya melestarikannya di setiap keluarga yang berasal dari Jawa Barat perlu dilakukan di tengah masyarakat,” terangnya.

Ditempat berbeda, Anggota Komisi D DPRD Kota Depok, Lahmudin Abdullah beranggapan, Kota Depok tidak murni hanya menganut Budaya Sunda atau Bahasa Sunda, tetapi lebih bersifat heterogen, karena migrasi dari berbagai daerah ke Kota Depok. Lahmudin memiliki solusi untuk melestarikannya, yakni dengan cara menetapkan wilayah yang khusus dijadikan tempat pelestarian Bahasa Sunda sebagai bahasa pengantarnya, misalnya Kecamatan Tapos, Cilodong atau Cimanggis.

“Jangan sampai ada pemaksaan bahasa, tetapi memang harus dilestarikan sebagai warisan budaya leluhur di Jawa Barat,” tutur Lahmudin. (cr3/cky)

You may also read!

pradi ngobrol sama nenek

Pradi Didoakan Nenek Usia 106 Tahun

SUNGKEM : Calon Walikota Nomor Urut 1, Pradi Supriatna saat sungkem ke Mak Naimah nenek

Read More...
imam bertemu pendukung

Idris-Imam Selalu Tepati Janji Kampanye

DUKUNGAN : Calon Wakil Walikota Depok Nomor Urut 2, Imam Budi Hartono saat sosialisasi di

Read More...
maksimal nikah di KUA

Nikah di KUA Maksimal 10 Orang

Kepala KUA Beji, Dede Nasip.   RADARDEPOK.COM, BEJI – Pandemi Covid-19 benar-benar merusak segala sendi kehidupan. Bikin

Read More...

Mobile Sliding Menu