FOTO: Ust. Imam Nafi' Junaidi Ketua PC JQH NU Depok
FOTO: Ust. Imam Nafi’ Junaidi
Ketua PC JQH NU Depok

Oleh: Ust. Imam Nafi’ Junaidi

(Ketua PC JQH NU Depok)

Kata berkah berasal dari kata arab baraka yang artinya banyaknya kebaikan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia. Maka kata berkah bisa diartikan berkumpulnya kebaikan pada sesuatu dan bersifat menetap. Keberkahan yang hakiki hanya milik Allah semata.

Allah menyatakan bahwa diriNyalah sumber keberkahan. Maha Berkah Allah yang ditanganNya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Al-Mulk : 1. Orang yang mendapatkan keberkahan dari Allah adalah orang-orang yang terpilih.

Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad melalui malaikat Jibril. Al-Qur’an bukan perkataan Nabi Muhammad maupun malaikat Jibril, Al-Qur’an adalah firman Allah (kalamullah) yang penuh dengan sakralitas, kesucian, nilai-nilai universal dalam kehidupan manusia. Berisi pesan-pesan kehidupan yang penuh cinta kasih dari Allah SWT.     Banyak pesan-pesan Al-Qur’an yang bisa kita jadikan pelajaran dalam kehidupan sehari-sehari. Dari pesan Al-Qur’an dapat dijadikan teladan dan memberikan peringatan tentang kehidupan.

Karena Al-Qur’an adalah kalamullah, maka Al-Qur’an mampu memberikan keberkahan pada makhluk semesta. Allah menurunkan keberkahan kepada yang dikehendaki-Nya, bisa kepada seseorang, pada tempat dan bisa pada umur seseorang. Orang yang membaca satu huruf dari Al-Qur’an akan mendapat satu kebaikan, dan kebaikan itu akan dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan, begitulah apa yang disabdakan Nabi Muhammad SAW. Al-Qur’an dapat mengantarkan kita kepada kehidupan yang lebih baik dan mengangkat orang-orang yang bersahabat dengan Al-Qur’an.

Untuk membuktikan bahwa Al-Qur’an adalah kunci keberkahan dan keselamatan hidup kita, maka kita harus meyakini dan mengimani kebenarannya dengan sepenuh hati. Kemudian kita baca Al-Qur’an itu dengan tartil setiap hari, memahami dan mentadabburinya dengan baik. Mengamalkan perintahnya dan meninggalkan larangannya sekuat tenaga kita. Perjalanan hidup para nabi dan rasul yang Allah ceritakan dalam Al-Qur’an khususnya Nabi Muhammad dan para sahabatnya, kita jadikan panutan dan acuan dalam mengarungi kehidupan (life style) di dunia ini.

Maka, siapa saja yang menjadikan Al-Qur’an sebagai manhajul hayah (the way of life), hidupnya akan diberikan keberkahan dan selamat dunia akhirat. Hidup berkah yang dijanjikan oleh Al-Qur’an, yang nilainya tidak bisa dibandingkan dengan dunia seisinya. Karena keberkahan itu mencakup segala aspek kehidupan dunia sampai akhirat. Sebaliknya, siapa saja yang tidak meyakini dan tidak mengamalkan isi kandungan AlQur’an, maka hidupnya tidak akan berkah dan akan berdampak buruk pada kehidupan akhirat kelak.

Hidup dibawah naungan Al-Qur’an adalah sebuah keberkahan dan kenikmatan yang tidak bisa diketahui kecuali oleh orang-orang yang merasakannya. Tidak heran jika situasi dan kondisi yang dialami oleh generasi Qur’ani sangatlah berbeda dengan generasi yang terbentuk bukan atas dasar Al-Qur’an. Generasi Qur’ani adalah generasi cemerlang yang semua potensi hidup mereka curahkan untuk kesuksesan dunia akhirat. Semoga kita mendapat keberkahan Al-Qur’an, amin. Wallahu a’lam. (*)