Maraknya Berita Hoax, Pertanda Akhir Zaman?

In Utama
FOTO: Zaimul Haq, M.Ag
Anggota JQH NU Depok

Oleh : Zaimul Haq, M.Ag

(Anggota JQH NU Depok) 

DEPOK – Tanpa disadari atau tidak, kita sekarang hidup dipenghujung akhir zaman, di mana di dalamnya kita banyak menjumpai huru-hara serta berbagai macam fitnah kehidupan. Khusus yang terakhir ini, Rasulullah saw. telah jauh-jauh hari mengingatkan kepada kita sebagai umat Islam pada khususnya, dan non-muslim pada umumnya akan banyaknya fitnah (berita bohong) yang bertebaran di muka bumi, hingga puncaknya fitnah nanti akan terjadi dengan kemunculan Dajjal laknatullah.

Dalam bahasa modern, kita mengenal fenomena tersebut yang marak terjadi di tahun-tahun terakhir dengan istilah “Hoax”, yakni kesimpang-siuran berita yang mudah beredar di dunia maya. Banyak objek yang menjadi sasaran hoax, meliputi ekonomi, politik, sosial, budaya, agama, hingga sara. Bagi kebanyakan masyarakat awam yang yang rendah secara agama, pendidikan, ataupun pengetahuan, berita tersebut akan sangat mudah sekali diterima tanpa terlebih dahulu memastikan kebenarannya. Sedangkan bagi kalangan yang kuat secara agama dan keilmuan, mereka akan sangat berhati-hati dalam mencerna berita sampai ada kepastian akan kebenarannya.

Sebenarnya berita hoax yang ada sekarang bukanlah suatu hal yang baru, sebab fenomena tersebut sudah ada dan sering terjadi seiring keberadaan manusia itu sendiri di muka bumi, bahkan di zaman Rasulullah saw. pun banyak bermunculan berita bohong, salah satu yang menyita perhatian Nabi dan para sahabat adalah kabar perselingkuhan Aisyah ra.—istri Nabi tercinta—dengan sahabat Shafwan ibn al-Mu’aththil yang dihembuskan oleh salah satu tokoh munafik Abdullah ibn Ubayy ibn Salul. Dialah yang menjadi inisiator dan berperan besar dalam memutarbalikkan fakta dengan menuduh Aisyah ra. menjalin hubungan mesra dengan Shafwan. Dan akhirnya fitnah tersebut diklarifikasikan dalam Al-Qur’an surah An-Nur ayat 11.

karena bahaya dan dampaknya yang begitu besar, di berbagai ayat dalam Al-Qur’an, Allah swt. telah mengajarkan kepada kita untuk bersikap hati-hati dalam menyampaikan maupun menerima berita, agar tidak dicap sebagai kelompok fasik/munafik sebagimana gambaran dalam ayat berikut,

Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang- orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, Kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar, Dalam keadaan terlaknat. di mana saja mereka dijumpai, mereka ditangkap dan dibunuh dengan sehebat-hebatnya. (al-Ahzâb/33: 60-61)

Berita bohong dalam ayat di atas menggunakan kata al-Murjifûn yang terambil dari kata arjafa yang berarti membuat keguncangan baik dalam bentuk perbuatan maupun berita. Menurut Quraish Shihab dalam tafsirnya, bahwa yang di maksud dengan al-Murjifûn adalah orang-orang yang menyebarkan isu negatif sehingga mengguncangkan masyarakat. Ini biasanya dilakukan oleh orang-orang munafik atau kafir, kemudian orang yang lemah iman ikut menyebarkannya.

Ayat di atas dikuatkan juga oleh ayat berikut,

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS. al-Hujurât/49: 6).

Maka sangat diharamkan bagi kita untuk menganggap remeh dan kecil dari menerima setiap berita yang bohong, sebab bagi Allah swt. bisa jadi hal tersebut dianggap sebagai hal ayng besar, renungilah firman Allah swt berikut,

(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. padahal dia pada sisi Allah adalah besar. (an-Nûr/24: 15).

Maka yang menjadi pertanyaan besar sekarang adalah, apakah fenomena maraknya berita hoax yang terus bermunculan adalah sebagai pertanda semakin dekatnya akhir zaman? dan bagaimana cara kita agar terselamatkan dari bahaya tersebut?. Untuk menjawab pertanyaan tersebut dibutuhkan sebuah penjelasan panjang lebar, namun di sini cukuplah bagi kita untuk meyakini bahwa maraknya berita hoax—dengan subjek dan objek yang melingkupinya—sebagai pelajaran terpenting, bahwa hal tersebut bisa jadi merupakan kebenaran dari apa yang telah disabdakan oleh Rasulullah saw. 1400-an tahun yang lampau, dan itu merupakan satu tanda dari banyak tanda saat menjelang datangnya kiamat.

Banyak cara yang bisa kita lakukan supaya terselamatkan dari fitnah/berita bohong di akhir zaman seperti sekarang, seperti dengan terus menerus mempertebal keimanan dan keislaman kita disertai peningkatan ibadah secara kualitas dan kuantitas, juga bergaul dengan banyak orang shalih disekitar kita, baik keluarga, tetangga, kawan, saudara, sahabat dan orang terdekat lainnya yang bisa menjaga dan menyelamatkan kita dari huru-hara dunia. Dan yang paling penting lagi adalah sikap kehati-hatian kita yang harus ditingkatkan dalam memfilter sebuah berita agar kita tidak dicap oleh Allah swt. sebagai bagian dari kelompok munafik/fasik. (*)

You may also read!

ulama ke idris imam

Persatuan Ulama-Habaib Depok Beri Restu Idris-Imam

DEKLARASI : Dihadiri Paslon Nomor Urut 2 dan elit partai Koalisi TAS, Persatuan Ulama dan

Read More...
penghargaan naik tingkat

Sanggar Ayodya Pala : Siswa Ujian Kenaikan Tingkat Raih Penghargaan

RAIH PENGHARGAAN : Sejumlah siswa Sanggar Ayodya Pala yang telah mengikuti Ujian Kenaikan Tingkat mendapatkan

Read More...
jatijajar repot urus administasi

Beredar Foto Spanduk ‘Ganti Lurah Jatijajar’

MUNDUR : Ketua RT dan RW, di lingkup RW2, Kelurahan Jatijajar, Kecamatan Tapos, mundur serentak

Read More...

Mobile Sliding Menu