Beranda Utama 12.270 Siswa SMK Depok Hadapi UNBK, Waspada Mati Listrik

12.270 Siswa SMK Depok Hadapi UNBK, Waspada Mati Listrik

0
12.270 Siswa SMK Depok Hadapi UNBK, Waspada Mati Listrik
AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK SIMULASI UNBK : Sejumlah siswa dan siswi sedang melaksanakan simulasi Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di SMK Al-Muhtadin, Jalan Raya Cipayung, Kecamatan Cipayung, beberapa waktu lalu.
AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
SIMULASI UNBK : Sejumlah siswa dan siswi sedang melaksanakan simulasi Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di SMK Al-Muhtadin, Jalan Raya Cipayung, Kecamatan Cipayung, beberapa waktu lalu.

DEPOK – Sebanyak 21.869 siswa pada jenjang SMA/K sederajat negeri dan swasta di Kota Depok, bersiap mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Pada Senin (2/3) UNBK di awali oleh 12.270 siswa dari 127 SMK. Sedangkan 9.599 siswa dari 88 SMA/MA akan mengawali UNBK pada Senin (9/3) mendatang.

UNBK jenjang SMA/K dan sederajat berlangsung selama dua minggu, 2-12 April 2018. Kepala Kantor Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat Wilayah 2, Dadang Ruhiyat mengatakan, pelaksanaan UNBK disesuaikan dengan jenis sekolah.

“Di awali SMK pada 2-5 April, selanjutnya SMA dan MA 9-12 April. Kami juga menyiapkan dua hari khusus bagi siswa yang berhalangan hadir, ada ujian susulan 17-18 April,” ungkap Dadang kepada Radar Depok.

Dadang menyebutkan, persiapan UNBK sudah rampung seratus persen. Mulai dari alat, teknis, proktor, hingga surat pemberitahuan kepada PLN.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Depok, Mohammad Thamrin menambahkan, selain jenjang SMA/K pelaksanaan UNBK jenjang SMP/MTs akan berlangsung pada 23-26 April, yang diikuti 214 SMP dan 72 MTs. “Untuk essai, siswa mengerjakan soalnya secara manual di lembar jawaban khusus yang disediakan Disdik. Yang memeriksanya harus pengawas silang, agar ada kejujuran,” kata Thamrin kepada Radar Depok.

Selain itu lanjut Thamrin, pada UNBK tahun ini terdapat enam soal yang memungkinkan tidak adanya kecurangan antar siswa selama ujian berlangsung. “Jadi tidak mungkin sama mereka, kanan kiri depan belakang soalnya beda,” tambahnya.

Soal yang diterima Disdik Kota Depok untuk pelaksanaan UNBK semuanya berasal dari Disdik Provinsi Jabar. Melalui server induk di Pusat (Kemendikbud) soal-soal tersebut kemudian disebar secara serentak ke seluruh wilayah di Indonesia. “Jadi dari pusat ke provinsi baru ke kita (Depok). Makanya setiap ruangan atau sekolah harus memiliki proktor dan teknisi untuk menanganinya,” ujar Thamrin.

Ia menegaskan, guna mengantisipasi terjadinya kendala selama pelaksanan UNBK, Pemkot Depok bekerjasama dengan PLN Area Depok dalam menangani pengamanan lisrik. “Sudah buat surat ke PLN untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan. Dan kami juga mengimbau sekolah menggunakan genset, antisipasi keadaan cuaca dan alam di luar kemampuan dan kendali PLN,” tandasnya.

Terpisah, Kepala SMA Negeri 5 Kota Depok, Jarkasih mengatakan, guna meminimalisir kendala saat UNBK pihaknya sudah mengecek kesiapan peralatan, dan beberapa kali simulasi dari Disdik Pemprov Jabar. Di sekolah ini, UNBK akan diikuti 520 siswa, pelaksanaan dibagi dua sesi dengan menggunakan 13 ruangan, memakai 260 unit komputer dan 16 unit cadangan. Sesi pertama pukul 07.30-09.30, disambung sesi dua pukul 10.30-12.30. “Insyaallah siap, kemarin saat pelaksanaan simulasi oleh Dinas Provinsi alhamduillah lancar. Setiap ruangan menggunakan 20 komputer, dan kami memiliki 15 server,” kata Jarkasih kepada Radar Depok.

Sementara itu, Kepala SMA Negeri 1 Kota Depok, Supiyana mengatakan, pelaksanaan UNBK bukan menjadi halangan besar. UNBK bukan hanya pada Ujian Nasional, pelaksanaan ujian sekolah juga dilaksanakan berbasis komputer. “Ini sudah tahun keempat melaksanakan UNBK dari pertama dirintis pemerintah. Tapi kalau Ujian Sekolah baru tahun ini,” Kata Supiyana.

Supyana mengungkapkan, untuk pelaksanaan UNBK tahun ini sekolahnya memilih melaksanakan satu sesi ujian dengan menggunakan 18 ruangan kelas. “Kami memiliki 400 unit komputer, tapi yang digunakan 360 sesuai jumlah siswa, yang 40 unitnya cadangan kalau ada kendala,” ucap Supiyana kepada Radar Depok.

Perubahan pelaksanaan ujian dari tahun lalu yang masih dua sesi menjadi satu sesi, Supyana menganggap keputusannya tersebut agar bersifat adil kepada seluruh siswanya. “Agar tidak ada yang dirugikan, memberikan kesempatan yang sama diwaktu yang sama,” tandas Supyana.

Hal berbeda disampaikan Wakil Kepala SMA Negeri 3 Kota Depok Bidang Kurikulum, Wyartono mengatakan, pihaknya memakai tiga sesi dalam UNBK tahun ini. Alasannya, sarana dan prasarana belum memadai. “Di SMAN 3 total ada 725 siswa, komputer yang disiapkan ada 260 unit menggunakan 13 ruangan. Masing-masing ruangan satu server, dan pakai USB kecil,” papar Wyartono.

Walaupun menggunakan tiga sesi pelaksanaan, dari segi peralatan yang dimiliki SMAN 3 Depok sudah 100 persen siap. Tono–biasa Wyartono disapa—mengatakan, pihaknya akan lebih fokus pada kematangan listrik agar tidak padam saat ujian berlangsung. “Antisipasinya kami pakai genset, karena pelaksanaan di sini kan sampai sore,” pungkasnya. (cr3)