Beranda Metropolis 1999 Menguasai Ilmu Pewayangan, Melestarikan Dalam Bentuk Lain

1999 Menguasai Ilmu Pewayangan, Melestarikan Dalam Bentuk Lain

0
1999 Menguasai Ilmu Pewayangan, Melestarikan Dalam Bentuk Lain
RUBIAKTO/Radar Depok DALANG:Zak Sorga saat ini menjadi satu-satunya dalang wayang daun di Jabodetabek.
RUBIAKTO/Radar Depok
DALANG:Zak Sorga saat ini menjadi satu-satunya dalang wayang daun di Jabodetabek.

Usaha melestarikan kesenian tradisional dari perkembangan zaman, bukan perkara yang mudah. Namun, tantangan itu dapat di jawab Zak Sorga. Dia ternyata berhasil melestarikan kesenian Nusantara, dan menularkannya kepada masyarakat sekitar. Yaitu kesenian wayang, yang dibuat dengan memanfaatkan daun.

Laporan: Rubiakto

Keunikan wayang yang dibuat oleh Zak Sorga terbuat dari daun kelapa muda alias janur. Usaha dan kegigihannya itu pun mendapatkan perhatian dari masyarakat Kota Depok, yang saat ini mulai menyukai seni Wayang Daun.

Dia menceritakan awal perjalanannya merintis wayang ini sejak tahun 1998, ketika ia bertemu dengan seorang dalang di wilayah Jakarta Selatan. “Setelah bertemu dalang itu saya sempat berpikir ke arah sana pula. Memang sangat sulit melestarikan budaya yang sudah tidak diminati masyarakat. Nah, tantangan ini yang harus saya lalui untuk melestarikan wayang kepada anak bangsa,” kata Zak Sorga.

Dari pertemuannya dengan sang dalang tersebut, lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) jurusan keaktoran teater ini merasa tertantang. Sembari bekerja di sebuah rumah produksi sinetron sebagai penulis skenario, Zak secara diam-diam mulai mempelajari seni wayang yang sudah lama diwariskan kakeknya.

“Sangat sulit sekali mempelajari cara mendalang. Butuh waktu lama untuk mempelajari semua ini sampai bisa dan lancar. Terkadang, saya sampai bergadang agar bisa lulus dan lancar jadi dalang wayang,” katanya.

Lalu, pada tahun 1999, setelah Zak berhasil menguasai semua ilmu pewayangan, ia mulai kebingungan, bagaimana bisa menciptakan karya wayang yang lain daripada yang lain. Kemudian muncul ide untuk membuat wayang dari pelepah daun kelapa muda, daun yang kerap dijadikan bahan kulit ketupat. Dalam waktu singkat, lima wayang dapat dikerjakan Zak sekaligus.

Alasan ia memilih janur sebagai material pembuatan wayang, karena dirinya bisa dengan mudah menyampaikan pesan kepada mereka yang menyaksikan aksi pertunjukan wayang.

Semenjak tahun 1999 hingga 2002. Zak mulai mengenalkan budaya tradisi yang dulunya pernah dijadikan sebagai media penyebaran agama Islam, oleh Sunan Kalijaga itu kepada warga tempat tinggalnya.

Namun, usaha kerasnya itu tidak mulus. Banyak rintangan yang harus dihadapi setiap kali melakoni pertunjukan. Mulai dari tudingan masyarakat yang menilainya kerap menggangu, sampai ejekan para tetangga yang mengatakan dirinya pria kurang kerjaan.

Namun, tantangan itu terus dihadapinya dengan santai dan tidak putus asa. Pada awal tahun 2003, Zak pun menuai hasil yang tidak disangka. Kegigihannya melestarikan budaya bangsa itu mulai diterima warga di lingkungannya.

“Tantangan itu yang saya jawab dengan usaha dan kerja keras. Alhamdulilah, sekarang semua menyukai Wayang Daun saya ini. Semuanya rezeki dari Sang Mahakuasa, asalkan kita mau berusaha keras,” imbuhnya.(bersambung)