Beranda Metropolis 2.000 Pedagang Kemirimuka Depok Melawan

2.000 Pedagang Kemirimuka Depok Melawan

0
2.000 Pedagang Kemirimuka Depok Melawan
A HMAD FACHRY/RADAR DEPOK PASAR TRADISIONAL: Tampak terlihat Pasar Tradisional Kemiri Muka yang berada di kawasan Kecamatan Beji.
AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
PASAR TRADISIONAL: Tampak terlihat Pasar Tradisional Kemiri Muka yang berada di kawasan Kecamatan Beji.

DEPOK – Tarik menarik antara PT Petamburan Jaya Raya dan Pemkot Depok, sepertinya akan usai. Tak lama lagi atau lebih tepatnya 19 April 2018, Pasar Kemirimuka akan digusur. Melihat gelagat  esekusi bakal dilakukan, ribuan pedagang ingin melawan dengan Derden Verzet.

Kuasa hukum Pasar Kemiri Muka, Leo Prihardiansyah mengatakan, ada sekitar 2.000 pedagang menolak rencana proses eksekusi lahan tersebut, dan akan melakukan Derden Verzet (perlawanan pihak ketiga). Para pedagang menganggap pihaknya telah membayar sewa terhadap kios-kios yang mereka tempati. “Mereka sudah mengisi kios itu sejak tahun 1990-an, dan mereka menyewa,” kata Leo kepada Harian Radar Depok, kemarin.

Untuk itu, lanjut Leo, pihak pedagang akan melakukan konsolidasi membahas hal tersebut. “Pihak pedagang merasa dilangkahi, padahal mereka membayar, dan sekarang mau digusur, dan pihak pedagang akan melakukan upaya hukum pidana,” jelas Leo.

Dia juga mengatakan, akan melakukan laporan ke Polres Depok dan akan mengumpulkan bukti-bukti. “Kami masih lakukan kajian, dan mengumpulkan bukti-bukti,” tuturnya.

Pihaknya juga mengaku, akan berkoordinasi dengan pihak Pemkot Depok, dan melakukan audiensi dengan Walikota Depok.

Sementara, Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Tradisional Komisariat Pasar Kemirimuka, Karno Sumardo mengatakan, rencana penggusuran harus ditunda oleh Pengadilan Negeri Kota Depok. BPN memiliki bukti berupa keterangan terkait keabsahan tanah negara tersebut.

Karno menambahkan, para pedagang Pasar Kemirimuka sebelumnya berjualan di pasar lama Jalan Dewi Sartika, Pancoranmas. Kemudian dipindahkan ke Pasar Kemirimuka, Kecamatan Beji. Pemindahan dilakukan dengan alasan pasar lama akan dijadikan taman air, karena lokasinya dekat dengan Situ Rawa Besar.

“Kami intinya menolak rencana penggusuran yang dilakukan oleh Pengadilan Negeri Kota Depok, sebelum adanya kepastian bagi para pedagang,” tegasnya.

Pada tahun 2012 masa Walikota Depok Nur Mahmudi, pedagang mengaku mendapat sosialisasi di depan kantor UPT Pasar Kemirimuka bahwa pasar ini hingga tahun 2032. Ini kata dia sudah diatur oleh Peraturan Daerah No 10 Tahun 2012 tetap menjadi kawasan Pasar, dan tidak bisa berubah kawasan menjadi apartemen atau lainnya. Jika RT/RW Pasar Kemirimuka mau diubah maka dilakukan dulu revisi Perda No 10 Tahun 2012 tersebut yang melibatkan eksekutif dan legislatif.

“Siapa pun walikotanya izin atau site plan tetap pasar tradisional dan tidak bisa diganggu gugat, pedagang Pasar Kemirimuka tetap dilestarikan pasarnya,” tegasnya.

Sementara diberitakan sebelumnya, rencana penggusuran Pasar Kemirimuka, Kota Depok kembali mengemuka selepas putusan gugatan sengketa lahan tersebut inkrah atau berkekuatan hukum tetap. Pengadilan Negeri Depok memastikan eksekusi pasar bakal dilakukan.

“Ya pasti dieksekusi kalau sudah inkrah, tetapi kan pelaksanaannya saya belum tahu,” kata Humas PN Depok Teguh Arifiano di Gedung PN Depok, Rabu (28/3).

Terkait dampak sosial, terkait nasib pedagang yang terancam kehilangan pekerjaan, Teguh menyebut itu bukan alasan eksekusi tak dilaksanakan. Dia menambahkan, belum mengetahui apakah Pemkot mengajukan upaya hukum terkait kekalahan dalam gugatan lahan Pasar Kemirimuka. Teguh mengatakan akan mempelajari berkas perkaranya terlebih dahulu. (cr2)