Beranda Utama Ada Tujuh Jalan Pahlawan yang Dipakai Depok, Panjangnya 20,55 Km

Ada Tujuh Jalan Pahlawan yang Dipakai Depok, Panjangnya 20,55 Km

0
Ada Tujuh Jalan Pahlawan yang Dipakai Depok, Panjangnya 20,55 Km
ABADI KAN: Sejumlah kendaraaan sedang melintas di Jalan Arif Rahman Hakim, Kota Depok.
ACHMAD FACHRY/RADARDEPOK DIABADIKAN: Sejumlah kendaraaan sedang melintas di Jalan Arif Rahman Hakim, Kota Depok.

DEPOK – Penduduk Kota Depok saat ini telah mencapai 2 juta jiwa lebih, yang tersebar di sebelas kecamatan dan 63 kelurahan. Perkembangan pembangunannya pun begitu pesat, karena secara geografis berdekatan pula dengan ibu kota DKI Jakarta.

Selain penduduk dan letak geografis terdapat hal yang jadi sorotan pada sebuah kota yang sedang berkembang seperti di Kota Depok, salah satunya nama pahlawan yang dipakai sebagai nama jalan. Hal penting dan unik inilah yang membuat awak media ini mencoba membahas kondisi jalan tersebut.

Berdasarkan data dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Depok, ada tujuh jalan di kota ini yang menggunakan nama pahlawan nasional dengan total panjang 20,55 Kilometer. Di antaranya, Jalan Raya Margonda, Juanda, Siliwangi, Tole Iskandar, Dewi Sartika, Arief Rahman Hakim, dan Jalan Muchtar.

Dari total tersebut, terdapat jalan nasional dan provinsi. Untuk jalan provinsi panjangnya 11,67 kilometer. Terdiri dari Jalan Dewi Sartika panjangnya 0,67 kilometer, Jalan Margonda Raya 0,13 kilometer, Jalan Siliwangi 1,28 kilometer, Jalan Tole Iskandar 1 kilometer, dan Jalan Tole Iskandar-Pondok Rajeg (batas Depok-Bogor 8,59 kilometer.

“Bila sesuai data ada tujuh jalan yang menggunakan nama pahlawan. Tetapi kami membagi jalan di Kota Depok menjadi dua, jalan nasional dan provinsi. Sedangkan Jalan Margonda Raya dibagi wilayah dengan jalan nasional,” ungkap Sekretaris Dinas PUPR Kota Depok, Supomo, kepada Radar Depok.

Sementara itu, ruas jalan nasional di Kota Depok panjangnya mencapai 41,63 kilometer. Terdiri dari Jalan Gandaria-Cilodong dengan panjang jalan 8,2 kilometer, Jalan Transyogi 9,26 kilometer, Jalan Ir. H. Juanda 3,96 kilometer, Jalan Margonda Raya 1,64 kilometer, Jalan Arif Rahman Hakim 0,97 kilomter, Jalan Teratasu Raya 0,31 kilometer, Jalan Nusantara 1,14 kilometer, Jalan Raya Sawangan 4,76 kilomter, Jalan Muchtar Raya 2,32 kilometer, Jalan Sawangan Raya 2,08 kilometer, dan Gandaria sampai batas Depok Tangerang dengan panjang ruas jalan 6,99 kilomter.

Jadi total ruas jalan nasional dan provinsi di Kota Depok mencapai 53,3 kilometer, kata Supomo.

Sekilas Margonda dan Tole Iskandar

Menelusuri sejarah Margonda berarti kembali ke masa-masa revolusi saat peralihan kekuasaan dari Belanda ke Jepang. Wenri Wanhar, penulis buku ‘Gedoran Depok: Revolusi Sosial di Tepi Jakarta 1945-1955’ menyebut Margonda adalah nama seorang pemuda yang belajar sebagai analis kimia dari Balai Penyelidikan Kimia Bogor. Lembaga ini dulunya bernama Analysten Cursus. Didirikan sejak permulaan perang dunia pertama oleh Indonesiche Chemische Vereniging, milik Belanda.

Memasuki paruh pertama 1940-an, Margonda mengikuti pelatihan penerbang cadangan di Luchtvaart Afdeeling, atau Departemen Penerbangan Belanda. Namun tidak berlangsung lama, karena 5 Maret 1942 Belanda menyerah kalah, dan bumi Nusantara beralih kekuasaannya ke Jepang. Margonda lantas bekerja untuk Jepang.

Saat Jepang takluk dengan bom atom Amerika di Nagasaki dan Hiroshima pada tahun 1945, Margonda ikut aktif dengan gerakan kepemudaan yang membentuk laskar-laskar. Margonda bersama tokoh-tokoh pemuda lokal di wilayah Bogor dan Depok mendirikan Angkatan Muda Republik Indonesia (AMRI) yang bermarkas di Jalan Merdeka, Bogor.

Sayangnya, umur AMRI di bawah pimpinan Margonda relatif singkat. Mereka pecah dan anggotanya bergabung dengan BKR, Pesindo, KRISS dan kelompok kecil sejenis lainnya. Sementara itu, wilayah Depok sejak lama menjadi ‘daerah istimewa’.

Nama Margonda tercatat di Museum Perjuangan Bogor bersama ratusan pejuang yang gugur. Semasa berjuang, Margonda berkawan dekat dengan Ibrahim Adjie dan TB Muslihat. TB Muslihat senasib dengan Margonda. Dia gugur dalam pertempuran. Pemerintah Bogor membangun patung TB Muslihat di Taman Topi, sekitar stasiun Bogor. Sementara Ibrahim Adjie, berhasil selamat. Dia berkarir menjadi tentara dengan jabatan akhir Pangdam Siliwangi.

Sementara itu pejuang lainnya, Tole Iskandar adalah sulung dari tujuh bersaudara. Adiknya yaitu Tuti, Sukaesih, Sugito, Suyoto, Mulyati, dan Slamet Mulyono. Tole merupakan anak dari pasangan Raden Samidi Darmorahardjo bin Adam dan Sukati binti Raden Setjodiwiryo. Kakeknya merupakan menteri perairan zaman kolonial Belanda di Depok. Dia lahir di Gang Kembang, Ratu Jaya, Kota Depok.

Tole gugur saat berperang dengan Sekutu di Cikasintu, Sukabumi, Jawa Barat, pada 1947 bersama Batalion 8. Saat gugur pangkatnya Letnan Dua. Kini makam Tole Iskandar berada di Taman Makam Pahlawan Dreded, Kota Bogor, setelah dipindahkan dari Sukabumi. Saat gugur Tole Iskandar berusia 25 tahun.

Tole Iskandar memiliki catatan perjuangan tertulis dalam Laskar Pemuda Depok. Laskar itu tersohor dengan sebutan Kelompok 21. Pada September 1945, diadakan rapat pertama kali di sebuah rumah di Jalan Citayam (sekarang Jalan Kartini), Tole berikut tujuh bekas anggota Heiho dan 13 anggota Pemuda Islam Depok mengadakan rapat dan diputuskan membentuk Barisan Keamanan Depok. Tole Iskandar akhirnya terpilih menjadi komandan. Merekalah cikal bakal perjuangan di Depok. (irw/gun/**/wki)