DEPOK – Tingkat perceraian di Kota Depok trennya bertambah. Belum mencapai setengah tahun angka perceraian di kota ini mencapai  606 pasangan bercerai. Umumnya faktor selingkuh atau orang ketiga jadi penyebab yang paling mendominasi.

Menangapi masalah ini, Spikologi dari  Universitas Indonesia (UI) Hj Fitriani mengatakan, perselingkuhan terjadi pasti ada musababnya. Paling faktor utama sekarang ini menjadi kambing hitam terjadinya suami-istri bercerai adalah faktor ekonomi.

Selain itu, juga ada beberapa faktor lainya, seperti kesibukan kedua pasangan dan media sosial yang semakin mudah dan bebas digunakan.

“Media sosial ini luar biasa dan sangat sederhana. Interaksi dengan orang dekat di luar keluarga mudah, ini juga bisa faktor utama,” kata Fitriani, kepada Radar Depok.

Sebab itu sambung Fitria,  untuk menekan angka perceraian bisa diawali dengan persiapan sebelum menikah. Khususnya di Kantor Urusan Agama (KUA) setiap mau menikah itu diwajibkan mengikuti latihan pra nikah. “Sekarang ini saya nilai hanya sebatas yang mau saja. Tidak mutlak wajib harus diikuti atau belum suatu diwajibkan,” kata dia.

Tidak hanya itu juga, perlu adanya kesadaran kepada dua pasangan suami-istri untuk bijak mengunakan media sosial. Bahkan perlu kesadaran saling keterbukaan. “Pembatasan mengunakan media sosial,  ini yang sangat mudah dilakukan untuk berinteraksi dengan orang lain selain di keluarga,” bebernya.

Sementara, Kepala Dinas Perlindungan Anak Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga (DPAPMK) Depok, Eka Bachtiar mengungkapkan, perlu adanya saling pengertian suami-istri dalam membangun rumah tangga. Sebab, rumah tangga dibangun tidak hanya seorang, namun ada suami, istri, dan anak-anaknya. “Mereka (suami-istri) juga harus memiliki tanggungjawab mempertahankan rumah tangga mereka,” kata dia.

Lalu tambah dia, Depok memiliki ketahanan keluarga. Ini tentunya  terus dilakukan. “Kami pemerintah tetap usaha menekan angka perceraian,” ucap dia. (irw)