Beranda Utama Korban First Travel Ingatkan Hakim dan Jaksa Depok

Korban First Travel Ingatkan Hakim dan Jaksa Depok

0
Korban First Travel Ingatkan Hakim dan Jaksa Depok
Foto-Foto AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK DEMO JAMAAH FIRST TRAVEL : Sejumlah jamaah dari kasus penipuan biro perjalanan umrah First Travel melakukan aksi unjuk rasa di depan Kejaksaan Negeri Kota Depok, kemarin (5/4). Aksi itu dilakukan untuk menangguhkan penahanan para tersangka agar bisa memulangkan uang dan memberangkatkan para jamaah. Insert: Tiga terdakwa, Andika Surachman, Anniesa Hasibuan, dan Kiki Hasibuan, saat menjalani sidang.
Foto-Foto AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
DEMO JAMAAH FIRST TRAVEL : Sejumlah jamaah dari kasus penipuan biro perjalanan umrah First Travel melakukan aksi unjuk rasa di depan Kejaksaan Negeri Kota Depok, kemarin (5/4). Aksi itu dilakukan untuk menangguhkan penahanan para tersangka agar bisa memulangkan uang dan memberangkatkan para jamaah.

DEPOK – Puluhan jamaah korban penipuan First Travel menggelar aksi unjuk rasa di kantor Kejaksaan Negeri Depok, kemarin (5/4). Korban yang menggelar aksi melantunkan salawat nabi. Pada saat bersamaan juga berlangsung pelantikan dan serah terima jabatan dua kepala seksi kantor Kejaksaan Negeri Kota Depok.

Para Jamaah juga membawa spanduk bertuliskan ‘Hakim dan Jaksa Awas Uang Panas First Travel’ saat menggelar aksinya di kejaksaan negeri Kota Depok. Para jamaah yang berdemo berulang kali berteriak meminta agar uang mereka dapat segera dikembalikan.

“Semoga tuhan memberikan jalan kepada kita agar dipermudah,” kata salah satu Jamaah, Slamet Subekti.

Slamet mengungkapkan, kedatangan dia dan jamaah lainnya hanya ingin meminta kepada Jaksa dan Pengadilan agar tidak memberikan keputusan seperti kasus Pandawa.

“Kasus pandawa kemarin memutuskan bahwa semua aset pandawa disita dan dikembalikan ke negara. Nah ini yang kami tidak terima makanya kami datang kemari mengingatkan,” ujarnya.

Dijelaskan Slamet kasus First Travel tidak sama dengan Pandawa. Untuk itu uang jamaah tidak seharusnya dikembalikan ke negara. “Kami ini rakyat kecil, kami minta agar aset First Travel dikembali kepada para jamaah. Jangan sampai ini pailit,” tegasnya.

Sementara itu jamaah lainnya Nuraini berharap agar aset First Travel tidak seperti Pandawa yang dilelang dan dijadikan sebagai kasus negara. “Kami sangat berharap jangan sampai seperti itu. Aset First Travel yang digunakan dari uang kami sebagai jamaah dilelang dan dikembalikan ke negara,” tuturnya.

Sementara itu, Kajari Depok, Sufari mengungkapkan dirinya mengundang semua kuasa hukum korban untuk mendapatkan masukan. Dia ingin tim kuasa hukum ini membentuk suatu wadah sebagai sarana untuk menerima aset dari Kejari dan mendistribusikan kepada korban First Travel yang memiliki bukti.

“Kita harus kembalikan aset-aset ini kepada korban. Karena korban banyak maka perlu ada tim yang bertanggungjawab dalam mendistribuskan kepada klien mereka masing-masing,” ungkap Sufari.

Undangan ini terbuka untuk umum. Artinya semua korban melalui kuasa hukum boleh hadir hari ini untuk membahas hal tersebut. Pihakya ingin tim aset ini sudah terbentuk sebelum sidang tuntutan tanggal 23 April mendatang.

“Diperkirakan akan ada 6 kuasa hukum yang hadir hari ini (kemarin, red). Tapi bukan harus final hari ini. Masih ada waktu sebelum tuntutan nanti saya,” ungkapnya.

Sementara diwaktu yang bersamaan, Kejaksaan Negeri Kota Depok menggelar pelantikan dan serah terima jabatan 2 kepala seksi pada Kejaksaan Negeri Depok di Aula Kejari Depok.

Dalam pelantikan tersebut Neneng Rahmadini yang sebelumnya menjabat Kepala Subbagian Tata Usaha (Kasubag TU) pada Wakil Jaksa Agung RI, di Kejagung RI dilantik sebagai Kepala Seksi Perdata dan Tata Usaha Negara (Kasi Datun) pada Kejaksaan Negeri Depok menggantikan Kasi Datun lama, Fauzi.

Sementara Kasi Datun Kejari Depok lama, Fauzi pindah dan menjabat sebagai Kasi Narkotika di Kejaksaan Tinggi Banten.

Saat ini Kejari Kota Depok juga melantik Firman Wahyu Octavian sebagai Kepala Seksi Pengelolaan Barang Bukti dan Barang Rampasan pada Kejaksaan Negeri Depok. Sebelumnya Firman menjabat Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasi Pidsus) pada Kejaksaan Negeri Selayar, Sulawesi Selatan.

Pelantikan dan serah terima jabatan ini dipimpin langsung oleh Kepala Kejaksaan Negeri Depok, Sufari dan disaksikan oleh Kasubag TU Kejari Depok Pudin Saripudin, Kasi Pidsus Daniel dan Kasi Pidum Priatmaji. Pantauan Radar Depok, setelah melakukan sertijab tampak para jaksa melakukan karaoke bersama di aula Kejaksaan Negeri Kota Depok.

Sementara itu, pada sidang sebelumnya, jaksa penuntut umum menghadirkan mantan Pacar lesbinya Siti Nuraidah Hasibuan alias Kiki, Esti Agustin dalam sidang lanjutan dugaan penipuan dan penggelapan serta pencucian uang oleh perusahaan perjalanan umrah First Travel di Pengadilan Negeri Depok, kemarin (4/4).

Dalam kesaksiannya, Esti mengaku pernah menjalin hubungan khusus dengan Direktur Keuangan First Travel, Kiki yang ternyata diketahui sebagai perempuan. Kiki pun sering memberikan sejumlah hadiah kepada Esti saat menjalin hubungan. “Saya mantan pacarnya,” kata Esti kepada hakim di PN Depok, kemarin.

Dalam kesaksiannya Esti mengatakan dirinya pernah dibelikan apartemen oleh Kiki di kawasan Meruya, pada Oktober 2015 dengan harga Rp400 juta. Selain itu dia juga mengaku dibelikan mobil Mazda 2 tahun 2014. “Tapi sudah saya jual karena turun mesin, dengan harga Rp100 juta,” ujar Esti.

Sementara itu, JPU dalam persidangan tersebut, Heri Jerman mengonfirmasi keterangan Esti telah menerima sejumlah pemberian seperti Mobil Mazda 2 warna putih, satu tas Louis Vuitton, satu tas Gucci, satu unit apartemen, satu cincin emas, satu cincin putih, satu cincin bertahtakan berlian, satu cincin mutiara, jam tangan, hingga sejumlah unit ponsel pintar dengan tipe iPhone 6+ dan iPhone 7.

Namun Jaksa mengaku heran, dan menanyakan apakah Esti tak pernah merasa curiga akan banyaknya pemberian dari Kiki. “Enggak, saya enggak banyak tanya itu uang dari mana,” ujar Esti.

Esti juga mengaku pernah ikut dengan keluarga Andika Surachman, Anniesa Hasibuan, dan Kiki ke luar negeri, seperti beberapa negara di Eropa, Jepang dan Amerika Serikat. (cr2)