DEPOK – Putaran kedua Pemilihan Gubernur Jawa Barat (Pilgub Jabar) sudah dipastikan bakal digelar pada 14 Mei 2018, yang akan berlangsung di kampus Universitas Indonesia, Kota Depok.

Ketua Divisi Sosialisasi dan SDM KPU Jabar, Nina Yuningsih menyebutkan, pelaksanaan tetap di UI Kota Depok pada 14 Mei. Empat pasangan calon Pilgub Jabar akan menghadapi sejumlah penguji salah satunya dari UI, yakni Chusnul Mariyah, Ph.D.

“Sejauh ini tidak ada penundaan. Iya tanggal 14 di UI Depok,” kata Nina kepada Radar Depok.

Sementara itu, Komisioner Divisi Teknis KPU Jabar, Endun Abdul Haq mengatakan, tidak ada alasan khusus diundurnya pelaksanaan debat ini, hanya menyesuaikan dengan hari besar keagamaan Kenaikan Isa Almasih yang juga jatuh pada 10 Mei.

“Benar, tadinya memang tanggal 10, tapi ada hari besar keagamaan maka kami undur,” kata Endun kepada wartawan, Minggu (29/4).

Selain tanggal, untuk sementara sejauh ini tak ada perubahan lanjutan. “Sejauh ini hanya waktu saja yang berubah, tempat dan hal lain tidak ada yang berubah,” kata Endun.

Lebih lanjut Endun juga menjelaskan tema yang akan diangkat dalam debat kali ini akan fokus pada pengelolaan sumber daya alam di Tanah Sunda itu. Yakni mencangkup lingkungan hidup, sumber daya alam, energi dan pangan, pertanian, kelautan, kehutanan, dan pertambangan.

Empat pasangan calon yang “bertarung” dalam Pilgub Jabar ini akan bertemu kembali di panggung Universitas Indonesia, Depok setelah sebelumnya debat perdana dilaksanakan di Sasana Budaya Ganesha, Bandung. “Pelaksanaannya UI yah tetap, di UI Depok,” tegas Endun.

Sementara itu, setiap kepala terutama generasi muda di Jawa Barat harus mendapat informasi tentang pemilu. Informasi juga harus disampaikan sebaik-baiknya atau sesempurna mungkin. Itu diperlukan agar pemilih muda terlindungi dari hoax dan informasi yang menyesatkan. Hal tersebut disampaikan Ketua KPU Jabar, Yayat Hidayat di laman KPU Jabar.

Dikatakan Yayat, hak pemilih muda harus dilindungi agar mereka menjadi pemilih berkualitas. Apalagi jumlah pemilih muda atau rentang usia 17-40 tahun lebih dari 17 juta. “Mereka jangan sampai diperkosa berita-berita kebencian dan diajak untuk menjadi pemilih yang tidak rasional. Jangan pula memberi kesempatan berita bohong mengeksploitasi emosi yang membangkitkan sentimen agama dan ras,” ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pilgub Jabar berkurang 5.091 pemilih dari DPT yang ditetapkan 21 April lalu. DPT sebelumnya berjumlah 31.735.133 dan berubah menjadi 31.730.042 saat dilakukan perubahan. Hal tersebut terungkap dalam rapat pleno perbaikan rekapitulasi DPT Pilgub Jabar 2018, beberapa waktu lalu.

Perubahan terjadi di Kota Bekasi, Kabupaten Bandung, Kabupaten Cianjur, dan Kabupaten Indramayu. Perubahan di Kota Bekasi karena kesalahan rekap di Kelurahan Ranggon Kecamatan Jatiasih sebanyak 366 pemilih. Perubahan di Kabupaten Bandung karena ada mutasi penduduk, sehingga ada penambahan dua pemilih yang semula 2.330.850 menjadi 2.330.852 pemilih.

Di Kabupaten Cianjur secara angka tidak ada masalah, tetapi ketidakpastian angka disebabkan keterlambatan konfirmasi dari Disdukcapil setempat. Perubahan di Kabupaten Indramayu atas rekonsiliasi data Panwaslu, sehingga terjadi perubahan dari 1.315.739 menjadi 1.324.036 pemilih. (mg2/gun/net/**)