Beranda Ruang Publik Pilkada yang Bersahabat dan Membahagiakan

Pilkada yang Bersahabat dan Membahagiakan

0
Pilkada yang Bersahabat dan Membahagiakan
FOTO: Muhammad Fahmi Penulis adalah “Penulis Buku Cita-Citaku Jadi Presiden”
FOTO: Muhammad Fahmi
Penulis adalah “Penulis Buku Cita-Citaku Jadi Presiden”

Oleh: Muhammad Fahmi *)

Pilkada yang bersahabat dan membahagiakan… Woww keren…. Itulah kalimat pertama yang muncul secara spontan dari penulis ketika mendengar tag line tersebut diucapkan oleh ibu N. Lienda Ratnanurdianny yang kini menjabat selaku Kepala Kesbangpol Kota Depok.  Wanita yang pernah menjadi Camat Pancoran Mas tersebut kini masih akrab dipanggil BCL (Bu Camat Lienda) menyampaikan bahwa dirinya bersama jajaran dan semua stakeholder Kesbangpol akan segera menginisiasi dan mengkampanyekan gerakan moral  dengan menyerukan PILKADA yang Bersahabat dan Membahagiakan.

Dalam Perspektif penulis, gerakan ini sangatlah strategis, kekinian, inspiratif, patut dan tepat untuk digelorakan. Mengingat dari tahun ini 2018 hingga 2020 mendatang menjadi tahun politik bagi negeri ini. Tahun 2018 ada agenda Pilkada serentak kota/kabupaten dan provinsi, tahun 2019 ada agenda Pemilihan Legislatif (PILEG) dan Pemilihan Presiden (PILPRES). Tahun 2020 kembali lagi dilaksanakan Pilkada serentak untuk kota/kabupaten dan propinsi.

Seperti yang kita maklumi bersama, pelaksanaan Pilkada atau pesta demokrasi selalu memberikan warna warni kehidupan demokrasi bangsa dan Negara kita. Presiden Joko Widodo menyampaikan di beberapa kesempatan agar Pilkada serentak ini diharapkan dapat menjadi pesta demokrasi yang menggembirakan, membahagiakan, mendamaikan, bersahabat dan tetap mensejahterakan rakyat. Jangan malah sebaliknya, pilkada yang menyedihkan, menyengsarakan, mencekam, saling benci dan menyusahkan rakyat.

Pilkada serentak 2018 yang diselenggarakan di 171 daerah (17 provinsi, 115 kabupaten, dan 39 kota) tampaknya lebih menarik ketimbang pilkada serentak 2017. Dinamika pilkada serentak setahun yang lalu tenggelam lantaran didominasi ingar- bingar pemilihan gubernur DKI Jakarta yang diwarnai isu serta sentimen berbasis SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan). Begitu ramai pemberitaan dan perbincangan masyarakat terkait tarik-menarik pasangan calon (paslon) dalam Pilgub Jakarta sehingga seolah-olah Pilkada 2017 hanya berlangsung di ibu kota negara. Padahal, saat yang sama, pilkada berlangsung secara serentak di 101 daerah yang mencakup 7 provinsi, 76 kabupaten, dan 18 kota di Indonesia. Pilkada DKI begitu menguras dan membetot emosi warga bangsa, hingga tidaklah heran banyak yang berkata Pilkada DKI rasa Pilpres.

Pada suatu ketika dalam sebuah kajian agama yang penulis hadiri, seorang peserta kajian bertanya secara berapi-api kepada ustad penceramah; “Mengapa sekarang ini seakan tidak ada lagi nilai persahabatan? Terbukti banyak sekali bentuk kriminal hampir di semua daerah yang di luar akal sehat? Setiap Pilkada kita seolah terpecah belah bagai bukan saudara dan sahabat lagi, ditambah lagi para pejabat kita seolah tidak peduli dengan nasib rakyat, buktinya banyak para Kepala Daerah dan pejabat lainnya yang tertangkap korupsi oleh KPK. Akibatnya rakyat menjadi menderita. Apa yang menjadi penyebab dari semua masalah itu, bagaimana semua itu bisa terjadi Pak Ustad?”

Dijawab Pak Ustad dengan singkat; “Karena suasana kebatinan dari rasa persahabatan dan kasih sayang telah hilang dari hati sanubari manusia”.

Dalam Alquran lanjut sang ustad, telah digambarkan Allah tentang contoh persahabatan; ada persahabatan semut yang sangat harmonis dibingkai oleh rasa kasih sayang. Pimpinan semut sangat perduli terhadap nasib bawahannya. Hal itu tergambar ketika kepala rombongan dari semut menyerukan kepada semua anggota rombongannya dari semut; “Wahai para semut masuklah kalian ke tempat kalian masing-masing agar jangan terinjak-injak oleh Nabi Sulaiman dan bala tentaranya”. Begitulah pedulinya pimpinan semut kepada bawahannya agar mereka jangan sampai terinjak mati sia-sia oleh Nabi Sulaiman dan tentaranya. Demi mendengar seruan semut itu membuat Nabi Sulaiman tersenyum simpul sambil merasa syukur kepada Allah telah diberikan nikmat dapat mengetahui bahasa pimpinan semut kepada para anggotanya.

Selain itu, semut setiap bertemu dengan kawannya akan salaman sesama mereka dengan cara saling mencium sebagai tanda akrabnya persahabatan. Kemudian jika ketemu makanan bukan dimakannya sendiri tetapi dia akan panggil kawannya yang lain untuk bersama-sama membawa makanan tersebut ke tempat mereka tinggal untuk dimakan sebagian dan untuk disimpan pula sebagian yang lain untuk bekal nanti jika tiba waktu penghujan tidak dapat lagi mencari makanan. Jadi mereka perduli kepada nasib kawannya dan tidak menang sendiri.

Mereka hidup damai bahagia, penuh persahabatan, memikirkan hari sekarang dan hari depan sewaktu penghujan datang. Demikianlah persahabat harmonis yang terjadi di kalangan semut.

Berbeda dengan persahabatan kera; Allah mencontohkan orang-orang  yang bandel, jahat, dan pembangkang, dengan kera. Mereka pergi ke mana-mana secara bersama-sama, dari luar kelihatan mereka akrab, tetapi dari dalam, hati mereka terbelah. Pimpinan kera tidak begitu perduli kepada bawahan. Hal itu dapat terbukti kalau sudah ketemu makanan; masing-masing mereka berebut dan tidak memberi kesempatan kepada yang lainnya untuk menikmati makanan itu kecuali dengan merampasnya secara kasar dan bila perlu harus didahului oleh perkelahian. Bahkan berapa saja pun makanan yang mereka dapatkan harus dihabiskan saat itu juga tanpa memikirkannya untuk disimpan besok di saat sulit mendapatkan makanan. Suatu persahabatan yang hambar, pola hidup yang boros dan tidak memikirkan hari esok. Demikian gambaran pola persahabatan kera, semoga kita terbebas dari tipe persahabatan kera ini.

Filosofi persahabatan diatas dapat diinternalisasi dalam proses Pilkada. Betapa perlunya nilai persahabatan itu diwujudkan dalam diri pribadi kita sebagai warga bangsa. Persahabatan semut dapat menginspirasi dan mengilhami seluruh kita yang terlibat dalam proses Pilkada. Jika ruh persahabatan semut dapat diimplementasikan ke dalam proses pilkada maka akan tercipta persahabatan yang tulus ikhlas yang didasari oleh rasa senasib sepenanggungan, susah sama dirasa, bahagia sama dinikmati walau berbeda pilihan.

Pilkada serentak ini harusnya menjadi media mempererat silaturahmi dan mengokohkan persahabatan antar sesama warga bangsa. Perbedaan pilihan bukanlah racun yang menghancurkan persaudaraan dan persahabatan yang telah terjalin, namun harus menjadi pupuk dan jamu yang akan melatih kebesaran hati, pikiran dan sikap kita akan Takdir Tuhan yang telah memilih yang terbaik dalam sebuah proses pilkada serentak.

Rasulullah pun mengingatkan bagi yang memelihara persahabatan akan mendapat perlindungan kelak di akhirat yang kedudukannya sama dengan enam golongan lainnya.

Rasulullah bersabda; “Ada tujuh golongan yang mendapat perlindungan Allah pada hari kiamat pada hari tidak ada perlindungan kecuali perlindunganNya. Yaitu; Pemimpin yang adil, pemuda yang dibesarkan dalam beribada kepada Allah, seseorang yang hatinya terpaut pada masjid, dua orang yang menjalin perhahabatan; mereka bersahabat karena Allah dan berpisah karena Allah. Laki-laki yang diajak perempuan cantik dan kaya berbuat serong, dia mengucapkan aku takut kepada Allah. Seseorang yang bersedekah dengan tangan kanan sehingga tidak diketahui tangan kirinya dan seseorang yang zikir kepada Allah di tempat yang sunyi sampai menetes air matanya”. (HR Bukhari Muslim)

Semoga Pilkada ke depan menjadi pesta demokrasi yang memperkokoh rasa persahabatan dari hati sanubari yang tulus ikhlas, penuh kepedulian terhadap nasib orang lain, bagai persahabatan semut, agar kehidupan demokrasi menjadi damai, bersahabat dan membahagiakan, aamin. (*)

*)Penulis adalah Penulis Buku Cita-Citaku Jadi Presiden