Beranda Metropolis Sekolah Berbentuk Saung, Al-Quran dan Hadits jadi Konsep

Sekolah Berbentuk Saung, Al-Quran dan Hadits jadi Konsep

0
Sekolah Berbentuk Saung, Al-Quran dan Hadits jadi Konsep
IST FOR RADARDEPOK Siswa Sekolah Alam Indonesia Meruyung bersama para guru berfoto saat kegitan outing diluar sekolah.
IST FOR RADARDEPOK
Siswa Sekolah Alam Indonesia Meruyung bersama para guru berfoto saat kegitan outing diluar sekolah.

Sekolah berkonsep Alam saat ini menjadi salah satu alternatif para orangtua, guna memberikan pendidikan kepada anak-anaknya. Seperti Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang berdiri sejak 1998. sekolah tersebut menjadi sekolah alam yang bisa dibilang sukses di Kota Depok.

Laporan: NUR APRIDA SANI

 

Pada awalnya Sekolah Alam Indonesia hanya merupakan suatu gagasan pendidikan. Kemudian dicoba diwujudkan menjadi sebuah model sekolah, yang mempunyai dimensi alam sebagai sumber ilmu dan dapat dikelola oleh peserta didik.

Kali ini  awak Radar Depok menemui salah satu cabang dari Sekolah Alam Indonesia yang berada di Kota Depok, yakni Sekolah Alam Indonesia (SAI) Meruyung. Konnytia Aminah Sari, selaku Wakil Kepala SAI Meruyung Bidang Kurikulum menjelaskan, sejarah tentang SAI Meruyung.

Sekolah Alam Indonesia atau yang biasa disingkat SAI merupakan sekolah alam pertama yang muncul di Tanah air sejak 1998. Awalnya sekolah tersebut hanya bernama Sekolah Alam yang berlokasi di wilayah Ciganjur, Jakarta Selatan.

Konny -sapaanya- mengatakan, di tahun pertama merintis, Sekolah Alam hanya memiliki delapan orang murid yang terdiri dari lima orang jenjang Playgroup dan tiga orang jenjang Sekolah Dasar (SD). Guru yang dimiliki juga tidak banya, hanya tiga guru Playgroup, dua guru SD, dan satu guru Tahfidz.

Namun setelah tiga tahun berjalan tepatnya 2001 Sekolah Alam berpindah lokasi sekolah, tetapi masih di wilayah yang sama yaitu Ciganjur, Jakarta Selatan. Ditanah seluas 7.200 meter persegi tersebut dibangun kelas-kelas yang diperuntukkan untuk kelas Preschool (TK) sampai SD kelas IV. “Karena baru tiga tahun merintis, jadi baru ada sampai angkatan ke empat di sana untuk jenjang SD-nya,” kata Konny.

Tiga tahun sejak kepindahan tepatnya 2004, Sekolah Alam mengubah nama menjadi SAI yang hingga kini melekat ditelinga masyarakat. Perubahan nama tersebut dikarenakan perkembangan sekolah alam yang mulai mucul di Indonesia.

Sambil menyusuri halaman sekolah, Konny melanjutkan pembicaraan. Ditahun pergantian namanya, SAI mulai menerima Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) untuk belajar dikelas yang sama dengan anak reguler lainnya.

“Tapi nerimanya cuma sedikit, setiap kelas maksimal dua orang dengan didampingi satu guru khusus (shadow teacher),” lanjutnya.

Karena semakin banyak orangtua yang memasukkan anaknya ke SAI, setahun kemudian SAI mendirikan Sekolah Lanjutan (SL) atau setara dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP) pada umumnya.

Dibawah teriknya matahari siang itu, jam menunjukkan pukul 11:00, Konny tetap melanjutkan sejarah tentang SAI. Terhitung dimulai 2010, Sekolah Alam Indonesia menerapkan tagline “School of Leading Generation” untuk menandakan tujuan sekolah ini dalam penciptaan generasi Indonesia yang terbaik dalam sisi akhlak, kepemimpinan dan budaya ilmiah.

Tingginya minat orangtua memasukkan anaknya ke sekolah alam, akhirnya SAI memperluas wilayah dengan membuka cabang di Kota Depok, Bogor, hingga wilayah yang ada diluar pulau Jawa, seperti Bengkulu dan Palembang.

“Karena banyaknya yang mau masuk di sekolah alam, makanya dibangun di wilayah-wilayah itu. Dan alhamdulillah masih ada sampai sekarang,” ucapnya.

Bengunan gedung di SAI sangat berbeda dengan sekolah-sekolah pada umumnya, dengan berbentuk saung yang terbuat dari kayu siswa belajar dengan riangnya bersama para guru kelasnya. Itulah yang juga menjadi ciri khas dari Sekolah alam.

“Kualitas pendidikan tidak ditentukan oleh bangunan fisik gedung, tapi dari kualitas guru dan metode belajar yang digunakan untuk dijadikan gerbang ilmu pengetahuan,” tangkasnya.

Konny menjelaskan, Al Quran dan Hadits adalah konsep pendidikan yang ada di seluruh SAI termasuk SAI Meruyung. Dua elemen tersebut menjadi pegangan teguh dari sekolah yang berbasis alam tersebut. “Sekolah alam lebih memprioritaskan tiga pokok materi yang harus dimiliki siswa, yakni Kepemimpinan, Logika Berfikir, dan Akhlak,” pungkasnya. (bersambung)