Beranda Metropolis Siswa Rata-rata Memiliki Jiwa Petualang

Siswa Rata-rata Memiliki Jiwa Petualang

0
Siswa Rata-rata Memiliki Jiwa Petualang
SANI/RADAR DEPOK Siswa Sekolah Alam Indonesia Meruyung saat membuat sebuah projek di ruang kelas beralaskan kayu-kayu.
SANI/RADAR DEPOK
Siswa Sekolah Alam Indonesia Meruyung saat membuat sebuah projek di ruang kelas beralaskan kayu-kayu.

Sekolah Alam Indonesia (SAI) mengedepankan Akhlak, Kepemimpinan, dan Logika Berfikir dalam membentuk karakter siswanya. Jangan heran ketiga pilar utama tersebut selalu jadi materi utama yang diajarkan dalam metode pembejalaran SAI.

Laporan: NUR APRIDA SANI

Tidak seperti sekolah pada umumnya yang menggunakan bangunan kelas dengan tembok berlapis batako dan semen. Di SAI Meruyung ruang kelas belajar siswanya seperti saung-saung, bertingkat yang terbuat dari kayu.

“Pendidikan berkualitas tidak ditentukan dari bangunan fisik gedung, melainkan pada kualitas guru, metodologi yang benar dan resource buku yang memadai sebagai gerbang ilmu pengetahun,” kata Wakil Kepala SAI Meruyung bidang Kurikulum, Konnytia Aminah Sari.

Tiga pilar utama yang terdiri akhlak, kepemimpinan, dan logika berfikir merupakan konsep pendidikan di SAI Meruyung. Makanya, tak heran, siswa di sekolah tersebut rata-rata memiliki jiwa petualang yang terlihat dari gestur tubuh mereka.

Sambil menyusuri halaman sekolah, Konny mengatakan setiap kegiatan sehari-hari siswa di sekolah mengacu pada ketiga pilar utama tersebut. Tak hanya itu, sekolah yang menerapkan pembelajaran tematik ini selalu memasukkan nilai-nilai keislaman di dalam metode belajarnya.

“Kami selalu mengaitkan pelajaran dikelas dengan dunia nyata juga. Itu karena kami sekolah yang langsung kontak batin dengan alam,” terangnya.

SAI Meruyung selain membungkus tiga pilar utama ke dalam bentuk tematik, juga menggunakan pendekatan proyek dalam proses pembelajarannya yang sering disebut Project Based Learning (PJBL).

Guru berpostur tinggi tersebut menjelaskan, PJBL berarti dalam segala aktivitas belajar mengajar siswa diarahkan untuk mengantarkan proses berfikir analisis dan kreatif.

Siswa di SAI selain dibekali akhlah, jiwa kepemimpinan, serta logika berfikir yang baik. Dalam kegiatan belajar mengajarnya, dalam PJBL banyak hal yang harus dilakukan oleh mereka.

Mereka ditantang untung memahami, mengidentifikasi, mempresntasikan, mengaplikasikan, mengevaluasi, serta membuat solusi dari masalah yang dialami.

“Metode PJBL maksudnya, setiap belajar siswa harus mampu membuat sebuah projek dari tema yang diberikan oleh fasilitatornya dikelas. Kemudian dari hasil projeknya tersebut mereka wajib menampilkannya di sebuah event yang dikenal puncak tema,” ungkapnya.

Di bawah panas teriknya matahari siang itu, sambil duduk didepan kelas. Konny menambahkan, setiap pagi sebelum mulai KBM siswa dibekali dengan pembiasaan membaca Al Qur’an bersama guru-gurunya dikelas.

“Targetnya lulus dari sekolah mereka bisa hafal dua juz,” pungkasnya. (bersambung)