FOTO: Drs. Supartono, MPd Pengamat sepakbola nasional, Pengamat pendidikan nasional.
FOTO: Drs. Supartono, MPd
Pengamat sepakbola nasional, Pengamat pendidikan nasional.

Oleh: Drs. Supartono, M.Pd*)

Jelang Kongres Luar Biasa (KLB) Askot PSSI Depok Periode 2018-2022 pada 28 April 2018 mendatang, Yang beragenda tunggal memilih calon Ketua, suasana antar calon pedukung Ketua heboh.

Lucu dan kekanakan

Lucu rasanya, sepakbola Depok yang kian terpuruk, belum lagi bangkit, hanya sekadar mengusung calon Ketua saja, suasananya sudah seperti bak mau perang. Apa yang dicari? Apa yang sedang dibanggakan? Bagaiamana sepakbola mau maju dan tertangani dengan baik bila belum apa-apa saja, para voters yang memiliki hak suara diajak berselisih.

Lalu, apa yang dapat dijadikan pedoman dan ukuran bahwa calon-calon yang diusung dan dibanggakan benar-benar dapat menjadi penyelamat sepakbola Depok dari keterpurukan. Apa jaminannya! Apa garansinya! Coba tengok, saat Plt Ketua Umum Askot PSSI Depok untuk pertama kalinya turun gunung, kemudian mengundang seluruh Ketua Klub Anggota Askot PSSI Kota Depok yang berjumlah 51 (Divisi Utama, Divisi I, dan Divisi II), dengan bersilaturahmi di sebuah tempat di Jalan Raya Margonda, Senin (16/4/2018) tercatat hanya 29 Klub yang hadir. Ke mana 22 Klub lainnya?

Bila kondisinya demikian, untuk 22 Klub yang tidak hadir, telah menunjukkan kekerdilannya. Menunjukkan bahwa Klubnya belum dapat menjadi anggota Askot yang diharapkan. Ini lucu dan kekanakan! Harusnya, bila berbesar hati dan cerdas, lupakan dulu bahwa kini sedang terjadi konsentrasi kubu-kubuan. Persoalan bahwa secara fakta Pak Pradi sebagai Plt Ketua Askot PSSI Depok juga mencalonkan diri kembali menjadi calon Ketua baru, singkirkan dulu. Tunjukkan bahwa seluruh 51 Klub anggota Askot PSSI Depok memang mau bersatu padu demi membangun sepakbola Depok lebih maju dari sebelumnya.

Pertanyaannya, apakah menjamin bahwa 29 Klub yang hadir saat diundang bersilaturahmi oleh Plt Ketua Umum Askot PSSI Depok yang juga menjadi calon Ketua baru, semua akan memilih Pak Pradi lagi? Sebaliknya, benarkah 22 Klub yang tidak hadir dalam silaturahmi akan memilih calon Ketua selain Pak Pradi? Semua akan terbukti saat sudah ada penghitungan hasil pencoblosan di KLB.

Namun, bila melihat deskripsi dan peta kekuatan seperti itu, bila saya berandai-andai bahwa yang hadir di acara silaturhami semua memilih pak Pradi, yang tidak hadir memilih calon Ketua lain, maka asumsinya, di atas kertas Pak Pradi sudah menang karena mengantongi 29 suara. Sementara, publik pecinta sepakbola Depok sebenarnya juga sangat berharap dan menunggu informasi dari Komite Pemilihan Asosiasi PSSI Kota Depok, apakah calon-calon Ketua yang diusung semuanya sudah memenuhi syarat. Atau masih ada yang belum memenuhi syarat. Ada berapa calon Ketua baru sebenarnya yang lolos seleksi di Komite Pemilihan di KLB 28 April 2018?

Saya melamar menjadi Sekjen PSSI bukan sok-sok-an!

Publik pecinta sepakbola Depok, sejatinya sudah gerah dengan kondisi persepakbolaan Depok yang berjalan di tempat. Lalu hal-hal yang harusnya dapat dijadikan perekat dan pemersatu, justru dirusak suasananya setiap kali mengawali proses pencalonan Ketua. Meski secara umum, persepakbolaan nasional juga mengalami hal yang sama di setiap Askot/Askab di seluruh Indonesia.

Menangani sepakbola, bukan hal yang semudah membalik telapak tangan. Puluhan tahun saya menjadi pengamat sepakbola nasional, saya tahu persis titik persoalan yang ada di dalam gerbong PSSI Pusat. Karenanya, saat untuk pertama kalinya PSSI membuka lowongan calon Sekjen PSSI yang lowong, sebagai warga Depok dan warga Indonesia, saya berani melamar dan mencalonkan diri menjadi Sekjen PSSI.

Saat itu, lamaran saya di terima di Sekretariat PSSI dengan nomor urut 7. Namun, menjelang penutupan akhir lamaran, saya mendapat informasi lengkap tentang suasana di PSSI. Dan secara bulat, meski saya yakin dapat menjabat sebagai Sekjen PSSI, saya putuskan mundur dari tes seleksi calon Sekjen. Tidak mungkin saya bekerja mengurus sepakbola dengan idealisme saya, sementara di PSSI sudah cukup mengakar “persoalan klasik”

Yang menjadi catatan penting saat itu, saya sudah mengukur diri. Saya sudah membaca apa tugas dan tanggungjawab sebagai Sekjen PSSI, dan kemampuan apa yang harus dimiliki calon Sekjen. Karenanya telah memahami persyaratan dan tugas serta tanggungjawab yang akan diemban, dan saya yakinkan diri bahwa saya mampu, maka saya melamar. Jadi saya meyakinkan diri saya sendiri, bahwa saya sedang tidak sok-sok-an dan aji mumpung melamar menjadi Sekjen PSSI Pusat.

Apa syarat dan kemampuan calon Ketua Askot PSSI Depok?

Berbekal sedikit pengalaman saya melamar menjadi Sekjen PSSI Pusat, maka saya ingin memberikan gambaran, sebenarnya apa syarat dan kemampuan yang harus dimiliki calon Ketua Askot PSSI Depok? Ini akan menjadi bahan pertimbangan yang sangat prioritas bagi para voters dalam menentukan dan memilih Ketua Umum Askot PSSI Depok yang baru. Voters harus memperhatikan betul syarat kecakapan minimal Ketua PSSI baru.

Sedikit acuan, pemimpin PSSI baru mendatang semestinya memiliki bekal-bekal minimal sebagai berikut: Pertama, memiliki Kharisma. Menjadi pemimpin itu tidak mudah. Tidak semudah yang dibayangkan orang. Ia harus siap secara intelektual dan moral. Karena ia akan menjadi figur PSSI yang diharapkan banyak orang. Perilakunya harus menjadi teladan dan patut diteladani. Seorang pemimpin adalah seseorang yang mempunyai kemampuan di atas kemampuan rata-rata bawahannya. Singkatnya, seorang pemimipin harus mempunyai karisma. Karakteristik pemimpin yang punya karisma adalah: 1). Perilakunya terpuji, 2). Jujur dan dapat dipercaya, 3). Memegang komitmen, 4). Konsisten dengan ucapan, 5). Memiliki moral agama yang cukup.

Kedua, memiliki Keberanian. Tidak lucu bila pemimpin PSSI tidak memiliki keberanian. Minimal keberanian berbicara, mengemukakan pendapat, beradu argumentasi dan berani membela kebenaran. Secara lebih khusus keberanian itu ditunjukkan dalam komitmen berani membela yang benar, memegang teguh pada pendirian yang benar, tidak takut gagal, berani ambil resiko, dan berani bertanggungjawab.

Ketiga, memiliki kemampuan memengaruhi orang lain. Satu di antara cirinya adalah kemampuannya memengaruhi seseorang untuk mencapai suatu tujuan PSSI. Dengan kemampuannya berkomunikasi, ia dapat memengaruhi orang lain. Adapun cara-cara untuk memengaruhi orang lain antara lain: 1). Membuat orang lain merasa penting, 2). Membantu kesulitan orang lain, 3). Mengemukakan wawasan dengan cara pandang yang positif, 4). Tidak merendahkan orang lain, 5). Memiliki kelebihan atau keahlian.

Keempat, mampu membuat strategi. pemimpin PSSI semestinya identik dengan seorang ahli strategi. Maju-mundurnya, gagal-berhasilnya organisasi PSSI, banyak ditentukan oleh strategi yang dirancang oleh pimpinan. Adapun kriteria seorang pemimpin PSSI yang mampu menyusun strategi: 1). Menguasai medan, 2). Memiliki wawasan luas, 3). Berpikir cerdas, 4). Kreatif dan inovatif, 5). Mampu melihat masalah secara komprehensif, 6). Mampu menyusun skala prioritas, 7). Mampu memprediksi masa depan.

Kelima, memiliki Moral yang Tinggi. Banyak orang berpendapat bahwa moralitas merupakan ukuran berkualitas atau tidaknya hidup seseorang. Apalagi seorang pemimpin PSSI yang akan menjadi panutan. Seorang pemimpin adalah seorang panutan yang secara moral dapat dipertanggungjawabkan. Tanda-tanda seorang pemimpin yang bermoral tinggi:, 1). Tidak menyakiti orang lain, 2). Menghargai siapa saja, 3). Bersikap santun, 3). Tidak suka konflik, 4). Tidak gegabah, 5). Tidak mau memiliki yang bukan haknya, 6). Perkataannya terkendali dan penuh perhitungan, 7). Perilakunya mampu dijadikan contoh. Keenam, mampu menjadi Mediator. Seorang pemimpin PSSI yang bijak mampu bertindak adil dan berpikir obyektif. Dua hal tersebut akan menunjang tugas pimpinan untuk menjadi seorang mediator. Syarat seorang mediator meliputi beberapa kriteria: 1). Berpikir positif, 2). Setiap ada masalah selalu berada di tengah, 3). Memiliki kemampuan melobi, 4). Mampu mendudukkan masalah secara proporsional, 5). Mampu membedakan kepentingan pribadi dan kepentingan umum.

Ketujuh, mampu menjadi Motivator. Hubungan seorang pemimpin dengan motivasi yaitu seorang pemimpin adalah sekaligus seorang motivator. Demikianlah memang seharusnya. Pimpinan PSSI adalah titik sentral dan titik awal sebuah langkah akan dimulai dari bangkitnya sepakbola nasional. Motivasi akan lahir jika pimpinan menyadari fungsinya sebagai motivator. Tanda-tanda seorang pemimpin menyadari fungsinya sebagai motivator: 1). Memiliki kepedulian kepada orang lain, 2). Mampu menjadi pendengar yang baik, 3). Mengajak kepada kebaikan, 4). Mampu meyakinkan oranglain, 5). Berusaha mengerti keinginan orang lain.

Kedelapan, memiliki Rasa Humor. Akan lebih mudah seorang pemimpin melaksanakan tugas kepemimpinannya jika didukang sifat humoris. Pimpinan memiliki humor yang tinggi. Kata orang humor lebih penting dari kenaikan gaji atau bonus. Termasuk kategori pemimpin yang memiliki rasa humor adalah sebagai berikut: 1). Murah senyum, 2). Mampu memecahkan kebekuan suasana, 3). Mampu menciptakan kalimat yang menyegarkan, 4). Kaya akan cerita dan kisah-kisah lucu, 5). Mampu menempatkan humor pada situasi yang tepat.

Dari delapan syarat minimal calon pemimpin adakah kedelapannya sudah dimiliki calon yang akan dipilih? Lebih dari itu, apa pengalaman calon dalam hal pimpin memimpin? Pernah menjadi pemimpin apa saja? Yang lebih sulit lagi, apakah calon Ketua memiliki pengalaman berorganisasi? Memiliki sertifikat kepemimpinan? Pernah di dadar dalam konteks kepemimpinan? Semisal Latihan Dasar kepemimpinan, Latihan Dasar Kepemimpinan siswa/mahasiswa/orgnisasi? Mengertikah calon pemimpin dengan kata-kata program kegiatan, grand desian dan lainnya?

Lalu, dari pengalaman selama ini tentang sepakbola Depok, keuangan menjadi kendala utama mengapa sepakbola Depok terpuruk. Kira-kira secara pribadi, apakah calon Ketua ini memiliki pohon uang? Atau memiliki dukungan keuangan yang ada garansi bahwa roda kegiatan yang akan dipimpinnnya nanti dapat berjalan dan disokong anggaran?

Voters harus cerdas

Bila kita lihat syarat-syarat calon Ketua Umum PSSI, barangkali bila dianalisis, secara pribadi, bagaiamana kondisi intelektual, sosial, emosional, analitis, kreatif, imajinatif calon Ketua. Sisi intelektual akan menjadi pondasi dan berperan besar serta menjadi sumber gagal dan berhasilnya organisasi yang akan diketuainya. Sektor sosial, seperti dari kalangan mana berasal, golongan mana berasal, pergaulannya sejauh mana, kemampuan ekonomi pribadinya bagaimana, komunikasinya bagaimana, ini menjadi faktor sangat penting. Bila faktor intelektual yang di dalamnya ada unsur jenjang pendidikan dan pengalaman pekerjaan, serta pengalaman menjadi Ketua, maka akan sangat berpengaruh pada sektor kemampuan analitis, kreatif dan imajinatif.

Fakta di Kota Depok, setiap jalannya program dan kegiatan yang diemban Askot, meski ada faktor politik berperan mencekal pendanaan, maka setiap langkah yang membutuhkan anggaran pasti ditopang oleh para pribadi pengurus. Tidak mengemis dan memasukan proposal sumbangan dari pintu ke pintu. Nah, silakan para voters, siapa yang kalian anggap layak jadi Ketua baru Askot PSSI Kota Depok 2018-2022? Andai saya seorang pengusaha dan memiliki uang gepokan, saya pasti tidak akan mundur dari tes calon Sekjen PSSI saat itu. Karena saya yang demikian itu pula, maka saya juga tidak berani mencalonkan diri menjadi Ketua Askot PSSI Kota Depok yang baru. Karena setiap program=harus ada uang! Selamat memilih dengan cerdas ya voters! (*)

*)Pengamat Sepakbola Nasional, Pengamat Pendidikan Nasional