Febrina/RADARDEPOK Warga Beji Timur Sesalkan Tindakan Sejarahwan Depok
Febrina/RADARDEPOK
DISKUSI: Warga Beji Timur Sesalkan Tindakan Sejarahwan Depok

DEPOK –  Salah seorang Sejarawan Depok,  JJ Rizal disinyalir memprovokasi warga untuk menolak pembangunan  oleh salah satu pengembang , di kawasan Beji Timur, Depok. Sejarahwan JJ Rizal menggelar unjuk rasa menolak kehadiran pengembang di lingkungan tempat tinggalnya pada 15 April 2018. Aksi digelar di lapangan Hawai, Beji Timur, dengan memanfaatkan kedatangan Walikota Depok ,Mohammad Idris  untuk membuka turnamen sepak bola yang diselenggarakan oleh Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kelurahan Beji Timur.

Usai pertandingan, anggota Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) bersama puluhan penduduk mendatangi rumah JJ Rizal untuk meminta pertangungjawaban atas aksinya yang menolak hadirnya pengembang disaat hajat warga Beji Timur digelar, turnamen sepakbola.

“Maksudnya apa bentangin spanduk di lapangan , pertandingan bola ini enggak ada hubungannya dengan pengembang, ini acara masyarakat,” kata Ketua LPM Beji Timur Dedi Juansyah kepada Rizal.

Dedi Juansyah mengatakan, warga mendukung pembangunan karena berdampak  positif kepada perekonomian warga sekitar. Selain itu, sepanjang pembangunan itu telah  mendapat izin  prinsip dan sedang menunggu Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dari Pemerintah kota Depok. Aksi JJ Rizal itu hanya di dukung segelintir warga yang bertempat tinggal disekitarnya dengan  membentuk forum Warga Beji Timur yang memasang spanduk kecil bertuliskan penolakan di depan pagar rumahnya.

Perwakilan Warga Beji Timur di Beji Depok mengatakan aksi JJ Rizal sangat menggangu ketentraman mereka. Dikatakan JJ. Rizal Sejarawan itu selama ini tidak ada konstribusinya terhadap masyarakat dan lingkungannya. Salah seorang warga, Meheng bersama teman-teman juga telah melakukan aksi membongkar portal yang dipasang JJ Rizal di Jalan Taufiqurrahman yang menggangu lalu lintas warga yang mengunakan kendaraan roda dua dan empat.

“Saya dan warga kesal dengan sikap JJ Rizal  dan dianggap arogan,” tutup Meheng. (ina)