SANI/RADAR DEPOK BUDAYA LITERASI: Wakil Walikota Depok, Pradi Supriatna (tengah) didampingi Kadisdik, dan Kadiskominfo berfoto bersama siswa-siswi SMA/SMK yang mengikuti pelatihan jurnalistik di Gedung Perpustakaan Balaikota Depok.
SANI/RADAR DEPOK
BUDAYA LITERASI: Wakil Walikota Depok, Pradi Supriatna (tengah) didampingi Kadisdik, dan Kadiskominfo berfoto bersama siswa-siswi SMA/SMK yang mengikuti pelatihan jurnalistik di Gedung Perpustakaan Balaikota Depok.

DEPOK – Wakil Walikota Depok, Pradi Supriatna membuka pelatihan jurnalistik di gedung Perpustakaan Balaikota Depok, Jalan Margonda Raya, Kecamatan Pancoranmas, kemarin (2/4). Pelatihan tersebut melibatkan 150 siswa jenjang SMA/SMK yang tersebar di 11 kecamatan.

Dalam sambutannya, Pradi mengapresiasi upaya dari berbagai kalangan yang saat ini mulai konsen mengenalkan dunia media kepada para pelajar. Karena, intensitas pelajar pada dunia tulis-menulis dinilai dapat berdampak positif untuk meningkatkan kemampuan literasi dan daya analisis.

“Pelatihan jurnalistik ini juga bagian dari menyalurkan minat dan bakat dengan kegiatan yang menunjang terhadap peningkatan pendidikan karakter,” kata Pradi.

Pradi menjelaskan, setiap warga negara mempunyai hak untuk mendapatkan dan memberikan informasi baik dari maupun kepada masyarakat. Hal tersebut terlihat dari banyaknya penyampaian foto atau informasi melalui media sosial.

“Dari berbagai kalangan anak-anak hingga dewasa apa-apa sudah upload di media sosial, dengan begitu sama saja mereka menyampaikan informasi ke masyarakat. Dan hal seperti itu juga bagian dari jurnalistik,” jelasnya.

Dalam memberikan informasi ada beberapa rambu yang harus diperhatikan. Diantaranya, rambu etika dan moral, termasuk rambu-rambu yang ditetapkan oleh pemerintah.

Sama dengan Wakil Walikota Depok, Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Depok, Mohammad Thamrin juga turut mengapresiasi pelatihan jurnalistik tersebut. Menurutnya, siswa juga perlu mendapatkan pemahaman diluar ilmu yang berkaitan dengan bidang akademi seperti halnya jurnalistik.

“Terkait gerakan literasi sekolah (GLS), mereka jadi dapat semakin membuka wawasan dengan ilmu baru diluar pelajaran sekolah,” kata Thamrin.

Kedepannya, lanjut Thamrin, pihaknya akan terus mengagendakan pelatihan serupa yang bekerjasama dengan salah satu organisasi jurnalistik.

“Saya sangat mendukung untuk siswa mengasah kemampuannya, jangan hanya melihat tapi juga tahu bagaimana menjelaskan fenomena dalam bentuk tulisan,” kata Thamrin. (san)