SIAP BERAKSI : Sejumlah buruh asal Kota Depok berkumpul untuk berangkat ke Jakarta memperingati Hari Buruh Internasional atau May Day di kawasan Jalan Raya Bogor, Kecamatan Tapos, Selasa (1/5). Dok Radar Depok
AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
SIAP BERAKSI : Sejumlah buruh asal Kota Depok berkumpul untuk berangkat ke Jakarta memperingati Hari Buruh Internasional atau May Day di kawasan Jalan Raya Bogor, Kecamatan Tapos, Selasa (1/5). Dalam aksi yang akan mereka lakukan itu terdapat beberapa tuntutan salah satunya menolak dan mencabut Perpres No.20 Tahun 2018 tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing (TKA).

DEPOK – Pada peringatan Hari Buruh (1/5), ribuan buruh di sejumlah daerah menyampaikan aspirasinya kepada pemerintah, termasuk buruh di Kota Depok.

Dalam aksi May Day tahun ini, para buruh mendorong pelaksanaan upah minimum sektoral di Kota Depok dijalankan sesuai dengan regulasi yang berlaku, yaitu SK Gubernur Jawa Barat yang berlaku per Januari 2018.

“Aksi kali ini kita mengingatkan agar pengusaha dapat menjalankan kewajibannya, yakni memberikan upah yang sesuai dengan SK Gubernur,” ungkap Ketua PC Kimia Energi dan Pertambangan Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Kota Depok, Senggono saat melakukan aksi peringatan hari buruh di Kota Depok, di Bangunan Swalayan di Jalan Raya Jakarta Bogor, Selasa (1/5).

Menurutnya, dirinya tidak menampik masih ada beberapa perusahaan yang belum memberikan upah yang layak kepada pekerja sesuai dengan regulasi tersebut.

“Memang pada beberapa perusahaan, yang kita amati dan cermati masih ada yang belum melaksanakan upah minimum sektoral Kota Depok,” kata Senggono kepada Radar Depok.

Sebagai upaya, pihaknya terus berkomunikasi dengan Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Depok guna mengawasi perusahaan yang masih memberikan upah dibawah upah minimum sektoral Kota Depok.

“Kita sudah kerjasama dengan disnaker kita akan terus memonitoring dan mengunjungi perusahaan di Kota Depok yang membandel tidak menjalankan SK Gubernur Jawa Barat,” kata Dia.

Terkait aksi mayday, Senggono mengungkap, pihaknya tidak berambisi untuk melakukan aksi di Jakarta. Namun, pihaknya hanya melakukan longmarch di wilayah Depok. “Memang ada beberapa yang kami kirim ke DPR RI, ada sekitar 200 motor, selebihnya kami fokuskan melakukan aksi di Kota Depok,” kata Senggono.

Hal itu dilakukan, karena menurutnya, pengawasan pelaksanaan regulasi juga perlu dilakukan di tingkat kota seperti di Kota Depok. “Isu yang kami bawa adalah tolak revisi UU 13 tahun 2008, Perpres No 20 tahun 2018, dan pp 78 tahun 2015,” lanjut Senggono.

Terpisah, Sekjen Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Kota Depok, Wido Pratikno mengirim perwakilannya ke Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta sebanyak 150 orang. Buruh dari Kota Depok meminta pemerintah menurunkan harga beras, listrik, dan BBM.

Para buruh juga menyatakan, menolak tenaga kerja buruh kasar asal China dan mencabut Perpres No20 tahun 2018 tentang Tenaga Kerja Asing (TKA). “Selain itu hapus outsourching dan pilih presiden pro buruh. Itulah tuntutan dalam May Day,” kata Pratikno kepada Harian Radar Depok, kemarin (1/5).

Pratikno melanjutkan, anggota dari FSPMI Kota Depok berkumpul di PT Xacti, terletak di Jalan Raya Jakarta Bogor KM 32, Kelurahan Sukamaju Baru, Tapos.

“Kami akan bertolak dari Jalan Raya Jakarta Bogor, kami belum tahu yang akan berangkat dari serikat buruh lain, nanti saja ketemu di HI,” jelas Pratikno.

Sementara itu, tidak semua ikut turun ke jalan menyampaikan aspirasinya. Ada juga di antaranya memilih mengisi libur May Day bersama keluarga. Seperti dilakukan Muhammad Amin karyawan PT Meiwa, memilih mengisi liburan mayday bersama keluarga. “Banyak cara untuk mengisi liburan, saya lebih memilih di rumah bersama keluarga,” kata Amin.

Sementara itu, Kapolres Kota Depok Kombes Pol Didik Sugiarto menyampaikan sambutan agar harapan dan keinginan buruh di Kota Depok dapat berjalan dengan tertib.

“Di dalam merayakan hari buruh ini, rekan-rekan lakukan dengan bergembira, lakukan dengan memperjuangkan haknya seoptimal mungkin. Sehingga apa yang diperjuangkan bisa tercapai namun tetap menjaga tata tertib, hidup buruh! hidup buruh!” pungkas Didik. (cr2)