ASLI DEPOK: Pemilik Gerai Rumah Jagung, Iwan Wachmana memperlihatkan puding lapis coklat berbahan dasar jagung yang langsung dibuat di gerai. Foto : Rama/Radar Depok
Rama/Radar Depok
ASLI DEPOK: Pemilik Gerai Rumah Jagung, Iwan Wachmana memperlihatkan puding lapis coklat berbahan dasar jagung yang langsung dibuat di gerai.

DEPOK Potensi industri kreatif di Kota Depok dinilai cukup besar. Hal ini merujuk dari daya beli masyarakat yang tinggi. Sebab itu, dibutuhkan inovasi guna menggerakan roda bisnis tersebut.

“Tingginya daya beli masyarakat menjadi peluang bagi berkembangnya industri kreatif,” kata Sekretaris Daerah Kota Depok, Hardiono disela-sela acara rapat Koordinasi Penyusunan Disagregasi Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) di Depok, Senin (30/4).

Hardiono mengatakan produk-produk industri kreatif laris terjual, walaupun dengan harga yang cukup tinggi. Misalnya saja, saat acara fashion show yang digelar dalam rangka HUT ke-19 Kota Depok. Ada baju yang laris meski dengan harga Rp4 juta.

“Pada 2015 sumbangan industri kreatif di Kota Depok untuk Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai 11 persen,” katanya.

Ia mengatakan jumlah industri kreatif sangat banyak karena industri ini tengah berkembang pesat di Kota Depok. Kondisi ini tentu tidak akan berjalan tanpa adanya kreatifitas yang terus-menerus, menyesuaikan perkembangan, baik dari cita rasa para konsumen.

Dikatakannya, Pemkot Depok terus membangun sentra bisnis di sejumlah wilayah dengan mengembangkan berbagai potensi ekonomi yang ada seperti ikan hias, tanaman hias dan juga tekstil di wilayah Cipayung.

Sedangkan di kawasan Jalan Margonda yang merupakan etalase Kota Depok memang difokuskan bergerak di industri perdagangan dan jasa. “Ini tentunya sesuai dengan RTRW Kota Depok,” jelasnya.

Lebih lanjut Hardiono mengatakan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) juga mempunyai peluang yang cukup besar untuk berkembang lagi sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Namun kata dia, untuk industri yang sifatnya manufaktur kita sulit untuk dikembangkan lagi, paling hanya mempertahankan industri yang sudah ada di Jalan Raya Bogor.

“Yang lain sudah mengarah kepada industri perdagangan dan jasa,” katanya.

Mengenai Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada kata Hardiono kita juga perlu terus ditingkatkan sesuai dengan kebutuhan pasar industri yang membutuhkan. “Kita akan tingkatkan standar kualitas lulusan SMK yang ada di Kota Depok,” katanya.

Sebelumnya Dinas Koperasi dan UMKM (DKUM) Kota Depok menargetkan rekrut 500 pelaku usaha di 2018. Khususnya bagi para pelaku usaha produksi pangan.

Kepala Dinas Koperasi Usaha Menegah Kecil (DKUM) Depok, Fitriawan mengatakan, pembinaan para palaku usaha pangan ini bertujuan agar produk yang dihasilkan aman atau nyaman dikonsumsi masyarakat.

“Dalam hal ini kami mengandeng Dinas Kesehatan untuk mengecek kelayakan produk pangan dihasilkan pelaku UKM,” kata Fitriawan.

Pembinaan para pelaku usaha UKM ini sudah dilakukan lama, namun untuk intensif data sudah dilakukan pada 2017 lalu.

Mantan Kepala Kesbangpol Kota Depok ini melanjutkan, para pelaku usaha diberikan pelatihan dalam mengemas sebuah produk. Tapi sebelumnya, Dinas Kesehatan Depok yang menguji kelayakan produk yang dihasilkan.

Jika sudah diberikan sertifikat oleh Dinas Kesehatan, maka produk yang pelaku UKM ini layak untuk dikonsumsi masyarakat. “Kami DKUM Depok hanya memfasilitasi pelaku usaha kecil,” ucapnya.

Semisalnya sambung Fitriawan, DKUM Depok memberikan jalan untuk pelaku usaha kecil untuk berkembang dengan memfasilitas pihak perbakan dan lainya.

“Sudah berjalan dan kami lakukan, contohnya mengundang perbankan seperti BJB dan lainya,” kata Fitriawan.

Diketahui untuk pendaftaran dilakukan di DKUM dengan persyaratan membawa fotocopy KTP dan surat izin usaha dari pihak kelurahan. “Kami harapkan pelaku usaha di Depok mendaftarkan, kami menargetkan 500 UKM di Depok di tahun ini,” ujarnya. (irw)