Korban First Travel Gigit Jari

In Utama
AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
PUTUSAN SIDANG FIRST TRAVEL: Terdakwa Direktur Utama First Travel Andika Surachman, Direktur Anniesa Hasibuan, dan Direktur Keuangan Kik Hasibuan menjalani sidang kasus dugaan penipuan dan pencucian uang biro perjalanan umrah First Travel dengan agenda pembacaan amar putusan di Pengadilan Negeri Kota Depok, kemarin (30/5).

DEPOK – Pasangan suami-istri bos First Travel, Andika Surachman dan Annisa Hasibuan, divonis 20 tahun dan 18 tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Depok, kemarin (30/5).

Para terdakwa dianggap menggunakan uang jamaah untuk kepentingan pribadi. Mereka kerap kali membelanjakan uang untuk membeli barang-barang mewah seperti mobil, rumah, perhiasan, dan lainnya. Seluruh aset yang disita jaksa diputuskan hakim dirampas untuk negara.

Majelis hakim memutuskan aset bos First Travel terkait perkara penipuan umrah dan pidana pencucian uang dirampas untuk negara. Hakim menolak tuntutan jaksa yang meminta agar aset tersebut dikembalikan ke jamaah.

“Jadi kenapa (diputuskan) dirampas negara dikarenakan dari awal memang sulit bagi majelis hakim untuk menentukan siapa yang berhak,” kata pejabat Humas Pengadilan Negeri Depok, Teguh Arifiano.

Menurut Teguh, jaksa pada surat tuntutan meminta agar aset tersebut diserahkan kepada calon jamaah umrah yang jadi korban melalui pengelola aset yang ditunjuk korban. “Ternyata pengelolanya di persidangan menolak, nggak mau ngurusin barang bukti tersebut dengan alasan aset yang diserahkan ke mereka dengan kerugian (yang) mereka (alami) nggak imbang. Jadi pihak pengelola nggak mau menanggung risiko digugat sama korban-korban lainnya,” papar Teguh.

“Makanya demi kepastian hukum dan status barang bukti nggak terkatung-katung (diputuskan) kita rampas negara,” ujar Teguh.

Korban First Travel bukan hanya calon jamaah, melainkan juga agen. Ruspitasari (43), misalnya, salah satu agen asal Jakarta yang kecewa dengan vonis hakim. Meski mengaku menerima putusan majelis hakim, namun dia yakin sebetulnya hukuman untuk bos travel umrah tersebut bisa diperberat.

“Kalau untuk saya pribadi kecewa, tidak puas. Namun apa pun keputusan dari hakim kami tetap menghormati, menghargai juga sebagai warga negara yang baik,” ujar Ruspitasari di PN Depok, Rabu (30/5). “Harusnya (hukuman) sesuai dengan perlakuan mereka yang telah menzalimi jamaah dan kami para agen,” lanjutnya.

Kekecewaan mendalam dirasakan Ruspitasari terkait aset First Travel. Jumlah aset yang awalnya diinfokan mencapai Rp200 miliar, berubah menjadi hanya Rp20-30 miliar. Atas dasar inilah pengurus korban First Travel melayangkan surat ke Pengadilan Negeri Depok. Intinya, mereka tidak mau mendapat pelimpahan aset First Travel tersebut. Penolakan itu dikarenakan aset yang dikembalikan terlalu kecil. Sehingga sulit dibagi secara rata kepada korban yang mencapai 63 ribu orang.

“Terutama pada aset, kami merasa sangat kecewa sekali. Sebagaimana yang tadi disampaikan kawan kami, kami menolak menerima pelimpahan aset karena sebelum keputusan ini, aset itu sekitar Rp200 miliar. Namun ketika mau putusan (vonis) ini kami diberitahu aset hanya Rp20 miliar sampai Rp30 miliar,” tegas Ruspitasari.

Ruspitasari mengaku belum mengetahui langkah ke depan yang akan diambil guna mengembalikan uang jamaah. Dia bersama korban lain akan terlebih dahulu berkoordinasi untuk mencari perlindungan hukum.

Dalam persidangan tersebut majelis hakim memberikan waktu selama tujuh hari untuk menentukan sikap banding atau menerima putusan. Ketua Majelis Hakim Sobandi kemudian langsung menanyakan keputusan itu ke Andika Surachman. “Bagaimana tanggapan terdakwa atas putusan ini,” kata Sobandi di ruang sidang PN Depok.

Kemudian Andika menjawab dengan tegas menolak putusan yang dijatuhkan majelis hakim. “Saya menolak, banding,” jawab Andika.

Usai menyatakan sikap, kedua bos First Travel itu dibawa ke luar ruang persidangan dan dimasukkan ke sel tunggu PN Depok.  Seperti diketahui, setelah menjalani rangkaian persidangan yang cukup panjang, sidang First Travel akhirnya memasuki babak akhir. Bos biro perjalanan umrah First Travel yang juga menjadi pasangan suami-istri tersebut terbukti bersalah melakukan Tindakan Pidana Pencucian Uang (TPPU) dan penipuan terhadap calon jamaah umrah. Kemudian mereka diwajibkan membayar denda Rp10 miliar subsider 1 tahun 4 bulan kurungan.

“Menyatakan Andika dan Anniesa Hasibuan bersalah melakukan penipuan dan pencucian uang. Majelis hakim menjatuhkan hukuman 20 tahun untuk Andika dan 18 tahun untuk Anniesa Hasibuan dengan denda Rp10 miliar subsider 1 tahun 4 bulan,” ucap Ketua Majelis Hakim Sobandi.
Ia menjelaskan, kedua terdakwa terbukti melakukan unsur mentransfer, mengalihkan, membelanjakan, membayarkan, menghibahkan, menitipkan, membawa ke luar negeri, mengubah bentuk menukarkan uang dan surat berharga, serta perbuatan lainnya.

“Kami memvonis terdakwa dengan Pasal 378 KUHP juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP juncto Pasal 64 Ayat (1) KUHP dan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang,” imbuhnya.
Sementara itu, Direktur Keuangan sekaligus Komisaris biro perjalanan umrah First Travel, Siti Nuraidah Hasibuan alias Kiki divonis 15 tahun penjara.
Selain hukuman penjara, Kiki juga diwajibkan membayar denda sebesar Rp5 miliar. Bila denda tidak dibayarkan, maka diganti dengan 8 bulan kurungan. Majelis hakim menilai Kiki hanya mengelola First Travel tanpa ada bisnis lainnya.
Kiki menggunakan uang setoran jamaah untuk kepentingan pribadinya di luar bisnis First Travel. Uang digunakan antara lain untuk wisata keliling Eropa. Juga uang setoran jamaah digunakan untuk membeli rumah.

Kepada majelis hakim, Kiki menyatakan akan berpikir tentang hukumannya tersebut. Hal tersebut juga diutarakan penuntut umum. Majelis hakim memberikan waktu selama tujuh hari. Kiki dijerat pasal 378 KUHP junto pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP junto pasal 64 ayat (1) KUHP atau pasal 372 KUHP jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP jo pasal 64 ayat (1) KUHP, pasal 3 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo pasal 64 ayat (1) KUHP.

Terpisah, sejumlah korban penipuan First Travel mengaku kecewa dengan vonis hakim. Salah satu korban yang juga agen First Travel, Surya Justina menyebutkan, vonis yang ditetapkan tidak sebanding dengan kerugian jamaah yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

“Saya tidak setuju dan sangat keberatan, seharusnya dia divonis seumur hidup. Saya rugi Rp1 miliar, sedangkan jamaah saya sekitar seratus orang dan mereka semua kecewa,” kata Surya kepada Radar Depok.

Sementara itu, saat sidang vonis berjalan, hakim anggota Teguh Arifianto mengungkap fakta menarik. Dia mengatakan, Andika Surachman dan Anniesa Hasibuan mendirikan PT First Travel hanya bermodal uang Rp2 juta.

“Menimbang berdasarkan keterangan saksi dan barang bukti maka fakta-fakta sebagai berikut. Pertama, Andika dan Anniesa mendirikan First Travel di Jakarta dengan modal awal Rp2 juta dengan usaha ibadah umrah,” ucap Teguh di PN Kota Depok, Rabu (30/5).

Pada awal berdiri, First Travel belum memiliki izin resmi sebagai penyelenggara perjalanan ibadah umrah. Kemudian Andika dan Anniesa mengajak pihak yang telah memiliki surat izin, sehingga First Travel dapat beroperasi. Pada 2011 First Travel akhirnya resmi beroperasi. Posisi Direktur Utama diduduki oleh Andika dan jabatan Direktur disandang Anniesa.

“Namun belum punya izin, kemudian mengajak orang. Bahwa selanjutnya tahun 2011 terdakwa mendirikan First Travel bergerak di bidang pariwisata dan umrah, dengan susunan pengurus Andika Surachman sebagai Direktur Utama dan Anniesa Hasibuan sebagai Direktur,” terang Teguh.

“Bahwa tahun 2011 sesuai akta nomor 5 yang dibuat di hadapan notaris berubah menjadi Andika Surachman sebagai Direktur Utama, Anniesa sebagai Direktur, dan Kiki Hasibuan sebagai Komisaris Keuangan,” pungkasnya. (rub/dtc/sat/JPC)

 

You may also read!

kegiatan sosial nurhasyim

Nurhasyim Bagikan 500 Paket Sembako

BERBAGI : Anggota DPRD Kota Depok, Nurhasyim menyerahkan bantuan paket sembako kepada warga. Kegiatan tersebut

Read More...
pintu tol cikarang utama

1.181 Kendaraan Putar Balik Imbas dari Larangan Mudik

ISTIMEWA   RADARDEPOK.COM, JAKARTA - Hari pertama pemberlakukan larangan mudik yang berimbas pada penyekatan pintu tol, memaksa

Read More...
ahmad sudah kembali ke banten

Sendirian di Kalimulya, Kini Ahmad Bersama Keluarganya di Banten

PKK PEDULI : Ketua PKK Kalimulya Aning Sulistyowati bersama Lurah Kalimulya Nandang Juhana bersama seluruh

Read More...

Mobile Sliding Menu