Beranda Metropolis Alami Penculikan di Orde Baru

Alami Penculikan di Orde Baru

0
Alami Penculikan di Orde Baru
INDRA SIREGAR / RADAR DEPOK BERCOCOK TANAM : Dion sedang membersihkan tanaman di sekitar rumahnya
INDRA SIREGAR / RADAR DEPOK
BERCOCOK TANAM : Dion sedang membersihkan tanaman di sekitar rumahnya

Masa transisi Pemerintahan Indonesia dari Orde Baru hingga Reformasi, memang sudah bukan menjadi rahasia umum lagi. Apalagi, bila dibumbui dengan konflik dan kejadian memilukan dalam perjalananya. Seorang warga Kelurahan Mekarsari, Cimanggis, Dion Fernandes menjadi saksi betapa kerasnya kehidupan transisi tersebut.

LAPORAN : INDRA ABERTNEGO SIREGAR

Di pos kecil berwarna merah yang tak jauh dari pintu masuk utama Perumahan Bank Bumi Daya (BBD) Mekarsari Cimangis. Pria berkulit sawo matang dengan bobot tak begitu besar sedang duduk sambil merenung. Ya sebut saja, Dion Fernandes.

Kepada Radar Depok, pria berusia setengah abad lebih itu mengaku, pernah menjadi korban keganasan Orde Baru saat menjadi pengurus partai berlambang Banteng Moncong Putih sekitar tahun 1997 silam. “Pada saat itu saya merupakan Wakil Ketua Koordinator Desa (Koordes ) di Senen, Jakarta,” ungkapnya, Rabu (20/6).

Di suatu malam pada saat dia sedang makan nasi goreng di sekitar kantor partainya. Dia disergap orang tak dikenal, dan langsung dimasukan kedalam sebuah mobil Jeep berwarna hijau tua. “Yang jemput saya pakai baju preman, sempat menanyakan nama saya dan saya jawab. Seketika kepala saya ditutup sehingga tak bisa melihat dan tangan di borgol,” terangnya.

Secara tiba – tiba, air mata Dion mengucur deras, matanya yang masih putih seketika memerah sembari tertahan dan membasuh wajahnya. “Maaf, saya selalu emosional ketika mengenang kejadian itu,” ujarnya.

Setelah bisa menenangkan diri, dia kembali melanjutkan kisahnya. Di dalam mobil dia di introgasi oleh orang yang dia sebut penculik. Namun, dia sadar bukan hanya dia yang menjadi korban penculikan di dalam mobil tersebut, ada beberapa orang juga yang menjadi korban.

“Saya mendengar rintihan dari korban penculikan yang lainya, ada seperti suara wanita juga pria. Saya perkirakan di dalam mobil ada 3 atau empat korban termasuk saya,” ceritanya.

Selama diperjalananan dia diinterogasi oleh penculiknya, sambil dianiayaya dengan hantaman popor senjata di wajah dan juga tendangan kearah badanya. “Saya hanya boleh bersuara untuk menjawab pertanyaan penculiknya, selain itu saya harus diam,” ungkapnya.

Dion memperkirakan, dibawa berputar-putar di dalam mobil sambil mata tertutup selama empat jam kearah laut. Karena di satu titik dia merasa mencium aroma air laut. Dia memperkirakan kemungkinan dirinya dibawa ke Pelabuhan Merak.

“Dalam perjalanan saya ditanya saya di partai sebagai aktivis atau pengurus, saya jawab pengurus lalu saya kembali dipukul. Saya ditanya lagi tau partai komunis atau tidak, saya jawab tidak tahu lalu saya dipukul lagi. Terakhir penculik tersebut berkata, kamu akan mati, seketika saya kencing di celana dan pingsan,” ucapnya.(bersambung)