Beranda Utama Hikmah Idul Fitri dan Refleksi Islam Nusantara

Hikmah Idul Fitri dan Refleksi Islam Nusantara

0
Hikmah Idul Fitri dan Refleksi Islam Nusantara
Ust. Zaimul Haq, M.Ag (Anggota JQH NU Depok)
FOTO: Ust. Zaimul Haq, M.Ag, Anggota JQH NU Depok

Oleh: Ust. Zaimul Haq, M. Ag

(Anggota JQH NU Depok)

Tidak terasa setelah sebulan lamanya umat Islam berlomba-lomba dalam beramal saleh di bulan Ramadhan, tiba saatnya sekarang umat Islam sampai kepada bulan Syawal, di mana di dalamnya banyak sekali tradisi budaya melebur dengan ajaran Islam di Indonesia pada khususnya, seperti berziarah kubur ke makam keluarga, saling berkunjung ke sanak saudara untuk saling silaturahim, berkirim makanan khas lebaran kepada tetangga dan saudara dan tradisi-tradisi lainnya. Inilah yang kemudian dikenal dengan istilah Islam Nusantara.

Bagi Quraish Shihab, istilah “Islam Nusantara” bisa saja diperselisihkan. Terlepas setuju atau tidaknya dengan istilah tersebut, ia lebih terfokus pada substansi substansi ajaran Islam.

Islam pertama turun di Makkah lalu tersebar ke Madinah dan ke daerah-daerah lain, seperti Yaman, Mesir, Irak, India, Pakistan, Indonesia dan seluruh dunia. Islam yang menyebar itu bertemu dengan budaya setempat.

Pada mulanya, Islam di Makkah bertemu dengan budaya Makkah dan sekitarnya. Akulturasi antara budaya dan agama ini—sebagaimana di tempat lain kemudian—oleh Islam dibagi menjadi tiga.

Pertama, adakalanya Islam menolak budaya setempat. Quraish Shihab mencontohkan budaya perkawinan di Makkah. Kala itu ada banyak cara seseorang menikah. Salah satunya, terlebih dahulu perempuan berhubungan seks dengan 10 laki-laki lalu kalau hamil, si perempuan bebas memilih satu dari mereka sebagai suaminya.

Ada kalanya juga dengan cara perzinaan yang diterima masyarakat kala itu. Dan, ada lagi pernikahan melalui lamaran, pembayaran mahar, persetujuan dua keluarga. Nah, yang terakhir inilah yang disetujui Islam, sedangkan budaya perkawinan lainnya ditolak. Ini pula yang dipraktikkan Rasulullah SAW ketika menikahi Khadijah RA.

Kedua, Islam merevisi budaya yang telah ada. Lebih lanjut,  Quraish Shihab memberi contoh, sejak dahulu sebelum Islam orang Makkah sudah melakukan thawaf (ritual mengelilingi Kakbah). Namun, kaum perempuan ketika thawaf tanpa busana. Alasan mereka karena harus suci, kalau mengenakan pakaian bisa jadi tidak suci, maka mereka menghadap Tuhannya dengan apa adanya alias “telanjang”.

Kemudian Islam datang tetap mentradisikan thawaf akan tetapi merevisinya dengan harus berpakaian suci dan bersih, serta ada pakaian ihram bagi yang menjalankan haji dan umrah.

Ketiga, Islam hadir menyetujui budaya yang telah ada tanpa menolak dan tanpa merevisinya. Seperti budaya pakaian orang-orang Arab, yang lelaki mengenakan jubah dan perempuan berjilbab. Oleh Islam budaya ini diterima. Alhasil, kesimpulannya ialah jika ada budaya yang bertentangan dengan Islam maka ditolak atau direvisi, dan jika sejalan maka diterima. Inilah prinsip Islam dalam beradaptasi dengan budaya.

Salah satu contoh akulturasi yang diterima pada bulan Syawal ini ada sebagimana tradisi saling memaaf-maafkan yang juga diajarkan dalam Al-Qur’an surah Ali-Imran ayat 134, juga di banyak ayat-ayat lainnya. Jadi Islam itu bisa bermacam-macam akibat keragaman budaya setempat. Bahkan adat, kebiasaan dan budaya bisa menjadi salah satu sumber penetapan hukum Islam.

Melihat pemaparan di atas, kita bisa menilai, jika memang ada budaya di bumi Nusantara yang bertentangan dengan Islam maka dengan tegas kita harus menolaknya seperti memuja pohon dan benda keramat, atau meluruskannya seperti tradisi sedekah bumi yang semula bertujuan menyajikan sesajen untuk para danyang diubah menjadi ritual tasyakuran dan sedekah fakir miskin

Dan, jika ada budaya yang sesuai dengan syariat Islam maka kita terima dengan lapang dada, seperti ziarah kubur dalam rangka mendoakan si mayit, meneladaninya serta dzikrul maut. (*)