Beranda Metropolis Jaksa Hadirkan 10 Saksi Rasuah RTLH Depok

Jaksa Hadirkan 10 Saksi Rasuah RTLH Depok

0

DEPOK – Sidang korupsi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di Kelurahan Sukamaju, Cilodong akan dilanjutkan Senin (25/6).  Rencananya, Kejaksaan Negeri Kota Depok (Kejari Depok) akan membawa 10 saksi ke Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Bandung.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Depok, Tohom Hasiolan mengatakan, dalam lanjutan sidang kasus korupsi RTLH di Kelurahan Sukamaju, Cilodong agendanya masih pembacaan saksi yang dibawakan oleh JPU.

Tohom mengatakan, akan mengajak 10 saksi yang akan memberatkan tersangka Koruptor RTLH di Kelurahan Sukamaju, Cilodong. “Kami akan mengajak 10 orang saksi dari penerima manfaat di Kelurahan Sukamaju, Cilodong,” kata Tohom kepada Harian Radar Depok, kemarin.

Dia berharap, agar saksi mau mengatakan yang sejujurnya terkait pemangkasan anggaran yang telah ditetapkan pemerintah. Selain itu, dia juga mengatakan Agustina juga tidak memiliki SK untuk mengelola anggaran renovasi RTLH di Kelurahan Sukamaju, Cilodong.

Sementara sebelumnya, telah diberitakan salah satu tersangka korupsi RTLH, Agustina Tri Handayani tidak memiliki Surak Keputisan (SK), dari Camat Cilodong dan Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Cilodong.

Dalam kesaksian sebelumnya, saat menghadirkan saksi Camat Cilodong, Mulyadi, dan Sekcam Cilodong, Sumarna, kenapa Agustina bisa ditunjuk sebagai kordinator kegiatan pembangunan RTLH pokok pikiran (Pokir) dewan.

Dari fakta persidangan disebutkan, kata Tohom ternyata Agustina tidak memiliki SK atau tidak ada pengangkatan resmi dari camat ataupun lurah untuk mengelola dana RTLH. “Kenapa bisa jadi koordinator, kan dia tidak ada dalam struktur LPM,” tegas Tohom.

Selian itu, dia mengatakan saat pembuatan proposal pencairan juga bermasalah, proposal dibuat oleh ketiga terdakwa. “Seharusnya pembuatan proposal dibuat oleh penerima manfaat,” ucap Tohom.

Ada juga pengumpulan dana bantuan yang dihimpun terdakwa Agustina dari para penerima manfaat. “Informasi dari masyarakat ada dilakukan pemotongan, tapi besaran pastinya tidak mengetahui,” kata Tohom.

Menurutnya, kedua saksi juga pernah diperiksa tim Inspektorat Daerah Kota Depok di kantor Kejaksaan pada saat tahap penyidikan. (rub)